
Seolah ingin melupakan semua yang pernah terjadi, Deanra memilih hidup damai bersama suaminya. Hanya saja ia belum bisa mencintai Ares, jadi ia meminta pada pria itu untuk tetap pada hubungan seperti ini saja.
Ia berjanji akan menjadi istri yang sesungguhnya, melakukan semua kewajibannya sebagai seorang istri. Hanya saja satu yang ia pinta, ia tidak ingin suaminya memberi nafkah batin sebelum dia benar-benar bisa menerima atau kata lain mencintai Ares sesungguhnya.
Tentu saja Ares menerima dengan senang hati. Dari awal ia menyukai gadis ini bukan hanya karena ***, tapi benar-benar ingin hidup bersama. Ia bahkan dengan senang hati mengatakan akan membatu gadis itu jatuh cinta padanya.
"Jadi... Inikah perjanjian yang ingin kau katakan?" Ares bertanya dengan ragu. Tadi ia sempat berpikir istrinya ingin membuat perjanjian dan berniat minta cerai. Tapi ternyata hanya masalah sesederhana ini, ia menyesal berburuk sangka.
"Ya," Deanra tersenyum kecil, "tapi bolehkah aku bertanya sedikit tentang dirimu?"
"Tentang apa?"
Deanra tahu mungkin ini akan sedikit menyinggung perasaan Ares, tapi bukankah mereka suami istri, jadi wajar kan jika dia ingin tahu?
"Itu... Sebenarnya kau sakit apa?"
Saat pertanyaan itu terucap, Ares terdiam membisu. Ia sedikit tertunduk, mungkin malu dengan kekurangan yang dia miliki. Jika saja bukan istrinya yang bertanya, mungkin sekarang ia sudah pergi menghindari Deanra. Tapi ia tidak bisa melakukan itu.
Deanra mengerti, jadi ia mengusap bahu Ares supaya rileks, dan nyaman bercerita dengannya.
"Apa kamu benar-benar ingin tahu?"
"Tentu saja... Apa kamu keberatan?"
Ares mengeleng. Ia tidak keberatan, hanya saja dirinya malu jika Deanra tahu kekurangannya. Bagaimana jika gadis ini akan semakin benci dan takut padanya nanti?
"Aku... Aku penderita autisme... Gangguan mental,"
Sebenarnya tak bisa dikatakan gangguan mental. Tapi Ares tak tahu cara menjelaskannya, lagi pada orang-orang sering bilang begitu, jadi dia juga mengambil kesimpulan seperti itu juga.
Deanra yang sudah tau, dan sudah paham juga dengan apa yang disebut dengan autisme, jadi ia agak sedikit terkejut mendengar Aras bilang gangguan mental.
"Gangguan mental? Aku rasa tidak. Kenapa kamu berkata seperti itu?"
__ADS_1
"Karena orang-orang berpikir seperti itu, Dean."
"Lalu kamu percaya?"
Percaya tak percaya, bukankah ia harus menerimanya? Ares tersenyum sedih. Dulu ia juga pernah coba untuk tidak mendengar kata-kata orang, mencoba untuk menjadi manusia normal seperti orang lain. Tapi pada kenyataannya ia tetap tak bisa, dia rapuh, dia tak bisa berdiri pada kakinya sendiri.
Rasa percaya dirinya yang bilang semakin membuat ia kehilangan kontrol. Meskipun sering melakukan konsultasi dengan dokter, tapi tetap saja terkadang ia suka hilang kendali dan menyakiti dirinya sendiri.
Meskipun autisme yang dideritanya bisa dikatakan ringan, tapi pola pikir dan tekanan dari ucapan-ucapan orang lain yang sering membuat otaknya tak bisa bekerja maksimal. Ia tak bisa bersentuhan dengan orang lain, hanya beberapa orang saja, dan itu belum diketahui orang Deanra. Selain itu jika diluar ia sangat sulit berinteraksi dengan orang-orang, karena itulah sang bunda dan ayahnya tak pernah mengizinkan ia keluar sendiri.
*****
Deanra mengambil satu kain kasa dari lemari yang ada di kamar. Dan tak lupa ia juga membawa kotak yang berisi obat. Saat dia sudah kembali duduk di atas ranjang, ia mulai memotong kain kasa itu dan mengeluarkan beberapa obat luka.
