
Gunting pita sebagai tanda peresmian dibuka nya toko kue dengan nama Amira Bakery itu sudah tiba. Di tempat itu, ada mertua Darius dan keluarga besar Darius itu sendiri. Mertua Darius, Pak Amirul menghadiri undangan dari menantunya itu kerena desakan dari putrinya, Amira. Akhirnya Pak Amirul datang bersama dengan istrinya, Bu Mega.
Pak Djarot dengan Bu Maya dengan senyum sumringah menyambut beberapa kolega dan rekan-rekan bisnisnya. Pak Djarot dan Bu Maya menyambut baik dan ramah kedatangan besan nya yaitu Pak Amirul bersama istrinya Bu Mega.
Betapa kebahagiaan terpancar dari wajah Darius bersama dengan Amira. Di sana juga ada Taman, sahabat Darius yang datang sendiri di tempat itu. Rencananya Darius akan mengajak Yaman untuk bekerja di toko kue itu dan akan menempatkan Yaman di bagian pemasaran dan pengiklanan. Banyak kenalan Yaman di beberapa kalangan akan menguntungkan tingkat pemasaran untuk produk kue-kue. Sehingga bisa menjaring pembeli di beberapa kalangan baik menengah, maunya atas dengan harga yang bisa disesuaikan.
"Selamat yah, Darius! Wah aku semakin bangga dengan kamu! Kamu akhirnya bisa mandiri dan berdiri sendiri," kata Yaman.
"Tidak, tidak! Ini semuanya masih campur tangan kedua orang tuaku. Aku hanya menjalankan saja, usaha ini. Dan semua ini juga karena istri kesayangan aku ini, Amira," kata Darius seraya menggandeng pinggang Amira dengan mesra. Amira tersenyum.
"Mas Darius selalu merendah, Yaman! Dia selalu saja memuji aku, padahal aku tidak ada ikut campur dalam mengurus toko kue ini," kata Amira.
"Eh, Yaman! Tadi ada Desti kemari dengan rekan bisnis papaku loh," bisik Darius. Yaman mengerutkan dahinya.
"Benarkah? Laki-laki atau perempuan?" sahut Yaman.
"Tentu saja seorang laki-laki yang terlihat mentereng dan berwibawa. Datangnya saja satu mobil bersama laki-laki itu. Tapi soal tampang dan muda nya, tetap kalah jauh dari kamu, Yaman. Kamu tetap paling ganteng daripada laki-laki itu," ucap Darius.
"Sekarang ini, laki-laki tampan kalah dengan laki-laki yang berduit," sahut Yaman.
"Halah! Sejak kapan kamu menjadi minder seperti ini, hem?" kata Darius.
__ADS_1
"Buktinya Desti meninggalkan aku, demi laki-laki itu! Mungkin saja aku tidak bisa memberikan kebahagiaan itu pada Desti. Di saat aku terpuruk dan jatuh bangkrut, Desti meninggalkan aku dan mencari laki-laki lain yang lebih mapan dan bisa mensejahterakan hidup nya," kata Yaman.
"Eh, kok jadi cerita sedih sih? Sudahlah, lupakan saja! Ayo lihatlah di tempat ini banyak gadis-gadis belia yang cantik. Karyawan ku juga banyak nih, Yaman. Kamu bisa pilih salah satu dari mereka semua," kata Darius.
"Kamu ini aneh! Zaman sekarang laki-laki harus ada modal dulu untuk mendapatkan wanita. Jika seorang laki-laki sudah mapan dan memiliki semua nya, mereka akan mendatangi laki-laki itu. Bagaimana dengan aku yang masih kere ini mau mendekat wanita-wanita itu, jika aku belum mendapatkan modal untuk menyenangkan mereka dengan mengajaknya makan malam bersama. Ke tempat hiburan, nonton film di XXI dan mengajaknya shopping. Nah itu semua pakai uang, Darius!" jelas Yaman.
