Suami Yang Tak Sempurna

Suami Yang Tak Sempurna
Hilang kendali


__ADS_3

Kata Sah telah berkumandang dengan keras di seluruh ruangan itu. Semua orang bernafas lega, hanya satu yang malah merasa sesak saat dirinya dipaksa menyalami sang suami barunya, dan saat ia merasa sesuatu yang basah sedang mengecup keningnya, ingin sekali Deanra mengangkat tangan dan mendorong Wajah itu menjauh.


Ares.


Dan Deanra.


Dua manusia yang setelah ini akan dipaksa akan hidup bersama. Mata Deanra memanas, ia ingin menangis. Tapi orang-orang yang melihat itu berpikir jika sang mempelai wanita sedang terharu dengan acara sakral itu.


"Selamat, Kalian telah sah menjadi pasangan sehidup semati." Itu bukan penghulu atau pun asal satu dari orang tua mereka, tapi itu suara Manggala yang menyeletuk membuat orang-orang ikut terkekeh.


Diam


Setenang air danau, Ares bahkan tak mengubah sedikitpun ekspresi wajahnya. Terlalu kaku, Denda bahkan semakin mengepal erat tangannya.


Deanra berpikir, ini pernikahan konyol. Ia berpikir mungkin juga Ares tak setuju dengan pernikahan paksa ini, makanya ia berwajah dingin seperti itu. Rasa sesal menerima perjodohan ini semakin menyeruk dalam hatinya.


Setelah para tamu sibuk dengan hal yang lain, dua pengantin ini segera digiring di atas pelaminan oleh keluarga. Acara berlanjut dengan resepsi yang dilakukan langsung. Ini permintaan Deanra, tak ingin resepsi mewah, cukup acara makan-makan saja setelah ijab kabul.


Meskipun permintaan tak sepenuhnya dituruti oleh orang tua mereka, nyatanya perayaan pernikahan tetap mewah dilakukan sampai malam menjelang. Menyadari jika pengantin mulai merasa lelah, Syakira segera menyuruh putrinya untuk segera beristirahat di dalam kamar.


"Bawa suamimu ke kamar, Nak. Mungkin dia lelah,"


Deanra menganguk. Ia sendiri juga sudah merasa malas berada di keramaian ini. Untung saja pernikahan ini terjadi dirumahnya bukan dihotel seperti orang-orang kaya lakukan, sehingga ia cukup nyaman dan tak terlalu ribet dengan banyak hal.


Saat Denara ingin berbalik, ia dapat melihat bayangan seseorang di balik keramaian para tamu. Deanra membeku ... Dia datang, Dilo datang melihatnya bersanding dengan pria lain.

__ADS_1


Deanra menutup mulutnya, menahan tangisnya yang mungkin saja akan meledak melihat semua ini.


Setelah menghilang, dan tak datang saat dirinya menunggu, tapi sekarang malah datang disaat dirinya sudah tak berdaya. Bagi Deanra hanya pengecut yang melakukan hal seperti ini, seolah menganggap dirinya tak berarti sama sekali. Ingin rasanya ia berlari pada pria itu, lalu memukulinya agar rasa sesak ini berkurang, tapi apa sekarang ia bisa? Bisakah ia mempermalukan ayah ibunya hanya karena keegoisan cintanya saja?


Deanra berbalik. Pergi lebih dulu dan meninggalkan Ares yang mengikuti dari belakang dengan diam. Apa pedulinya ia pada pria itu, ia bahkan tak bisa menganggapnya sebagai suami sekarang. Baginya pernikahan ini hanya kesempatan dan ia akan berusaha untuk selalu menjauhi Ares sepanjang hidupnya.


*****


Tak ada suara. Saling diam saat pintu kamar telah tertutup dengan rapat. Deanra segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia bahkan membiarkan suaminya berdiri kaku melihat tingkah tak pedulinya.


Merasa tak tahan, Ares mulai bersuara, "Deanra ... Saya akan istirahat dimana?" Deanra merinding saat Ares memanggil namanya, dan sialnya entah kenapa malah terdengar merdu digendang telinga.


Sial!


"Terserah,"


"Kok kamu disini?" Deanra sekarang duduk, ia merasa tak nyaman ada pria lain yang tidur satu ranjang dengannya.


"Tadi bilangnya terserah?"


Deanra mengusap wajahnya dengan kasar. Ia yang salah bicara, ia juga tak bisa mengusir Ares seenaknya. Pada akhirnya ia hanya bisa mengalah, dan bersandar di kepala ranjang dengan tampang lusuhnya.


Pantaskah pengantin seperti ini?


Tidak!

__ADS_1


Dia adalah pengantin yang paling menyediakan mungkin. Tapi benar menyedihkan?


Merasa tak bisa istirahat dengan baik, Ares ikut duduk. Ia menatap istrinya yang diam bersandar di kepala ranjang sembari menutup mata. Apa yang dipikirkan gadis itu?


Tak ada yang tahu, mungkin hanya tuhan dan dirinya sendiri yang tahu.


Ares Mencoba mendekat, ikut bersandar di sebelah Deanra dengan melakukan hal yang sama, memejamkan mata sembari membayangkan indahnya kehidupannya setelah ini.


"Apa kamu juga tak menyukai pernikahan ini?" Ares terkejut saat mendengar Deanra yang tiba-tiba bertanya.


"Kenapa?"


Deanra mengeleng, "melihat wajahmu yang kaku itu aku bisa menebak, jika kau juga dipaksa untuk menikah dengan ku. Tapi jangan kawatir, kita bisa melakukan perjanjian atau semacam perundingan untuk hubungan yang tak jelas ini."


"Perjanjian apa maksud mu?"


"Perjanjian nikah. Kita tidak mungkin bisa hidup selamanya kan? Jadi kita harus membuat perjanjian ... Kapan kau akan menceraikan ku... Nanti?" Kata-kata ini memang terlalu kejam bagi mereka yang baru saja sah menikah. Tapi hati gadis itu sudah terlalu dibutakan dengan cinta pada kekasihnya.


Membicarakan hal ini memang tak tepat sekarang. Tapi mulut Deanra tak bisa diam, ia benar-benar ingin mengatakan isi hatinya, berharap jika pria ini setuju dengan usulannya.


Ares mencengkeram erat tangan kirinya. Perkataan Deanra cukup membuat ia emosi, tapi saat ini ia sadar harus menahan, atau pernikahan akan hancur sebelum satu hari.


Kuku putih itu mulai menancap erat pada kulit yang tipis, berlahan darah mulai keluar dari tikaman kukunya. Tapi Ares tak merasakan apapun, ia hanya tertunduk diam dan juga tak lagi membalas ucapan istrinya.


Bercerai?

__ADS_1


Mendadak ia merasa frustasi. Emosi yang dirasakan oleh Ares akan membuat ia hilang kendali, tapi untung saja ia masih bisa menahan diri untuk tak lepas kendali, dan memilih melukai dirinya sendiri.


__ADS_2