
Melangkah kaki dengan santai, siapa yang menyangka setelah terjadi begitu banyak masalah, dan sekarang Ia bisa menjalani hari-harinya seperti biasa.
Deanra sengaja hari ini pergi sendirian ke mall. Tak ada yang dia cari, hanya sekedar ingin melepaskan penat dan melihat-lihat untuk menyegarkan mata.
Tiba-tiba ia berhenti pada satu toko pakaian pria. Deanra tersenyum simpul, pastikan akan sedikit menyenangkan jika dia membelikan beberapa baju untuk suaminya itu. Kakinya melangkah memasuki tokoh pakaian, saat melihat satu baju yang dari tadi menarik perhatiannya, ia segera memesan ukuran yang ia butuhkan.
"Tolong ambilkan aku baju seperti ini dengan ukuran lain, Mbak." Pinta Deanra pada pelayanan di toko itu.
Satelah menyebut keinginannya, ia segera mencoba mencari beberapa baju lainnya yang mungkin cocok untuk Ares.
"Dean?"
Deanra sedikit kaget. Melihat pada orang yang memanggil namanya, Dilo berdiri di sana dengan senyum penuh kerinduan.
Dean bergeming, menatap tak percaya pria yang dicintainya ada didepannya. Hatinya berdetak dan berteriak. Kenapa dia berubah? Kenapa Dilo yang begitu perfek berubah menjadi begini?
Kenapa harus bertemu....
"Deanra, aku benar-benar tak percaya kita masih bisa bertemu." ucap Dilo dengan bahagia.
Deanra ingin menjauh, ia tak ingin bertemu dengan pria ini. Keberadaannya sekarang tak berguna, bukankah seharusnya ia datang dulu, saat dia butuh dan inginkan. Tapi sekarang, kenapa harus muncul lagi?
"Bisakah kita bicara, Deanra?" pinta Dilo.
"Untuk apa? Aku sedang tak ingin bicara."
Satu tahun mereka saling memiliki, tapi karena keegoisan pria ini, mereka bahkan tak bisa bersama lagi. Apa salahnya Dia meninggalkan pekerjaannya dulu, lagi pula ia hanya butuh waktu satu hari untuk datang pada ayah dan ibunya. Tapi apa yang Dilo lakukan? Dia pergi... Pergi menyelesaikan pekerjaannya dan meninggalkan dia dalam dilema sendirian.
Saat itu ia hanya butuh dimengerti, bukan butuh waktu sehingga ditinggalkan tanpa kabar.
"Deanra...," panggilnya dengan suara lembut. Dilo menatap lekat mata hitam yang juga menatapnya dalam diam, hanya saja di dalam mata itu begitu banyak serat luka dan juga kekecewaan yang memancarkan kesedihan di relung hatinya.
Dilo tak sanggup seperti ini. Gadisnya bersedih. Dia terluka sema seperti yang di rasakan. Disini tidak hanya dirinya yang kehilangan, nyatanya Deanra juga memiliki luka karena perpisahan ini.
__ADS_1
"Aku minta maaf... Tapi beri aku sedikit kesehatan untuk menjelaskannya, De. Aku benar-benar mencintai mu!"
"Cukup! Kenapa kamu mengatakan omong kosong itu! Jika kamu cintai kamu gak mungkin pergi!" Deanra mengeraskan suaranya. Ia benci kata-kata pria ini, tapi di satu sisi ada perasaan lain yang mengganjal.
"Aku gak tahu akan seperti ini, De. Aku yang bodoh, berpikir kamu tak mungkin serius dengan ucapan mu."
Dilo mendekat, mencoba merengkuh tubuh itu kedalam pelukannya. Tapi Deanra menepisnya, respon itu semakin membuat Dilo merasa kecewa.
"Beri aku satu kesempatan, Deanra. Aku akan menjelaskannya," ucapnya putus asa. Tak tahu lagi bagaimana bisa meyakinkan hati wanita yang dicintainya ini.
"Aku benci! Aku kecewa padamu, kak. Jadi tolonglah... menjauh dari ku sekarang." Menghapus jejak air matanya yang menetes.
