Suami Yang Tak Sempurna

Suami Yang Tak Sempurna
Patah hati


__ADS_3

Jangan bayangkan bagaimana perasaan Ares sekarang. Melihat gadis yang dicintainya sedang duduk di atas ranjangnya, ada sesuatu yang membuat ia tak bisa jika tak tersenyum lebar.


Meskipun istrinya itu terlihat cuek dan tak peduli, tapi dengan keberadaannya saja sudah membuat ia sangat senang. Ingin ia merengkuh tubuh indah gadis itu kedalam pelukannya. Tapi ia tak punya keberanian sebesar itu, takut- takut nanti malah di gampar sang istri karena terkejut.


"Kenapa menatap aku seperti itu?" Deanra bertanya, bingung dengan suaminya yang dari tadi ikut diam sepertinya.


Ah, suami?


Sepertinya ia mulai terbiasa dengan kata-kata, itu. Bahkan ia tak merasa jijik lagi jika mengingat bahwa mereka benar-benar telah menikah.


"Aku... Tidak ada, istirahatlah." Ares beranjak, meninggalkan kamarnya dengan wajah memerah.


Ia benar-benar tak bisa berbicara langsung dengan berhadapan dengan istrinya itu. Mendadak wajahnya semakin memerah saat mengingat kata, Istrinya. Benar-benar sudah memiliki.


Sedangkan didalam kamar, Deanra mengidik bahunya. Berlahan gadis itu mulai membuka pakaian dan menghapus riasan wajahnya. Setelah itu ia mencari letak kamar mandi, setelah menemukannya ia segera berlalu untuk membersihkan diri.


*****


"Loh, Ares. Kok kamu keluar? Dan istri mu mana?" Aisyah bertanya heran. Diruang tamu masih banyak kerabat yang datang berkunjung tadi. pernikahan yang belum selesai sepenuhnya, tentu saja masih banyak tamu yang datang.


"Di kamar," hanya sesingkat itu. Setelah itu dia berlalu ke arah dapur tanpa menoleh lagi ke arah bundanya. Ia ingin minum, membasah tegoroka nya yang terasa kering, berada didekat Deanra benar-benar membuat ia tidak konsisten.

__ADS_1


Eh, emang dia pernah konsisten? Waras?


Ares tersenyum tipis. Dicap sebagai anak tak waras, pria gangguan jiwa sudah sering ia dengar dari saudara-saudara ibu dan ayahnya, jadi kali ini jika istrinya berkata juga seperti itu nanti, ia rasa tak masalah. Karena sudah terbiasa!


Karena kenyataannya dia memang tak sempurna.


Setelah merasa ia sudah tak haus lagi, ia segera beranjak ke kamarnya lagi. Tak ingin meninggalkan Deanra sendiri, ia ingin semakin mendekati gadis itu. Meskipun kata-kata Deanra kemarin masih menjadi ketakutannya, tapi ia akan berusaha agar hati Deanra beralih padanya suatu hari nanti.


.....


Duduk termenung menatap senja yang berlahan mulai hilang. satu hati yang remuk sedang berusaha untuk mengumpulkan serpihan-serpihan kecil itu agar bisa kembali utuh. Tapi sayangnya, itu tak bisa.


Hatinya terlanjur hancur setelah melihat seseorang yang teramat dipujanya bersanding dengan orang lain. Tapi apa dia pantas menyalahkannya?


Dengan egois ia tetap pergi keluar kota untuk menyelesaikan pekerjaannya. Waktu satu Minggu yang ditawarkan kekasihnya ia abaikan bagaikan hal yang tidak penting. Setelah sepuluh hari berlalu ia kembali ke kotanya dengan harapan kali ini ia akan memenuhi impian kekasihnya.


Tapi dihari itu... Hari dimana ia merasa hancur. Saat dia datang kerumah kekasihnya, ia malah diusir pergi oleh ayah Deanra. Dan ucapan terakhir pria paruh baya itu lah yang membuat hidupnya terasa jungkir balik.


"*Kenapa kamu datang baru sekarang?! Kau sudah terlambat anak muda, sekarang pergilah dari rumah ini!"


"Tapi Om, saya ingin menemui Deanra."

__ADS_1


"Terlambat. Kemana saja kamu saat saya memberi waktu satu Minggu kemarin?!"


Saat itu Dilo merasa terkejut, ia berpikir kenapa ayah Deanra tahu tentang waktu satu Minggu itu.


"Apa maksudnya Om?"


"Denara sebentar lagi akan menikah dengan pria pilihan kami, jadi kamu sudah tidak bisa lagi berhubungan dengannya! Dan satu hal lagi, anak muda. Jangan salahkan saya ataupun putri saya, karena kami telah memberi mu waktu, kau saja yang tidak serius mencintai anak saya*!"


Saat itu Dilo tak bisa berkata-kata lagi. Melihat ayah Deanra meninggalkannya di teras rumah, ia merasa tak punya nyali lagi untuk bertemu dengan gadisnya. Bahkan ia hanya bisa meremas kotak cincin yang ia rencanakan untuk melamar sang kekasih.


"Ternyata aku benar-benar ditinggalkan...," Gumam Dilo lemah.


Dirinya seperti senja, berlahan-lahan menghilang dan hanya meninggalkan keindahan diujung alam. Cahaya indah itu berlahan akan hilang dan digantikan dengan gelapnya malam yang sunyi. Seperti hidupnya sekarang, setelah merasa begitu bahagia menemukan kekasih sebaik dan secantik Denara, tapi takdir memisahkan mereka sehingga sekarang hidupnya sunyi bagaikan malam gelap gulita.


"Aku menyesal... Aku mencintaimu, Dean." Kata itu ia gumamkan sembari tersenyum perih dengan ditemani senja yang membuat ia semakin merasa hampa.


Ia ingin beranjak pergi meninggalkan tempat itu atau dirinya akan semakin gila karena merana nantinya. Tapi tak sengaja sesuatu malah terjatuh, membuat ia menoleh pada benda itu.


Kotak cincin?


Dilo mengeram marah. Ia kembali rasanya ingin mengamuk. Benda ini membuat ia kembali merasakan sakit hati, kenapa dia tiba-tiba terjatuh saat yang tidak tepat seperti ini.

__ADS_1


"Menyebalkan!" Makinya pada diri sendiri. Ia mengambil kotak itu, lalu kembali melangkah menuju dimana mobilnya yang sedang terparkir.


*****


__ADS_2