Suami Yang Tak Sempurna

Suami Yang Tak Sempurna
Lebih dingin


__ADS_3

Menatap kepergian Deanra, Dilo merasa hatinya perih. Lagi-lagi penyesalan itu datang lagi. Andai hari itu ia berani melangkah dan mengiyakan permintaan Deanra, mungkin sekarang mereka hidup bahagia.


"Aku masih sangat mencintaimu, Deanra. Aku harap kamu gak marah dengan yang aku lakukan ini,"


Siang menjelang petang itu mereka berpisah dengan saling bergantung pada harapan yang tidak pasti.


Deanra buru-buru mencari taksi, dia tak ingin Ares lebih dulu datang ke toko dan tak menemukan dirinya di sana. Cukup mereka bertengkar di puncak kemarin saja, jangan lagi, karena dia takut membuat keluarga Ares tahu tentang rahasia yang dia sembunyikan.


"Jalan, Pak." Pinta Dean pada sang sopir taksi.


Dalam perjalanan pikiran Deanra kembali kalut. Tak bisa memilih, sekarang ia menatap jalan dengan tatapan kosong. Dia tak rela melepaskan Dion dengan rasa yang masih tersisa, tapi disisi lain iya juga tak berniat membuat Ares terluka dengan hubungan tanpa perasaan ini.


Dia belum bisa memilih, dia masih butuh waktu lagi untuk menentukan hatinya untuk siapa. Untuk saat ini Deanra menikmati pada hubungan yang gamang ini. Biarlah dia mengantung dua hati yang mungkin saja suatu hari nanti akan ia hancur. Tapi untuk sekarang dia belum siap untuk kehilangan.

__ADS_1


****


pukul Lima sore, Ares sampai di kantor sang istri. Ia sedikit terlambat pulang, karena di rumah ada sedikit yang harus ia selesaikan dulu.


Saat melihat Deanra keluar dari toko dan melambaikan tangannya menyapa Ares, pria itu merasa ada getaran yang aneh dalam hati.


"Katanya mau jemput jam empat sore, kok telat?" Deanra bertanya dengan sedikit merajuk. Ares sedikit ingkar janji, dan ia tak suka dengan ini.


"Maaf, De. Tadi ada sedikit kerjaan," ucap Ares sembari menyambut sang istri dan membatu membuka pintu mobil.


Mobil mulai berjalan dengan di kemudi sopir. Sedangkan Ares dan Dean duduk di kursi belakang dengan sekali-kali saling berbincang.


"Aku tidak sibuk, hanya membatu perusahaan ayah dari rumah saja."

__ADS_1


"Tapi... Setelah kita pulang kamu sering menghilang. Bukannya kamu kerja ya?" Dean menatap bingung suaminya yang terlihat diam. "Apa kamu merasiakan sesuatu?"


Ares diam. Dia tak berniat menjawab pertanyaan istrinya. Baginya hal ini tidak perlu di cerita, karena ia tahu Dean juga tak mungkin peduli apapun yang dia lakukan. cukup membiarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan, Ares rasa hanya itu yang di inginkan Istrinya ini sekarang.


Dia sudah mencoba menggenggam erat pada gadisnya ini, tapi ternyata malah semakin membuat dia menjauh. Kata-kata Dean waktu di puncak masih membuat Ares marah. Sekarang Ares ingin mencintainya dengan caranya sendiri, tak memaksa tapi ia pasti bisa memiliki Deanra seutuhnya.


"Kenapa diam? Apa kamu benar-benar merahasiakan sesuatu dari ku?"


"Tidak ada... Tak ada yang aku rahasiakan dari mu." Ares mengusap lembut puncak kepala Deanra.


mendapatkan perlakuan seperti itu Dean terdiam kaku. Dia menatap lagi wajah yang sekarang terlihat lebih dingin dari pada kemarin awal mereka menikah. Tak tahu kenapa Dean merasa ada yang terbit di hatinya.


Maafkan diriku yang jahat melukai kalian. Aku memang egois, tapi aku juga tak tahu memilih apa. Nyatanya aku masih terbelenggu pada perasaan cinta pada masa lalu.

__ADS_1


*****


__ADS_2