
Gelap malam dengan bertaburan bintang-bintang. Angin malam berhembus dan kini menerobos di celah lubang ventilasi. Jalanan sudah lenggang karena manusia-manusia pejuang recehan sudah melindungi tubuh nya dari dingin cuaca dibalik selimut nya. Kembali pulang bercengkrama dengan keluarga kecilnya. Berbicara dan bercerita tentang perjalanan yang sudah dilaluinya seharian ini dalam kepayahan dan himpitan emosi yang tertahan.
Krisna bahkan sudah berada di dalam rumah Desti sedang memasakkan mie kuah pedas untuk wanita kesayangannya. Bukan Desti yang menyuruhnya, namun kemauannya Krisna sendiri untuk memberikan perhatian lebih pada kesayangan. Sedangkan Desti kini masih bermain di depan layar laptopnya. Hingga bau mie kuah yang menggugah selera kini masuk ke seluruh ruangan. Desti mencium aroma makanan itu yang mulai membangkitkan seleranya untuk memakannya. Benar saja! Tidak lama kemudian Krisna tiba dengan membawa Dua mangkok mie kuah ala Krisna.
"Halo sayang! Lihat dan rasakan hasil masakan aku! Kalau tidak enak jangan dicaci! Kalau mie kuah ini lezat jangan menyuruhku untuk berjualan mie, yah sayang," kelakar Krisna sambil meletakkan Dua mangkok mie kuah buatannya.
"Wow seperti nya ini enak! Telor ceplok di atasnya lalu ada sawi hijau di dalamnya. Dipadu dengan cabe rawit dan saos pedas. Wah benarkah ini hasil masakan kamu, Krisna?" ucap Desti.
"Tentu saja, sayang! Bukankah kamu sudah lihat sendiri? Hampir satu jam aku sibuk di dapur buat makanan spesial ini?" sahut Krisna lalu mengambil mangkok mie kuah nya.
"Sluuurppppp! Wah ini benar-benar lezat!" puji Krisna sendiri. Desti yang melihat Krisna memakan mie kuahnya sampai berbunyi seperti itu tersenyum saja.
"Enak yah! Baiklah aku akan mencobanya!" kata Desti lalu menutup laptopnya.
Desti mulai mencicipi sedikit kuah mie itu. Matanya sedikit melebar sempurna.
"Krisna! Ini enak sekali! Wah aku tidak menyangka jika kamu pinter memasak. Kenapa tidak menjadi aktor saja," kata Desti. Krisna mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Kamu sedang memuji aku atau meledek sih, sayang? Apa hubungannya memasak dengan menjadi aktor, hem?" sahut Krisna sambil menarik pipi Desti gemas.
"Iya, seperti chief di televisi itu kan pada akhirnya mereka menjadi aktor. Memasak hanya sekedar nya saja," nilai Desti. Krisna mulai fokus menghabiskan mie kuahnya. Desti juga tidak kalah berlomba memakan mie kuah itu.
"Sudah cukup aku, Kris!" kata Desti yang akhirnya meletakkan kembali mangkok mie kuah buatan Krisna di atas meja. Mie kuah itu masih belum habis dan ada setengahnya.
"Kenapa tidak dihabiskan? Katanya enak?" protes Krisna.
"Pedes banget, Krisna!" sahut Desti.
"Kenyang!" ucap Krisna. Desti tersenyum saat melihat Krisna sudah mengusap mulutnya dengan tisu.
Krisna membawa kedua mangkok bekas mie kuah itu ke belakang. Dan kembali lagi duduk setelah membereskan semuanya.
"Kamu tidak pulang, Kris? Sudah semakin larut malam. Dan aku pun mau istirahat dan tidur," kata Desti. Krisna membulat sempurna bola matanya menatap Desti yang seolah-olah ingin mengusirnya.
"Ya ampun kejam sekali kamu, Desti! Baru juga habis makan, kamu mau mengusir aku sih!" protes Krisna dengan bibir yang manyun hampir lima sentimeter.
__ADS_1
"Bukan begitu, Krisna! Nanti kalau kemalaman nanti kamu alasan malas pulang dan akhirnya tidur di sini. Nanti ada warga yang menggerebek kita, memangnya kamu mau menikahi aku?" kata Desti.
"Loh memang itu kan yang aku inginkan dari kemarin. Ayo besok kita menikah dan tidak perlu menunggu warga di perumahan ini menggerebek kita," sahut Krisna. Desti kemakan omongan nya sendiri.
"Eh?? Ya sudahlah kamu lebih baik pulang, Krisna! Aku mau bobok!" kata Desti kembali mendorong tubuh Krisna hingga sampai di depan pintu rumah nya. Namun Krisna menahan tangan Desti dan membawanya kedalam pelukan nya.
"Menikah dengan aku, Desti! Aku serius sayang! Aku tidak ingin membiarkan kamu lama-lama sendiri di rumah ini. Aku ingin menemani kamu dan mendampingi kamu, sayang! Kamu mau kan?" kata Krisna.
"Aku mau, Krisna! Tapi jangan secepat ini! Bagaimana kalau satu tahun lagi kita baru menikah?" sahut Desti sambil mengedipkan matanya.
"What? Oh no! Jangan Desti! Aku tidak akan sanggup berpuasa selama itu! Dua hari lagi kita menikah yah, sayang! Kita akan buat anak yang banyak dan buat rumah kita menjadi ramai dan tidak sepi seperti saat ini," ucap Krisna.
"Di rumahku memang sepi! Di rumah kamu, Kris? Ada banyak pembantu kan?" sahut Desti. Krisna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudahlah, pokoknya aku tidak mau tahu! Lusa kita menikah! Oke?" ucap Krisna.
"Krisna!" gumam Desti akhirnya menyerah juga.
__ADS_1