
Ares berhenti setelah merasa tubuhnya sudah cukup untuk berolahraga. Ia tersenyum kecil, dan segera mendekat pada Deanra yang terlihat melamun sembari menatap dirinya.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Denara menoleh, "memikirkan pernikahan kita," tanpa ragu gadis itu berucap. Ia kembali menatap ke depan, menghindari tatapan mata tajam Ares padanya.
"Memangnya apa yang perlu dipikiran kan?"
Deanra mendengus dingin. Pria ini malah bertanya apa yang perlu dia pikirkan? Tentu saja sangat banyak. Sampai sekarang ia bahkan belum menemukan jalan terbaik untuk akhir dari kisah ini.
Deanra berbalik, memilih membalas tatapan Ares. "Bagaimana dengan pembicaraan kita kemarin? Apa kamu sudah memikirkannya?"
Denara ingin menyingung tentang perjanjian itu. Jika pria ini setuju, dan memiliki waktu tertentu untuk dia tentu saja ia akan sangat senang.
"Maksudmu?"
"Jangan pura-pura lupa. Bukankah di hari pernikahan kemarin aku sudah berbicara sangat jelas!"
"Apa! Perjanjian? perundingan?!" Ares marah, mulai tersulut emosi saat Istrinya kembali menyinggung tentang masalah kemarin. "Apa tujuan mu sebenarnya berkata seperti itu, Dean. Apa kau sudah berpikir ingin pergi? Bercerai dariku?!"
Deanra tak siap dengan perubahan emosi Ares. Melihat kuku jari pria itu memutih saat dikepal, ia mulai merasa sedikit cemas. Ia pikir Pria ini tak perlu marah tentang pembicaraan ini, bukankah mereka sama-sama tak suka? Lalu bukankah dengan begini akan menemukan jalan terbaik.
"Kenapa kau marah begitu? Pernikahan ini hanya perjodohan, tidak mungkin kita hidup selamanya berdua kan?" Dean mendengus dingin, "lagi pula aku mencintai orang lain, bagaimana mungkin kita bisa hidup bersama selamanya? Sama seperti mu, kau tidak mungkin ingin hidup bersama ku selamanya."
__ADS_1
Bagaikan tak ingin peduli dengan apapun, gadis itu langsung mengatakan pikirannya. Lupa dengan siapa ia sedang bicara, ia bahkan nyaris berteriak mengatakan jika dirinya masih mencintai mantan kekasihnya.
"Tidak ada perpisahan Deanra! Dalam hidup ku hanya menikah sekali, dan kau tidak akan pernah aku lepaskan!
"Aku tak peduli, Ares! Aku tetap akan pergi, tak ada yang bisa mengatur hidup ku!"
Sesingkat itu dan Ares merasa dunianya meledak. Dia terdiam berusaha mencerna kalimat singkat itu, tapi tetap saja ia merasa hatinya benar-benar merasa kosong sekarang.
Melihat Deanra yang setenang itu, mendadak dia merasa nafasnya tercekat. Jakunnya bergerak naik turun, rahangnya pun mengeras dan menegang kaku. Tidak! Dalam hidup tak akan pernah ia menceraikan Deanra!
Tak mudah baginya ada di kondisi seperti ini sekarang. Dan tentang cinta, semua orang mungkin tahu jika dia selalu memuja gadis ini, dia saja yang tidak tau dan tak peka dengan perasaannya selama ini.
Emosi seperti ini sungguh tak baik untuknya. Benar saja, tak begitu lama pria itu bertahan dengan diam, ia mulai menarik rambut seperti orang yang frustasi.
Deanra terkejut, tangannya bergetar melihat tindakan suaminya yang terlalu ekstrim. Jika sekarang ia tak mencoba menghentikan ini, mungkin rambut-rambut pendek itu akan tercabut dari kepala pria ini.
Apa ia menyakiti Ares?
Deanra tak bisa berpikir jernih. Ia langsung bergegas mendekati laki-lakinya. Saat tangan lembut itu menyentuh di sela-sela jari tangan Ares, pria itu diam tak berkutik.
"Ares! Apa yang kamu lakukan? Aku hanya ingin berdiskusi, bukan langsung meminta pisah darimu!" Deanra memaki dalam hati. Sesungguhnya jika pria ini setuju tadi ia pasti akan sangat senang, tapi melihat Ares yang kesakitan seperti ini mungkin ia harus berpikir ulang tentang rencananya.
Ares diam. Berusaha menyederhanakan isi kepalanya. Tapi tak bisa, kepalanya masih berdenyut sakit dengan pemikiran-pemikiran yang sangat membuatnya takut. Dia kembali mencoba menyakiti dirinya lagi, tapi kali ini Deanra lebih sigap, dan memilih menahan kedua tangan itu dan menggenggamnya dengan kuat.
__ADS_1
Jika sekarang dirinya yang terluka mungkin ia akan rela, tapi jika sampai sudah menyakiti Ares di hari kedua pernikahan mereka bisa-bisa bunda dan ayah mertuanya akan mengamuk nanti.
"Oke, maafkan aku. Aku tidak akan membahas ini lagi, Ares. Tapi jangan lakukan ini lagi,"
Berlahan tubuh yang tadi kaku mulai rileks kembali. Ares mencoba mengatur nafasnya yang seperti hilang sesaat. Dia bahkan masih memejamkan matanya, mencoba mencari keanehan tubuhnya yang ketika di sentuh Deanra bisa membuat ia tenang secepat ini.
Dan kenyataan ini semakin membuat Ares mengila. Dia benar-benar membutuhkan gadis ini dalam hidupnya, bukan untuk sesaat tapi untuk selamanya.
Tak mencoba mengajak suaminya segera ke dalam kamar. Tak ingin ada yang mendengar pembicaraan ini, mungkin lebih baik jika dia menyelesaikannya di kamar saja.
"Ayo masuk... Kamu harus membersihkan diri. Bunda pasti sudah selesai memasak, kita harus ikut sarapan pagi agar tidak ada yang curiga." Deanra kembali berucap dengan dingin. Mengambil jarak sedikit jauh dari Ares, setelah itu pergi lebih dulu meninggalkan suaminya yang masih duduk diam memejamkan mata.
"Sial! Kenapa semuanya menjadi sulit begini!" Memaki dalam hati. ternyata apa yang dia pikirkan sebelumnya tak sesuai dengan yang ia harapkan.
Yang dia harapkan Ares membenci dirinya seperti perjodohan yang banyak terjadi, lalu segera meminta pisah setelah beberapa bulan menikah karena Ares mencintai wanita lain, itulah yang dia inginkan. Tapi ternyata pria itu malah menginginkannya. Ini memang tak sesuai dengan yang dia harapkan, dan harapan untuk kembali dengan Dilo sepertinya tak akan mudah.
Tapi... Apa mantan kekasihnya itu masih menginginkannya?
*****
Halo semuanya....
Bagaimana dengan cerita ini, apa kalian suka? Aku harap seperti itu π
__ADS_1
Oh ya, biar aku lebih semangat lagi nulisnya, kalian harus tinggal vote, like dan komen, ya.
salam cinta dari ara putri ππ