Dia tak percaya pembicaraan kecil mereka akan berakhir seperti ini. Ares yang hilang kendali, melukai dirinya bahkan Denara sendiri tak bisa menghentikannya. Pada akhirnya pria itu mendapat luka-luka di lengan dan juga beberapa di lehernya.
Tapi satu hal yang tak dimengerti oleh Deanra. Ares yang hilang kendali malah tak menyakiti dirinya. Padahal tadi ia begitu dekat dengan pria itu saat mencoba menghentikan tindakan ekstrimnya.
"Apakah sakit?" Denara melihat luka di punggung tangan Suaminya yang cukup parah.
"Masih saja tak ingin mengatakannya." Deanra sedikit cemberut, "sebenarnya kenapa kamu harus bersikap seperti ini? Kita hanya bercerita, kenapa harus membuat mu begitu emosi?"
Ares diam. Dia kembali mengepalkan tangannya dengan kasar. Menyadari itu Deanra segera menghentikannya, tak ingin ada luka baru lagi untuk pria ini nantinya.
"Aku malu... Kamu pasti takut padaku? Apa aku benar-benar seperti orang gila?"
Deanra terhenyak mendengar pertanyaan ini. Ia menatap mata Ares yang dari tadi mencoba menghindarinya. Jadi inikah yang dicemaskan pria ini dari tadi? Sehingga menyakiti dirinya sendiri?
Deanra memejam matanya kesal, "bukankah kau bilang ingin aku benar-benar menjadi istrimu? Lalu kenapa kau harus malu menunjukkan kekurangan mu padaku?"
"Karena kamu akan semakin benci dan takut padaku," ucap Ares lemah.
Bukankah semua wanita menginginkan pasangan yang sempurna, yang tampan dan juga sehat mentalnya. Tapi dia apa? Bahkan hal kecil seperti tadi saja dia sudah membuat Deanra ketakutan. Lalu bagaimana dengan nanti sepanjang hidup mereka? Mampu kah gadis itu bertahan?
__ADS_1
"Aku tidak takut. Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
Ares tak lagi menjawab. Dia diam, dan dengan diamnya ini Deanra yang tadinya biasa-biasa saja sekarang benar-benar menjadi takut. Bukan takut dia akan hilang kendali lagi, tapi takut dengan pikiran-pikiran Ares tentang dirinya.
"Kamu sempurna... Hanya sedikit perbedaan dengan orang lain, kenapa harus berpikir begitu buruk."
Diam.
Deanra kembali melanjutkan ucapannya, "jika dirimu seperti ini, selalu tertutup dan tak ingin berbicara tentang kekurangan mu pada ku... Mungkin aku juga akan menjadi ragu untuk melakukan hal yang sama." Deanra menarik nafas, "Asalkan kamu tahu saja, mungkin aku lebih banyak kekurangannya, tapi hanya tertutup dengan kesempurnaan fisik saja."
"Tidak! Kamu sempurna, Dean!" Ares Langsung menjawab dengan cepat, seolah tak setuju dengan pernyataan istrinya itu.
"Apa kau ingin tahu sedikit kekurangan ku?"
"Apa?"
"Aku adalah perempuan yang memiliki emosi yang buruk. Jika sedang marah, aku bisa menghancurkan apa saja yang ada disekitar ku." Deanra tertawa setelah membocorkan keburukannya itu. Tapi hal itu malah semakin membuat Ares menarik alisnya tak mengerti.
"Tapi aku melihat mu tak seperti itu, Dean. Kamu lembut,"
Deanra tersenyum kecil, "aku sudah bilang. Banyak rahasia diantara kita, Ares. Jika kamu tak ingin membuka diri padaku, tentu saja kamu juga tak akan mengenalku juga."
Deanra tak ingin berbicara lagi. Jadi setelah selesai mengobati luka-luka di tubuh suaminya ia segera beranjak pergi.
"Sudahlah, sebaiknya kamu istirahat dulu. Mengeluarkan darah, kamu pasti sangat capek."
Ares tak setuju, ia ingin bicara lebih banyak lagi dengan gadis itu. Tapi saat dirinya ingin mencegah Deanra sudah lebih dulu menghilang dari balik pintu kamar.
Aku kan selalu mencintaimu disetiap kekurangan mu, Dean. Aku harap suatu hari nanti kamu juga sama... Mencintaiku disetiap kekurangan ku.
*****
Nah, sekarang update dua bab. Selain aku yang harus semangat mengetik, kalian juga harus semangat memberi dukungan ya☺️
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan juga komentar terbaik kalian 😘