Deanra menyadari mereka di toko orang sekarang. Jadi ia memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan ini. Padahal ia ingin sekali berteriak marah dan memaki Dilo sepenuh hati, agar hatinya terasa lega.
*****
Deanra tak bisa pergi, Dilo terlalu memaksa sehingga ia berakhir di restoran yang ada di pusat berbelanja ini.
Mereka saling diam. Belum ada yang membuka suara, seolah nyaman dengan kesunyian ini. Tapi saat pelayanan datang menawarkan hidangan, mereka tersentak seolah baru dikembalikan ke alam sadar mereka.
Dilo mengusap wajahnya kasar, ingin berbicara tanpa merasa tak enak karena ada pelayan. Jadi dia menyebutkan pesanan mereka seperti biasa dulu. Dilo sangat hapal apa makanan favorit wanita ini, jadi ia tak bertanya lagi.
Setelah pelayanan itu pergi, Dilo segera mulai berbicara dengan santai.
"Deanra..."
"Ya..."
"Apa kamu marah? kecewa?"
Deanra merengut. Kenapa bertanya seperti itu? Dalam logika saja orang yang di tinggalkan pasti akan marah. Lalu kenapa masih bertanya? Bukankah itu bodoh.
"Tak perlu tanyakan apapun, Kak. Kamu yang seperti ini hanya akan menyakiti ku saja... Bukankah lebih baik kita menerima takdir ini saja. Berlahan aku akan belajar untuk ikhlas, dan semuanya akan terlupakan."
__ADS_1
Ya, pilihan mereka menang pada akhirnya hanya ikhlas. Tapi apa Dilo sanggup?
"Maaf yang aku pergi dari mu, Dean. Aku tak berpikir akan berakhir seperti... Awalnya aku berpikir ini hanya candaan, nyatanya..." Dilo mengusap rambutnya dengan kasar. Ya, dia memang sebodoh itu menganggap masalah hanya candaan.
"Jangan ingat lagi... Semua sudah berlalu, kak. Jadi jangan mengingat apapun lagi yang kembali membuat kita terluka."
"Meskipun kita berakhir seperti ini, tapi aku harap kita masih bisa seperti dulu, Dean. Aku ingin kita berteman seperti dulu... Aku tak siap jika harus langsung kehilangan mu seperti ini." Dilo mengiba
Baru beberapa Minggu tak bertemu dirinya sudah sekacau ini. Rambut panjang, jengot yang mulai memanjang, benar-benar menghilangkan penampilannya yang dulu begitu perfek.
Dan sialnya Deanra menyadari itu, kekacauan pria ini membuat hatinya tersentuh. Ternyata Dilo benar-benar sedih kehilangannya. Dalam hatinya ia juga tak siap kehilangan Dilo, mungkin hubungan sebagai teman akan lebih baik untuknya.
"Baiklah... Sekarang apa aku boleh pergi?"
"Dean, pesanan kita bahkan belum datang. Kenapa kamu tak duduk dulu dan berbincang bersama ku?" Masih mencoba menahan, Dilo masih ingat bersama wanita ini lebih lama.
"Tapi aku ada pekerjaan, kak. Banyak hal yang harus aku lakukan."
Dilo terkekeh kecil, "Seperti biasa Dean. kamu lebih mementingkan pekerjaan dari apapun... Bagaimana dengan suami mu? Apa dia membolehkan mu untuk bekerja?"
Deanra mengingat Ares. Tak ada tuntutan tertentu suaminya itu pada dirinya, bahkan dia begitu membebaskan dirinya untuk memilih. Memikirkan ini ia ingin segera pulang. Apalagi dengan baju yang dia pilih untuk suaminya itu, ia jadi tak sabar untuk menunjukkannya.
"Aku benar-benar harus pergi... Maaf!"
Deanra langsung menyambar tas dan juga belanjanya, ia mengalah cepat meninggalkan restoran yang diiringi dengan tatapan sedih Dilo.
'Aku benar-benar masih mencintai mu, Dean. Aku harap suatu hari nanti Kita masih bisa bersama.'
******
Halo semuanya....
mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisannya, yaπ Dan....
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak terbaik kalian. VOTE, LIKE AND KOMEN.
Salam cinta πππππππ