SUAMI TAK DI ANGGAP

SUAMI TAK DI ANGGAP
AKHIRNYA TIDAK TEGA JUGA


__ADS_3

"Mama, papa! Aku akan membuatkan minuman buat papa mama yah!" kata Darius. Bu Maya dan Pak Djarot saling pandang. Sedangkan Darius dengan cuek berjalan menuju ke belakang rumah tepatnya di bagian dapur untuk membuatkan minuman untuk papa mama nya.


"Rumah sebesar ini apa tidak ada satupun asisten rumah tangga? Istri Darius ini sangat pelit mengatur keuangan," omel bu Maya. Pak Djarot menarik nafasnya dalam-dalam.


"Mungkin keuangan Darius benar-benar memprihatinkan, ma! Darius sudah lama tidak bekerja di perusahaan kita. Darius pasti menderita dan kesulitan dalam keuangan," sahut Pak Djarot. Bu Maya mendengus kesal.


"Tapi istrinya, Maya kan juga masih bekerja. Orang tuanya masih mempercayai Amira untuk bekerja di perusahaan nya. Apakah tidak bisa menggaji satu pembantu saja. Aku rasa pasti anak kita diperbudak oleh nya," tuduh Bu Maya tanpa bukti.


"Sebenarnya kita juga bersalah dalam hal ini, ma! Kenapa kita juga menjadi mengancam anak kita. Jika tetap menikah dengan Amira, maka Darius tidak boleh bekerja kembali di perusahaan. Di tambah beberapa aset Darius pemberian kita, kita tarik semua nya. Aku juga jadi menyesal jika melihat anak kita menjadi gembel seperti ini," kata pak Djarot mendramatisir keadaan.

__ADS_1


"Papa, Darius masih hidup layak di sini kok dibilang gembel sih, pa!" protes bu Maya.


Darius tiba dengan membawa nampan yang berisikan tiga cangkir teh manis hangat beserta kue bolu buatannya.


"Mama, papa ayo di minum teh nya! Ini juga ada kue bolu buatan aku sendiri. Semalam aku buat bolu ini, dengan melihat di YouTube. Mama harus mencobanya," ucap Darius dengan membanggakan dirinya. Bu Maya mengambil potongan bolu itu dari piring yang disajikan oleh Darius. Bu Maya mulai mencicipinya. Pak Djarot pun ikut mengambil potongan kue itu lalu dengan lahap memakannya.


Pak Djarot tidak mungkin menarik kembali ucapannya kalau Darius menikah dengan Amira, Darius tidak akan bekerja lagi di perusahaan keluarganya. Bu Maya berbinar matanya mendengar ide yang cemerlang dari suaminya tersebut.


"Wah keren papa! Mama juga setuju dengan ide papa, Jadi setiap ada acara-acara kita bisa manfaatkan toko kue milik Darius nanti. Dari kue ulang tahun sampai kue-kue kecil, snack untuk acara-acara. Wah ini prospek yang sangat menjanjikan sekali, pa! Mama sangat mendukung!" sahut mama Maya antusias. Darius melongo dengan kehebohan papa mama nya.

__ADS_1


"Tapi, apa aku sanggup mengelola toko kue seperti itu, pa?" sahut Darius seperti meragukan kemampuan nya.


"Papa sangat yakin kamu bisa! Dengan bakat kamu di bidang ekonomi baik cara pemasaran dan marketing, papa rasa kamu akan berhasil di bidang ini, nak! Ayo, sekarang ikut papa dan mama. Papa akan mengajak kamu mencari lokasi yang strategis untuk toko kue itu. Setelah itu papa akan mencari koki dan beberapa pegawai untuk mengelola toko kue tersebut. Dan kamu tinggal menjalankan bisnis itu supaya lebih maju dan memiliki banyak cabang di kota maupun di luar kota," ujar Pak Djarot bersemangat.


Darius kali ini nurut saja apa kata papa nya. Saat ini Darius sudah buntu dan tidak memiliki pekerjaan. Dia harus bekerja dan mendapatkan penghasilan walaupun tidak harus bekerja kembali di perusahaan papa nya.


"Aku tahu, papa tidak mungkin mengajak aku kembali bekerja di perusahaan. Aku sangat paham sifat papa yang tidak akan pernah menarik kata-katanya sampai kapanpun," pikir Darius.


"Terimakasih, papa! Terimakasih mama!" ucap Darius memeluk papa mama nya secara bergantian. Ada tangis keharuan pada Pak Djarot namun dia tidak ingin menunjukkan nya. Pak Djarot hanya ingin menjadikan Darius mandiri dan bisa berdiri sendiri walaupun modal awal Pak Djarot sendiri yang memberikannya.

__ADS_1


__ADS_2