SUAMI TAK DI ANGGAP

SUAMI TAK DI ANGGAP
PENOLAKAN


__ADS_3

Setelah teman-teman Amira pulang, kini menyisakan Amira dan Darius di rumah besar bak istana itu. Rumah yang sangat sepi hanya dihuni oleh mereka berdua. Bahkan asisten rumah tangga pun sudah tidak ada satupun di rumah itu. Darius membereskan cangkir-cangkir dan juga semua barang-barang yang masih di atas meja ruang tamu tadi. Di meja makan pun telah Darius bersihkan karena tadi juga semuanya makan malam bersama walaupun menu makan malam sebagian besar adalah delivery. Namun Darius tetap memasakkan makanan untuk makan malam untuk dirinya beserta istrinya. Setelah nya mencuci cangkir-cangkir, piring-piring dan juga gelas kotor yang ada di tempat cuci piring di dapur.


"Sudah selesai semua kerjaan. Kini aku tinggal mendatangi istri aku," gumam Darius dengan senyuman nakalnya. Pikiran nya sudah traveling menghayal pergulatan nya bersama sang istri. Namun ketika masuk ke dalam kamar utamanya, Darius tidak mendapati sang istri di dalam kamarnya.


"Loh, dimana Amira?" gumam Darius mencari Amira di dalam kamarnya. Kini matanya tertuju pada pintu kamar mandi yang masih tertutup. Darius kembali tersenyum lalu mulai melepaskan kaos oblongnya dan celananya. Kini menyisakan boxer nya saja. Darius menjatuhkan tubuh nya ke atas kasur empuk nya. Kini kembali menghayal indah bersama dengan istrinya yang berbadan wangi kalau setelah mandi.


Amira keluar dari kamar mandi itu sudah mengenakan pakaian tidur nya. Namun bukan lingerie yang di khayal kan dalam pikiran Darius.

__ADS_1


"Capek banget hari ini, mas!" keluh Amira lalu mulai merebahkan tubuh nya di samping Darius. Darius mendekati Amira dan mencoba memeluk Amira. Namun Amira menepisnya dan sedikit mendorong tubuh Darius.


"Aku lelah, mas! Besok harus bangun pagi. Ada jadwal meeting dan ketemu beberapa klien di luar kantor," kata Amira seolah menolak Darius untuk meminta haknya. Darius menarik nafasnya dalam-dalam. Dia harus menerima kekecewaan malam ini. Padahal dirinya sudah berharap akan bergumul dengan istrinya, Amira. Namun ternyata Amira telah menolak dirinya. Kembali Darius mendekati Amira dan mencoba mengganggu nya. Bahkan Darius mulai Mengendus-endus bagian leher Amira yang terbuka lantaran kini rambut Amira dipotong pendek. Amira menggeser tubuh nya mencoba menjauh dari Darius. Namun Darius nekat memeluk dan mendekap Amira. Sampai akhirnya Amira melebarkan matanya.


"Mas Darius! Aku ingin tidur dan beristirahat! Kenapa tidak mengerti juga sih?" ucap Amira dengan suara yang meninggi. Darius ikut terpancing emosinya lantaran mata lebar Amira seperti hendak memangsa Darius.


"Tidak! Aku mau tidur!" teriak Amira. Amira kini mengambil guling nya dan bergegas turun dari tempat tidur itu dan mencoba menjauhi dari Darius yang seperti anak kecil memohon minta es krim. Darius menatap Amira yang berusaha menghindar.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak mau mengerti juga, aku mau tidur di luar! Di kamar tamu saja!" ucap Amira lalu benar-benar turun dari tempat tidur itu dan melangkahkan keluar dari kamar utama mereka berdua. Kembali Darius menelan air liurnya sendiri. Darius menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menahan setiap hasrat dan emosinya yang tidak mau ia luapkan.


"Amira!" panggil lirih Darius ketika Amira menutup pintu kamar utama mereka dengan sangat keras. Darius tidak menyangka kalau malam ini dirinya harus menerima penolakan dari Amira dalam hubungan badan di atas ranjang.


Darius segera turun dan masuk ke kamar mandi. Dia harus menuntaskan sesuatu yang meledak-ledak dalam dirinya. Hasrat nya harus ia tumpahkan walaupun dengan bantuan busa sabun mandi. Itu akan cukup membuat dirinya lega untuk mendapatkan kepuasan nya.


"Ah, Amira! Mungkin dia sangat lelah hari ini!" gumam Darius.

__ADS_1


__ADS_2