
Bolehkah manusia melawan takdir?
jika boleh izinkanlah aku meninggalkan dunia ini dengan restu mu, tuhan.
****
Keraguan yang tak pernah hilang dari hatinya. jarak yang mereka ciptakan berlahan mulai semakin terkikis dengan seiringnya waktu yang terus berlanjut.
Waktu dan syarat yang diberikan oleh Ares membuat Deanra menyadari apa artinya sebuah kata istri. Meskipun dia tak bisa bilang cinta, tapi ia mencoba belajar untuk bersikap selayaknya seorang istri pada suaminya.
"Kamu sudah makan?" Dean keluar dari kamar mandi setelah setengah jam menghabiskan waktu berendam di dalam sana. terasa lebih segar setelah lelah melakukan kegiatan seharian ini
"Belum,"
"Kenapa?" Dean menghentikan kegiatannya mengering rambut, "apa kamu sangat sibuk?"
Ares menghentikan kegiatannya mengetik di laptopnya. Dia merasa heran dengan perhatian ini? Apa istrinya salah makan obat?
__ADS_1
"Iya. Beberapa perusahaan besar meminta ku untuk memasang kemanan pada IT merek. Sepertinya beberapa bulan kedelapan aku tak punya waktu hanya sekedar keluar rumah."
Dean berucap takjup, sesibuk itu suaminya pada pekerjaan sebagai pria yang hebat dalam teknologi komputer. Semakin hari rasanya ia semakin kagum dengan kehebatan otak yang dimiliki Ares. Tapi sayang... Hanya sedikit cela membuat orang memandangnya rendah.
Ahh, bukankah Dilo bilang itu bohong?
Jika begitu bukankah dia pria yang sempurna dengan otak cerdas yang tidak semua orang miliki.
"Kalau begitu biar aku ambilkan makanan dulu," Dean berlalu keluar yang meninggal Ares yang semakin merasa heran.
Ares berharap kali ini tak ada lagi cara yang direncanakan Deanra untuk meminta pisah darinya.
Tak begitu lama Dean datang dengan membawakan sepiring nasi dan segelas air putih. Dengan telaten di meletakkannya di hadapan Ares.
"Ayo makan dulu, setelah itu lanjut kerja lagi."
Ares ingin berucap, bertanya apa yang diinginkan istrinya. Tapi melihat mata yang teduh itu ia merasa lidahnya kelu hanya untuk berucap.
__ADS_1
"Kenapa?" Dean bingung melihat Ares yang terdiam saja saat dirinya di ajak bicara. "Apa kamu tidak suka dengan makanan yang aku bawa?"
Ares tersenyum tipis, dia mengeleng singkat setelah itu ia segera mengambil makanan itu dan melahapnya dengan cepat.
"Apa kamu begitu sibuk? Sampai-sampai untuk makan saja kami terburu-buru seperti ini,"
"Bisa dibilang begitu. Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa di tunggal lama, jika sedikit kecerobohan saja aku bisa membuat perusahaan ayah bangkrut."
Dean menganguk mengerti. Dia tahu, meskipun Ares tak terjun langsung untuk bekerja di perusahaan keluarga, tapi suaminya tak lepas tangan begitu saja. Malah bisa di katakan Ares lebih banyak memegang kendali pada perusahaan ayahnya, tapi dia memilih untuk bermain di balik layar saja.
Kondisi Ares yang mereka bilang sangat rentan, membuat kedua orang tuanya tak ingin sang anak terlalu mencolok di depan poblik. Dean tidak yakin dengan berita itu, karena yang dia pikirkan sekarang Sakit yang diderita Ares hanyalah kebohongan. Mungkin nanti dia akan mencari tahu sendiri.
Suara ponsel Dean bergetar. Melihat siapa yang menelpon dia langsung pergi menjauh dari Ares.
Ares yang melihat itu hanya bisa menarik nafas panjang. Sudah bisa dia tebak siapa yang menghubungi Istrinya, pasti mantan Deanra yang masih ngotot mencoba merebut Dean darinya.
"Sepertinya dia benar-benar harus di musnahkan,"
__ADS_1