"Baiklah! Setelah ini kamu gabung bersama aku mengelola bisnis ini, yah! Bagaimana?" ajak Darius.
"Baiklah, kalau kamu mempercayai aku dan juga memaksa aku," sahut Yaman. Darius memeluk lengan Yaman selayaknya sebagai sahabat.
🍀🍀🍀🍀🍀
"Mas Yaman! Apakah mas Yaman melihat aku menghadiri peresmian Amira bakery ini?" pikir Desti.
"Ada apa sayang?" tanya seorang laki-laki di samping Desti, sebut saja Krisna.
"Tidak ada apa-apa, mas!" sahut Desti.
"Ya sudah, bagaimana kalau kita kembali ke kantor dulu jika kamu sudah tidak nyaman di tempat ini," ajak Krisna kepada Desti.
"Baiklah! Sepertinya karena tidak banyak yang aku kenal di tempat ini, makanya aku menjadi mudah bosan," ucap Desti bohong. Krisna mengajak Desti keluar dari toko kue itu dan segera menuju parkiran mobilnya. Namun sebelum mereka pulang, Krisna permisi dengan pak Djarot dengan bu Maya. Tidak lupa memberikan selamat kepada Darius beserta istrinya, Amira atas peresmian usaha barunya itu. Darius dan Amira menjadi tahu siapa laki-laki yang dekat dengan Desti, mantan istri dari Yaman sekarang ini.
__ADS_1
"Ternyata Krisna, laki-laki yang dekat dengan Desti selama ini. Krisna lah yang menyebabkan perceraian antara Desti dengan Yaman terjadi," ucap Darius.
"Entahlah, mas! Kita juga tidak tahu pasti masalah perceraian antara Desti dan Yaman dipicu karena apa. Kita hanya mendengar salah satu pihak saja yaitu dari cerita Yaman. Bagaimana dengan cerita Desti, mungkin saja berbeda," sahut Amira.
"Wah, istri cantik ku ini sekarang semakin hari semakin bijaksana! Aku kok tidak kepikiran soal itu yah!" kata Darius.
"Nah! Makanya jangan suka menghakimi seseorang kalau kita tidak tahu jelas permasalahan kedua belah pihak. Mana tahu, si Desti ini kekurangan nafkah baik lahir maupun batin dari Yaman," kata Amira. Darius kembali terkekeh kalau mengingat nafkah batin itu sendiri.
"Hem, apa mungkin Yaman tidak bisa memuaskan istrinya?" bisik Darius. Amira hanya nyengir kuda.
"Entahlah! Tanya saja sendiri pada sahabat kamu itu!" sahut Amira. Darius terkekeh dibuatnya.
"Soal nafkah batin, aku sudah bisa memuaskan kamu kan sayang?" bisik Darius kembali.
"Lebih dari cukup, mas!" sahut Amira sambil mencubit pinggang Darius karena gemas.
🍀🍀🍀🍀
Mobil Krisna kini telah membawa Desti meninggalkan Amira Bakery. Dengan perasaan lega, Desti akhirnya bisa meninggalkan tempat itu. Sebenarnya bukan lantaran tempat itu yang membuat sesak dan sulit bernafas Desti. Namun di tempat itu Desti melihat Yaman, mantan suaminya. Di mana ketika melihat mantan suaminya itu, hati Desti teriris pilu. Sebenarnya Desti tidak akan sanggup dan tega jika bertemu dengan Yaman. Apalagi harus menatap raut wajah Yaman yang sangat sedih dan kecewa saat perceraian itu terjadi.
Pernikahan Desti dengan Yaman akhirnya berakhir sudah. Sebenarnya bukan karena Desti melakukan perselingkuhan itu. Namun ada hal yang lain yang sangat fatal dalam hubungan rumah tangga khususnya suami istri. Dan alasan perselingkuhan itu hanyalah sebagai alasan supaya Yaman mau melepaskan dan menceraikan Desti dengan api kemarahan nya,
__ADS_1