Suami Yang Tak Sempurna

Suami Yang Tak Sempurna
Gamang memilih


__ADS_3

Rasanya akan seperti apa jika orang yang telah ditinggalkan tapi datang kembali memberikan perhatian yang lebih besar lagi dari pada dulu.


Apa Deanra menolak?


Tidak. Gadis itu bahkan masih bingung dengan perasaannya. Dia menikmati semua yang terjadi akhir-akhir ini. Perhatian, cinta dan juga ketulusan dua pria yang semakin hari semakin membuatnya dilema.


"Kamu sudah mau pergi? Apa hari ini harus ketoko lagi?" Ares bertanya dengan tak rela, padahal ia berharap istrinya di rumah saja.


"Tentu saja, Ar. Bukannya kamu juga akan bekerja?" Kerja yang Deanra maksud adalah Suaminya akan melanjutkan tulisannya.


Selain hacker, Ares juga pria pencipta karya-karya yang sangat hebat, seperti novel dan juga buku-buku fiksi. Deanra bahkan baru tahu, dan dia sangat senang melihat suaminya yang begitu terbuka padannya.


Setelah pamit, Deanra segera meninggalkan rumah. Memang banyak pekerjaan yang akhir-akhir ini membuatnya sibuk, ia juga tak mengerti kenapa ada begitu banyak pesanan bunga sekarang? Apa dia harus memikirkan untuk menambah satu karyawan lagi?


Saat dia sampai di toko, Deanra langsung menuju meja kasir seperti biasa. Tapi sesuatu di atas meja membuat ia tertarik.


"Mbak... Ini bungkusan apa?"


Mbak Dila langsung mendekati Bosnya, "oh itu... dari mantan kamu tuh,"


"Maksudnya, mbak?"


"Tadi Dilo datang sambil bawa makanan itu, De. Karena kamu lama datangnya, jadi dia titip sama aku. Seperti biasa...," Dila menjelaskan yang sebenarnya.


Deanra terdiam, ia menatap makanan itu dengan senyum tipis. Kenapa baru sekarang? perhatian ini... Dia sudah tak butuh, tapi kenapa harus sekarang datangnya?


"Mbak, ini makanan buat mbak saja."


"Loh, kenapa De?" Deanra hanya tersenyum tipis. memilih tak menjawab pertanyaan Karyawannya itu, karena tanpa di jawab pun seharusnya Dila mengerti.


Dulu biasanya Ares yang datang mengangu paginya dengan alasan membeli setangkai bunga mawar. Tapi akhir-akhir ini malah berganti menjadi Dilo yang selalu datang dengan membawa makanan. Deanra berpikir apa mereka memiliki sikap dan pemikiran yang sama?


Sama-sama membuat bingung....


*****


Deanra menyusun pekerjaannya. Sekarang waktunya pulang. Seperti biasa ia akan pulang lebih dulu dari Mbak Dila, dan wanita itu yang akan menutup tokoh nanti.


"Pulang ya, mbak."


"Udah mau pulang, Dean? Kamu gak di jemput suami?" Dila merasa penasaran, Sejak kemarin ia bahkan tak pernah melihat suami Deanra datang menjemput. Padahal sebagai pengantin baru bukankah seperti sekarang adalah sedang hangat-hangatnya.

__ADS_1


"Ngak Mbak, dia sibuk kerja." Hanya seperti itu, Deanra malas menjelaskannya lebih panjang. Lagi pula siapa Dila sehingga harus tahu rahasia rumah tangganya?


Deanra segera beranjak pergi. Pulang tujuan utamanya sekarang, tapi saat dirinya sampai di depan toko dan bersiap memangil taksi, mobil seseorang telah lebih dulu menghalangi pandangannya.


"Dilo...?"


Deanra terkejut. Ia tak mengerti kenapa mantannya ini datang lagi, padahal tadi pagi kata Mbak Dila sudah datang.


Dilo keluar dari mobil dan menghampiri Deanra yang terlihat diam kaku di tepi jalan.


"Hay..." Dilo menyapa, tapi Deanra tak menjawabnya. "Bisa kita bicara sebentar?"


"Bicara apa?"


"Aku hanya meminta waktu sebentar... Apa boleh?" Dilo berusaha membujuk, "Atau di mobil saja? Sekalian aku antar pulang," ucap Dilo lagi.


Deanra tak menjawab, tapi ia melangkah dan segera masuk kedalam mobil Dilo.


"Jangan pulang... Aku mau ke alun-alun kota," Deanra berucap dengan dingin yang langsung di setujui Dilo.


