Suami Yang Tak Sempurna

Suami Yang Tak Sempurna
Pengakuan


__ADS_3

POV Deanra


...


Bingung sekali aku dengan perubahan sikap Dilo. Meskipun dulu dia juga perhatian pada saat berpacaran, tapi sekarang kan situasinya berbeda. Aku sudah menikah, bukankah seharusnya dia menjauh? Tapi kenapa sekarang dia malah semakin mendekat?


Jika begini aku merasa menjadi wanita jahat yang menggantung hubungan dengan dua pria. Tapi aku juga tak mampu menyuruh Dilo berhenti dan menjauh dariku, nyatanya semakin dia berjuang untuk menjadi teman, aku malah semakin merasa nyaman.


Tapi aku kembali merasakan menjadi wanita jahat, saat kembali melihat suami tertidur di luar rumah karena menunggu aku pulang telat. Dia bahkan berpikir aku banyak kerjaan, tapi nyatanya aku pergi bersama Dilo. Ada rasa menyesal yang tak bisa aku ungkapkan.


“Ayo, kamu harus makan dulu. Setelah itu baru tidur,” Lagi-lagi Ares memperlakukan Aku bak seorang putri. Ingin rasanya menangis, tapi sisi egois aku malah bilang ini memang kewajibannya menjaga istrinya.


“Apa kamu sudah makan, Ar?” aku mencoba untuk lebih dekat dengannya, meskipun beberapa hari ini mulai terbiasa. Tapi tetap saja tak terlalu dekat seperti suami istri yang lainnya.


“Belum,”


Jawabnya membuat aku berdecap pelan. “ kenapa belum? Apa kamu gak makan bersama ayah dan juga bunda tadi?”


“Kamu belum pulang, Dean. Bagaimana mungkin aku makan duluan,” dia berucap dengan sedikit cemberut, hal itu mampu membuat konsentrasi ku sedikit buyar. Ternyata dia suami yang manis juga... Eh!


Tak ingin berbicara lagi, segera aku tarik dia agar duduk di sofa sebelah ku. Dia sedikit terkejut, tapi aku tak memedulikannya. Sampai satu suap nasi dari tangan ku terangkat ke arah mulutnya, ia masih terlihat diam membatu.


“Buka mulutmu, Ar.” Dia menurut. Aku segera memasukkan nasi itu. Dan seterusnya suapan lain menyusul masuk ke dalam mulutku masih dengan tangan yang sama. Saling bergantian, sampai sepiring nasi penuh tadi tandas kami makan berdua.


Dia masih menatap intens wajah ku. Dia pasti merasa sedikit syok karena sikapku yang mendadak begini, tapi ini semua aku lakukan karena aku sangat merasa bersalah karena sudah berbohong padanya.


Tapi siapa yang menyangka, ternyata seperti ini malah terasa nikmat dilakukan. Mungkin lain kali akan aku lakukan lagi, semoga saja dia mau.

__ADS_1


Tak hanya makan sepiring, kami bahkan juga berbagi air dalam satu gelas yang sama. Dan tentunya aku meminta dia terlebih dahulu yang meminumnya, bagaimana pun dia seorang pria, aku tak ingin dia merasa tersinggung.


“Kenapa menatap ku seperti itu?” Karena tak tahan akhirnya aku bertanya juga.


“Itu...”


“Itu apa? Apa kamu merasa jijik dan gak suka makan seperti tadi? Maaf jika membuatmu terpaksa,” aku berucap dengan sedih, sedikit merajuk karena ingin melihat bagaimana responsnya.


Benar saja, Ares terlihat cemas. Dia segera menyentuh tanganku, dan langsung berkata dia suka dan sangat suka malahan. Aku ingin tertawa, tapi aku tak ingin membuatnya tersinggung jadi aku memilih tersenyum senang saja.


“Aku akan menyimpan piring dan gelas dulu...”


“Dean...” Saat aku ingin beranjak dia tiba-tiba kembali memanggilku dengan lembut. Spontan aku kembali menoleh dengan bingung.


“Ya,”


Piring ditangan hampir saja terlepas dari tangan saking syok yang di ucapkan Ares. Ya Tuhan... Apa aku bermimpi?


“Apa... Apa yang kamu katakan, Ar.” Aku masih mencoba tak percaya, bertanya sekali lagi agar tak salah dengar.


Ares mendekati ku, dan aku tetap diam di tempat semula. Tanpa kata dia langsung melingkari tangannya di pinggang ku, piring yang ku pegang membuat batas tubuh kami tak berdempetan.


“Aku bilang, aku mencintaimu Deanra! Istriku, aku mencintaimu!” Ares berkata dengan penuh penekanan, setelah itu ia mengecup kening ku dengan lembut.


Ya Tuhan... Kenapa jadi begini?


Ada yang bergemuruh dalam dadaku, tapi juga ada keraguan untuk membalas ucapannya. Tak berselang lama, aku segera melepaskan pelukannya. Dengan sedikit gagap aku memberi alasan padanya.

__ADS_1


“Aku... Aku simpan piring dulu...,” Setelah itu aku segera berlari keluar dari kamar.


Tak bisa berada didekat-Nya lagi, aku benar-benar merasa sesak dan juga takut. Dengan debaran yang aneh pada dadaku, aku tak yakin itu rasa baru untuk Ares. Mungkin ini hanya karena terkejut saja, mangkanya menjadi deg-degan.


....


Setelah mencuci piring bekas kami makan, Aku tak langsung kembali dalam kamar. Memilih keluar, dan duduk diam di teras depan rumah tepat di mana Ares sempat tertidur menungguku tadi.


Kembali berpikir, kenapa Ares mengatakan cinta padaku? Padahal pernikahan ini belum sampai satu bulan, dan dia sudah menyimpan rasa?


Tapi untuk sekarang aku tak bisa membalasnya... Apa dia akan kecewa, lalu akan emosi dan kembali melukai dirinya sendiri?


Memikirkan ini aku langsung teringat. Bagaimana dia sekarang? Apa dia marah dan menyakiti dirinya?


Tak menunggu waktu lama aku segera berlari masuk ke dalam kamar setelah menutup pintu rumah. Sedikit terasa susah karena harus naik tangga dulu, tapi aku tetap berlari agar cepat sampai.


Saat membuka pintu kamar, aku langsung bernafas lega. Dia tidak apa-apa, dia hanya duduk diam sambil tertunduk di ujung ranjang.


Segera aku melangkah mendekat, tapa kata lagi berkata apapun, segera aku tarik tubuh yang lebih besar itu ke dalam pelukan ku. Meskipun sekarang aku tak bisa membalas perasaannya, tapi aku masih bisa memeluknya. Kami adalah dua orang yang telah di halalkan, tak dosa aku melakukan ini kan?


.


.


.


Yuk beri pendapat kalian tentang Deanra. Apa dia cocok? dan juga Ares, ya...

__ADS_1


Dan jangan lupa tinggalkan vote like dan komen juga ya😘


__ADS_2