
Deanra menyadari ada yang tak beres dengan suaminya. Melihat Ares yang terdiam tanpa menjawab pertanyaannya membuat ia menatap pria itu dengan bingung.
"Kau... Kau kenapa?" Tak ada jawaban, Ares hanya terdiam sambil meremas kuat tangannya sebelah kiri.
"Are you okey, Ares?" Masih mencoba bertanya, tapi reaksi Ares semakin membuat dirinya cemas.
Seakan tersadar dengan perbuatannya, Deanra segera mendekat. Menarik tangan suaminya, tapi seberapa keras berusaha tetap saja tak berhasil. Akhirnya ia terpaksa ia berlari keluar untuk mencari seseorang yang bisa membantunya.
Tepat saat ia membuka pintu, Aisyah juga sedang berdiri di luar kamar yang bersiap untuk mengantarkan makanan untuk anak menantunya. Melihat Deanra yang kawatir, wanita paruh baya itu langsung bertanya dengan cemas.
"Ada apa, Nak?"
"Tante... Itu... Ares aneh, dia bersikap aneh...," Deanra berkata dengan terbata-bata, bingung juga ia ingin menjelaskannya bagaimana.
Aisyah segera masuk kedalam kamar mereka. Terkejut melihat anaknya yang seperti menahan sesuatu, setelah meletakkan makanan yang dia bawa segera ia menghampiri Aras.
"Aras... Nak, ayo tenang." Aisyah mencoba membujuk anaknya dengan lembut, seperti biasanya jika mendengar perkataan ibunya Aras akan bersikap melembut.
Tubuhnya mulai melunak, tak. Tapi tak sepenuhnya. Ares masih menunduk dengan tubuh tegang, membuat Aisyah dan juga deanra semakin merasa kawatir. Deanra tak berani menyentuhnya, ia bahkan telah mengambil jarak aman dari sang suami. Takut bila-bila dia kehilangan kendali dan menerjang, maka ia akan dengan langkah seribu akan lari duluan keluar.
__ADS_1
"Tante, apa sebaiknya aku panggil Om Abi?"
"Tidak usah," Aisyah tak ingin membuat suasana bahagia diluar akan kacau, "Suamimu tidak apa-apa, mungkin dia hanya capek dan terbawa emosi. Sekarang kamu makanan lah, dan tolong bantu Suamimu juga. Bunda keluar dulu," Aisyah ingin beranjak keluar, ingin membiarkan anak dan menantunya untuk bisa beristirahat dan memiliki waktu berdua saja.
"Tapi... Apa tidak akan apa-apa, Tante?" Deanra berucap ragu. Ia bahkan tak tahu apa yang terjadi, dan sekarang malah disuruh untuk menjaga pria ini. Ia merasa hidupnya seperti dalam bahaya.
"Dia tidak akan menyakiti mu, Bunda janji itu. Dan satu lagi...," Aisyah mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya. Sebuah obat yang tiba-tiba ia serahkan ke tangan Deanra, "setelah dia makan tolong kasih dia minum obat itu, ya? Setelah itu pasti dia akan tertidur pulas."
Denara merasa tercekat. Setelah Aisyah berlalu ia menatap obat yang ada diatasnya, dan setelah melirik botol kecil itu ia dapat mengetahui apa fungsinya. Obat penenang?
Apa suaminya gila?
Itu tidak benar. Manggala bilang Ares hanya menderita Autisme ringan, bukankah itu tak akan masalah. Hanya bersikap pendiam, susah bergaul dan tak suka berinvestasi dengan orang baru. Tapi kenapa ada cerita sampai menyakiti dirinya sendiri?
Dengan sedikit menguatkan dirinya, Deanra mencoba mendekati Ares dengan pelan. Duduk dengan tenang disampingnya, lalu mencoba menyentuh tangan pria itu dengan lembut.
Saat tangan itu bisa ia tarik, matanya terbelalak tak percaya melihat bekas kuku yang sempat menancap disana. Cukup dalam, dan bahkan telah mengeluarkan darah, melihat itu Deanra meringis kecil. Benar-benar bersikap diluar batas, pikirnya.
Sepertinya setelah ini ia harus menjaga ucapannya agar tak salah bicara, dan membuat pria ini kembali kumat.
__ADS_1
Deanra segera mendekati lemari tempat ia menyimpan obat biasanya, dan setelah ia menemukannya ia segera kembali mendekati suaminya lagi.
"Biar aku obati,"
Ares gak membalas, hanya diam dan menatap Deanra dengan pandang yang rumit. Tangannya tiba-tiba terangkat menggenggam tangan Deanra yang sedang membersihkan lukanya.
Deanra tersentak. Ia menatap mata jernih itu dengan linglung, dan getaran aneh yang tiba-tiba menyeruk dalam hatinya, tapi ia tidak tahu itu apa. Semakin erat gegaman tangan itu, entah mengapa ia merasa semakin hangat.
"Tidak usah obati...," Ares berucap lirih, nyaris tak terdengar.
"Tidak bisa, kamu harus diobati. Bagaimana pun luka ini bisa terinfeksi jika tak di obati," Deanra berucap dengan berusaha melepaskan genggaman tangan Ares padanya.
Menarik nafas panjang, Deanra mulai mengobati luka itu berlahan. Seolah tak ingin menyakitinya, Deanra dengan lembut membelai luka itu dengan pernuh perhatian. Ia merasa heran dengan dirinya sendiri, kenapa ia bisa bersikap seperti ini, padahal dari awal ia sudah berjanji untuk tidak akan peduli dengan apapun yang terjadi. Tapi sekarang baru saja beberapa jam sah menikah, ia sudah mulai bersikap gila seperti ini, benar-benar tak bisa dipercaya.
Dia tidak bisa seperti ini. Bagaimana rasa ini terlalu cepat ia rasa, tak seharusnya ia bersikap begitu lemah dan menyerah pada pernikahan aneh ini.
******
Hay semua... pembaca setiaku.
__ADS_1
Yuk tinggalkan jejak terbaik kalian, biar lebih semangat lagi nulisnya.
VOTE, LUKE END KOMEN juga ya😘