Dilo malah merasa itu akan lebih baik, karena jika begini mereka bisa menghabiskan waktu lebih lama. Ya, dia masih ingin merasakan kebersamaan mereka, meskipun sebatas sahabat.


******


Hanya berteman...


“Sudah lama aku tak seperti ini, kak. Terima kasih telah menemani aku hari ini....”


Dilo tersenyum tipis. Apa pun yang membuat Deanra tersenyum itu adalah kebahagiaannya sendiri. Tak ada batasan, ia suka posisi seperti ini, penuh tawa dan juga candaan ringan.


Dilo tahu ini salah, ia tahu tak seharusnya menahan gadis ini untuk tak pulang. Tapi ia juga ingin egois kali ini. Ares tak bisa membuat perempuan ini bahagia di luar, tapi bukankah dia bisa?


Ya, dia bisa....


Tapi sampai kapan? Apa dia harus menunggu dan meminta jika Deanra berpisah dengan suaminya?


Diam. Dilo memilih diam sambil menikmati senyum manis di setiap bibir tipis Deanra. Bahagianya sesederhana itu... Bisa berada di dekat Deanra saja ia sudah bahagia.


“Kamu tak pulang, De?” Akhirnya ia bertanya.


Deanra tersentak. Ia segera melihat jam di pergelangan tangannya. Pukul sembilan malam lewat, astaga kenapa dia sampai lupa waktu?

__ADS_1


Senyaman itukah kebersamaan mereka?


“Kak... Aku harus pergi sekarang.”


“Biar aku antar,” Deanra menggeleng, bagaimana pun ia tak ingin menyinggung perasaan suami dan mertuanya.


“Aku bisa sendiri. Terima kasih untuk hari ini...”


Dilo membiarkan Denara berlalu masuk ke dalam taksi. Tak ingin menahan, ia juga tak ingin memaksa untuk mengantarnya. Dia tahu apa yang ditakutkan Dean, dan ia juga tak akan ingin merusak kebahagiaannya. Cukup seperti ini... Dia hanya ingin seperti ini.


Asalkan tak ada yang pergi di antara mereka, Dilo merasa cukup. Ia tak butuh Deanra yang memilih dan menjadi miliknya, ia tak akan memaksa akan hal itu. Ia hanya ingin bersama, saling perhatian, saling mengasihi sebatas teman.


Apa hatinya sakit?


Di awal mungkin iya akui. Tapi sekarang ia terbiasa, telah menerima jika dia bukan pilihan terpenting dalam hidup Deanra lagi.


*****


Deanra turun dari taksi agak buru-buru. Ia segera berlari masuk ke dalam rumah, tapi niatnya urung karena melihat keberadaan Ares yang menunggunya di teras rumah.


Kenapa dia di sana?


Deanra segera mendekat. Ia melihat pria tak sedang terjaga, tapi tertidur di kursi teras.


Deanra merasa menyesal, seharusnya ia tak pulang larut tadi sehingga membuat Ares menunggunya seperti ini. Ia mendekati sang suami yang terlihat nyenyak tidur di malam yang sangat dingin, di luar lagi. Deanra semakin merasa bersalah, seharusnya ia pulang lebih cepat tadi.


“Ar... Ayo bangun. Pindah ke dalam yuk,”


Ares terbangun. Ia tersenyum lebar melihat Deanra yang berdiri didepanya.


“Kamu sudah pulang?” Dean semakin terenyuh. Sekhawatir itukah Ares untuknya?


“Ayo masuk, kamu bisa sakit kalau tidur di luar malam-malam begini.”


“Aku menunggumu, De. Apa pekerjaan begitu banyak di toko?”


Deg...


Deanra terdiam. Ares berpikir dia pulang terlambat karena bekerja, tapi kenyataannya dia pergi bersama Dilo dan bersenang-senang di luar sana. Apa dia sesadis ini? Tapi pada akhirnya ia terpaksa mengiyakan.


Ares tersenyum lembut, “ayo masuk... Kamu pasti sangat lelah.”

__ADS_1


Deanra hanya bisa ikut saat Ares menariknya untuk masuk ke dalam kamar mereka. Ia berharap suatu hari nanti bisa membalas semua kebaikan dan kelembutan pria ini. Tapi kapan? Saat dia berusaha untuk mencintai suaminya, tapi Dilo malah datang kembali menawarkan sebuah kenyataan.


Ia semudah itu goyah pada perasaan yang masih galau. Di satu sisi ada pria yang masih ia cintai, tapi di sisi lain ia telah punya suami yang begitu baik padanya. Tapi masalah hati ia tidak bisa berbohong, nyatanya sebaik apapun Ares selama ini dia belum mampu membuat hatinya bergetar seperti saat ia bersama Dilo.


__ADS_2