Suami Yang Tak Sempurna

Suami Yang Tak Sempurna
menghindari


__ADS_3

Ares tahu akan seperti apa respons Deanra jika dirinya berkata seperti itu. Tapi dia sudah terlanjur mengatakan rasa cintanya. Dirinya terlalu terhanyut dengan perlakuan lembut dan manis Deanra, sehingga ia tak bisa menahan perasaan bahagia ini.


Dan setelah itu Deanra pergi... Pergi dengan keadaan yang sulit ditebak. Apa dia marah? Atau menjadi benci padanya?


Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Hendra Ares cemas. Haruskah dia menyusul gadis itu keluar? Tapi bagaimana jika dia bertambah marah?


Pertanyaan ini semakin membuat Ares takut. Takut jika tiba-tiba Deanra marah dan pergi meninggalkannya. Ares tertunduk lemah, dia menyesal karena sudah mengatakan perasaannya. Andai saja ia bisa sedikit menunggu mungkin tak akan serumit ini jadinya.


Tapi tak begitu lama pintu kamar kembali terbuka dengan sedikit kasar. Ares tersenyum tipis, ia tahu sebentar lagi istrinya pasti akan marah. Akan ia terima apapun itu, asalkan Deanra tak pergi darinya.


Tapi apa yang dilakukan Deanra selanjutnya membuat Ares membeku. Dia tak siap dengan respons seperti ini, jika begini ia akan semakin mengharap Deanra membalas perasaannya.


“Dean...” Ares Mencoba melepaskan pelukan istrinya, “kamu baik-baik saja?”


Deanra berdesis pelan, “kenapa kamu berkata seperti itu, Ar. Kita harus saja sebentar bersama... Maaf jika responsku buruk, tapi ini terlalu cepat.”


“Kamu tak marah?”


Untuk apa marah? Deanra terkekeh kecil. Dia tak marah, hanya sedikit terkejut saja. Lagi pula bukankah di cintai oleh suami sendiri itu hal yang sangat baik, tak ada alasannya untuk marah sekarang.


“Aku tidak marah. Sudahlah, hentikan pembinaan ini... Ayo kita tidur,”

__ADS_1


Jeda.


Ares seperti tak menemukan jawaban. Deanra tak menerima atau pun menolak kata cinta darinya? Lalu sekarang ia harus apa, apa di kembali bertanya?


Tapi saat dirinya ingin kembali membuka mulut Deanra telah menutup tubuhnya separuh dengan selimut. Saat melihat gadis itu menutup matanya dengan nyaman dia tak ingin mengganggu lagi.


“Selamat tidur, cantik...,” Gumam Ares pelan agar tak di dengar istrinya.


******


Seminggu telah berlalu. Hari makin hari hubungan Deanra dan juga Ares semua dekat. Tapi hubungan Deanra bersama Dilo juga bisa dikatakan tak pernah berakhir.


Setiap hari pria itu selalu datang dengan banyak alasan. Antar makanan? Ajakan jalan-jalan? Dan banyak lagi alasan yang membuat Deanra merasa jengah.


“Ayolah, De. Hanya sebentar saja, karena aku ingin menunjukkan sesuatu untuk mu.”


“Tidak bisa, kak. Maaf, tapi hari ini aku ada janji dengan mertua ku, benar-benar tak bisa pergi.” Deanra sedikit kesal. Dipaksa seperti ini ia benar-benar merasa tak suka.


Saat Deanra ingin bersiap pulang, dan dengan keras kepala Dilo masih saja menunggunya di luar, pakiran mobil. Deanra berdecak, pria itu dari dulu benar-benar tidak pernah berubah, selalu ingin melakukan apapun tanpa mendengar pendapat orang lain.


“Mbak Dila,” Dean memanggil sang karyawannya.

__ADS_1


“Iya, De. Kenapa?”


“Aku cuma mau bilang, mungkin besok gak ke tokoh. Kalau kak Dilo datang suruh pergi saja ya, Mbak. Bilang saja aku gak akan ke toko lagi,”


Dila sedikit terkejut dengan permintaan bosnya, tapi ia juga tak berani bertanya. Tapi dia sedikit heran dengan hubungan dua manusia ini akhir-akhir ini, sudah menjadi mantan tapi masih tetap saling berjumpa.


Apa suami Deanra tak marah?


“Baik, De. Tapi bagaimana cara kamu pulang sekarang? Apa kamu akan ikut dengan permintaan dia seperti biasa?”


Ya biasanya Deanra akan selalu ikut dengan permintaan-permintaan konyol Dilo. Tapi untuk hari ini dia malas, ia merasa jenuh pada hubungan yang aneh ini. Apalagi ditambah dengan masalah dirinya bersama Ares, Deanra merasa semakin pusing lagi.


“Aku enggak tahu Mbak, dia benar-benar keras kepala.”


“Kalau begitu minta jemput Suami Dean saja, dari pada diganggu terus.”


Deanra terkekeh geli mendengar Mbak Dila bilang Dion penganggu, padahal selama dua ini dia juga menikmati kebersamaan mereka. Jadi Dean tak berani berkesimpulan seperti itu.


“Gak bisa, Mbak. Suamiku gak bisa bawa mobil,” Deanra berucap asal. Padahal ia sendiri juga tak tahu bisa atau tidaknya Ares membawa mobil.


Dia juga tak ingin Ares tahu tentang Dilo yang sering datang menemuinya, ada rasa takut jika suaminya yang biasa diam dan manja itu akan marah padanya nanti.

__ADS_1


Pada akhirnya dia hanya bisa menghubungi Manggala. Saat seperti ini ia benar-benar butuh bantuan adiknya itu. Denara sendiri sebenarnya juga tak mengerti kenapa kali ini ia menghindari Dilo.


__ADS_2