
Dean tersenyum senang saat mendapatkan telepon dari Dilo. Setalah merasa sedikit jauh dari Ares, ia segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, Dilo...,"
"Halo, Dean. Bagaiman kabar mu?"
"Oh, aku baik. Kenapa? Apa sesuatu terjadi? Kenapa suaramu terdengar aneh begitu,"
Deanra sangat mengenal pria ini, dari suaranya saja dia sudah tahu jika Dilo pasti sedang tidak baik-baik saja sekarang.
"Ahh... Kamu selalu mengerti aku, De. Maaf jika mengangu mu, aku hanya merasa tak punya teman bercerita."
Dean mengerti, bagaimana kehidupan Dilo, Dia cukup paham akan pentingnya dia di hidup Dilo selama ini.
"Tidak apa-apa. Sekarang katakan, apa yang terjadi sehingga membuat mu begitu frustrasi?"
Terdengar suara nafas yang memburu di seberang sana. Dean semakin yakin, sesuatu yang buruk pasti sudah terjadi pada pria itu. Ingin rasanya dia menghampiri dan menghiburnya, tapi Ares.... Oh tuhan, sepertinya dia membuat masalah lagi.
Dengan ragu Dean mencoba mencari keberadaan suaminya yang tadi dia tinggalkan. Dean yakin pria itu pasti marah karena di tinggalkan begitu saja. Tapi saat dia menoleh lagi, ia malah tak menemukan keberadaan Ares di sana lagi.
"Dia kemana?"
"Halo, De. Apa kamu mendengar cerita ku? Kamu sedang bertanya siapa?"
Dean hampir saja lupa jika dirinya masih teleponan dengan Dilo. Salahnya juga yang bersikap begitu ceroboh, lihatlah sekarang, lagi-lagi dia membuat kekacauan.
"Di, sudah dulu ya. Ada sesuatu yang harus aku urus,"
Dilo Yanga walinya ingin bercerita, atau lebih tepatnya mengadu. Sekarang menjadi urung, karena tanpa menunggu jawaban dari Dilo lagi Deanra sudah lebih dulu mengakhiri panggilan mereka.
__ADS_1
Karena tak melihat keberadaan Ares di dalam kamar, Deanra berinisiatif mencari ke dalam kamar rahasia mereka. Tapi saat masuk kedalam lagi-lagi dia tak melihat Ares.
"Dia kemana?"
Makanan yang tadi Dean bawa masih ada diatas meja, itu berarti Ares tak jadi makan dan pergi dengan membawa laptop nya saja. Apa dia benar-benar marah?
Dean mengusap wajahnya kasar, hidup di antara dua cinta ini benar-benar sangat sulit.
Apa dia harus mencari Ares keluar?
Dean segera mencari keberadaan suaminya di Taman belakang. Biasanya pria itu paling suka menghabiskan waktu yang lama disana. Tapi Samapi di sana pun ia tak juga bertemu dengan Ares, rasa kawatir langsung menyeru dalam hatinya.
"Dia pergi kemana?" Ia pikir tidak mungkin Ares pergi ke luar. Dia tahu suaminya itu tak pernah diizinkan keluarga untuk pergi sendirian tanpa ditemani seseorang.
"Kamu cari apa, nak?" Bunda menghampirinya menantunya yang terlihat kebingungan.
"Ares Bun, dia kok gak kelihatan?"
"Dia baru saja keluar sama ayah. Kenapa? Apa hal penting yang ingin dibicarakan?" Mendapatkan pertanyaan sang mertua Dean jadi malu sendiri.
"Gak kok, Bun. Kalau begitu aku kekamar lagi, ya bunda."
"Ya udah, sana istirahat. Kamu pasti capek baru pulang dari toko," Dean menganguk pelan, setelah itu berlalu meninggalkan ibu mertuanya dengan wajah yang masih sedikit memerah.
*****
"Kamu dari mana?"
Saat Ares baru saja membuka pintu kamar, Dean sudah lebih dulu bertanya dengan tampang kesalnya. Pria ini, kenapa dia begitu lama pulang. Dari tadi dia bosan menunggu, dan ternyata dia malah kembali setelah jam sepuluh malam lewat. Memangnya yang dia kerjakan bersama ayahnya sehingga begitu lama?
__ADS_1
"Hanya jalan-jalan bersama ayah,"
"Jangan bohong. Bagaiman bisa begitu lama kalau hanya jalan-jalan."
Eh?
Alis tertarik, melihat istrinya yang berbeda membuat dia merasa geli. Oh, apa gadis ini sedang merajuk padannya?
"Memangnya kenapa lama? Toh kamu juga sibuk dengan selingkuhanmu itu,"
Selingkuhan ya?
Dean merasa tersinggung dengan kata-kata itu. Jadi dia melemparkan bantal yang tepat mengenai wajah Suaminya. Enak saja dia dibilang selingkuh. Memang sih dia dekat dengan Dilo, tapi sampai sekarang dia tidak pernah menjalin cinta lagi dengan pria tampan itu. Jadi kalau dibilang selingkuh dia sungguh tidak akan rela.
"Beraninya kamu menuduh ku! Memangnya kapan aku selingkuh?!" Dean berteriak cukup nyaring. Untung saja kamar mereka itu kedap suara, jadi tak akan di dengar oleh orang-orang di luar.
"Masih mengelak? Bukankah tadi mantan kekasih mu yang menelpon? Saking bahagianya bahkan kamu lupa dengan suami yang belum makan seharian." Sindiran Ares tepat mengenai sasaran, nyatanya Dean langsung terdiam sesaat setelah menyadari kesalahannya.
Dean melihat lagi makanan yang tadi dia ambil untuk suaminya, dan piring itu masih terlihat penuh tanpa tersentuh. Dean menjadi bersalah, pasti tadi Ares tak akan bisa menelan makanannya saat mendengar dia berbicara dengan pria lain.
"Maaf... Kalau begitu apa kamu mau aku ambilkan makanan baru?" tawar Dean, berharap wajah masam Suaminya itu berubah untuk sedikit melembut.
"Tidak usah. Aku sudah makan di luar bersama ayah,"
Deg
Entah kenapa ada rasa sedikit sakit yang menyerang hati kecil Dean. Apa sesedih ini mendapatkan penolakan?
*****
__ADS_1
***Jangan lupa tinggalkan jejak terbaik sayang... Oh ya, gimana ceritanya?
Jika ada yang tidak sesuai silahkan tinggalkan komen ya😘***