Suami Yang Tak Sempurna

Suami Yang Tak Sempurna
pelukan


__ADS_3

Deanra memasuki kamarnya dengan langkah lebar. Tapi saat ia tak menemukan suaminya disana, ia segera masuk ke ruangan rahasia yang kemarin ia diberi tahu. Benar saja, Ares ada disana. Pria itu terlihat begitu fokus pada komputer di depannya, bahkan mungkin tak menyadari kedatangan Deanra.


"Aku pulang...."


Ares sedikit terkejut. Ia melepaskan tatapannya dari layar komputer dan menatap sang istri yang datang sambil menenteng tas belanjanya.


"Kamu sudah pulang? Kenapa aku tak mendengar pintu terbuka?"


Deanra tersenyum tipis. Bagaimana mungkin Ares bisa mendengar kedatangannya, sedangkan dia begitu fokus dengan pekerjaan. Sejak kemarin pria ini menceritakan sedikit rahasia padanya, berlahan ada rasa kagum yang tumbuh dalam dirinya.


Dia sehebat itu...


Meskipun tak memiliki kemampuan berinteraksi di luar dengan baik. Tapi Ares punya otak yang sangat cerdas untuk urusan komputer dan benda sejenis lainnya. memiliki IQ yang tinggi, suaminya bahkan seorang hacker yang bersembunyi di balik layar.


Ya, Deanra baru tahu pekerjaan suaminya setelah dia sering berbagi cerita. Bakat yang tersembunyi, dan hanya beberapa orang saja yang mengetahui rahasia ini. Mungkin kedua orang tua Ares dan juga dirinya, pikir Deanra.


"Aku membawa sesuatu untuk mu, Ar. Mau lihat?"


Deanra mengangkat tas belanjanya di depan sang suami, yang langsung disambut dengan rasa penasaran Ares. Tangan dia terulur mengambil hadiah dari istrinya, tanpa dapat di cegah rasa bahagia memuncak di dada Ares mendapat perhatian kecil ini.


"Kamu membeli apa?"


"Buka saja, kamu akan tahu nantinya."


Ada tiga baju di dalamnya. Ares mengambil satu persatu, ada satu warna hitam dan satu lagi warna abu-abu yang sangat di sukai Ares. Tapi yang ketiganya...


PING?


Apa istrinya bercanda? Membeli baju warna ping untuk dirinya, Deanra pikir dia cowok apaan?


Deanra yang mengerti dengan raut tak senang Ares, dia segera mengambil baju itu dan mencoba mencocokkan pada tubuh sang pria.


"Dean...?"

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu gak suka?"


"Bukannya gak suka, De. Tapi warna ini?" Ares diam, "laki-laki gak boleh pakai baju warna ping."


"Siapa yang bilang? Aku beli ini karena aku tahu ini pasti akan bagus jika kamu memakainya. Lagi pula ini zaman apa? Gak ada larangan seperti itu, Ar."


Ares berdecak pelan. Ia merasa Deanra tak mengerti. Memang bukan tak ada masalah jika laki-laki memakai pakaian apapun, tapi dirinya? Dia tidak suka, dan tidak pede. Bagaimana pun ia tak akan mau... Tapi apa dia bisa menolak pemberian pertama istrinya?


"Aku tidak suka warna ini... Kamu simpan saja, De. Aku akan pakai yang dua ini saja,"


Deanra cemberut. Ares yang menolak membuat ia tak puas hati, padahal tadi dia malah sangat suka warna ini jika Ares pakaikan.


"Kamu membuang pemberian ku?"


Ares terkejut, dia tak ada niat bilang begitu. Hanya ingin menyimpannya saja, karena dia tak suka.


"Bukan begitu, De... Aku gak bisa pakai..."


"Sama saja!"


"Sama saja, pada akhirnya kamu tetap tidak akan pakai." Deanra cemberut, lalu tiba-tiba ia berpikir, "Jika kamu tidak mau lebih baik aku berikan pada Mangala saja!"


Ares tak senang. Bagaimana mungkin hadiah yang di belikan istrinya akan diberikan pada orang lain. Meskipun Manggala adiknya Deanra, tapi ia tetap tidak suka!


"Baiklah, baiklah. Aku akan memakainya,"


"Tidak usah! Lebih baik aku berikan pada adikku!" Deanra melipat baju itu lalu ia beranjak ingin keluar.


Ares langsung menghentikannya dengan cepat, ia menarik baju itu dari tangan sang istri sedikit keras. "Kamu membelikan untuk aku, tidak boleh memberikan pada orang lain!"


"Tapi kau..."


"Aku berubah pikiran," Ares berucap santai. Pria itu segera membawa baju itu dan meletakkannya di atas ranjang yang ada diruang itu.

__ADS_1


Sedangkan Denara... Dia masih terlihat bingung dengan tingkah Ares. Kenapa dia marah? Padahal tadi dia yang menolak baju pembeliannya.


Karena melamun, Deanra tak sadar suaminya telah kembali berdiri di depannya.


"Kamu sudah makan, De?"


Deanra mengeleng. Ia memang belum sempat makan saat di restoran tadi, karena sudah keburu pergi.


Ares tak bertanya lagi, tapi ia segera melangkah keluar. Tapi sebelum itu ia kembali menoleh, "Kamu istirahat dulu, ya. Aku keluar sebentar," ucap Ares. setelah itu ia berlalu pergi.


Deanra menurut ucapan Ares. Ia segera naik atas ranjang, dan merebahkan dirinya dengan nyaman disana. Denara merasa senang disini, ruangan ini sangat nyaman, apalagi hanya mereka berdua saja. Disini tak hanya ada ranjang, tapi juga ada Sofa sedang dan juga sebuah meja bundar yang tak terlalu besar. Sepertinya tangan ini di desain sedemikian rupa sehingga menjadi begitu Nayaman dan menyenangkan untuk beristirahat.


Tak berapa lama pintu kembali terbuka, tapi seolah tau Deanra malas membuka mata.


"Kamu gak boleh tidur dulu, De. Makan dulu... Baru istirahat." Ares berkata lembut. Mendengar hal itu segera Deanra bangunan dan menatap suaminya terkejut.


"Loh... Kok kamu bawa nasi kesini?"


"Biar kamu bisa makan," ucap Ares sembari tersenyum.


Deanra tertegun. Dia merasa ini berlebihan. Sebagai seorang istri saja ia belum melayani suaminya dengan benar, tapi kenapa pria ini harus memberikan perhatian yang begitu besar untuknya.


Apa dia tidak senang? Tentu saja senang. Hanya saja Deanra takut, takut ia semakin jatuh pada kebaikan ini, dan suatu hari nanti tak bisa berdiri pada pendiriannya lagi.


"Ares...," Deanra memangil, tapi ia tak melanjutkan ucapannya, memilih menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar.


Ares tersenyum, "jangan ngomong dulu, Dean. Cepat habiskan makanan ini, setelah itu baru istirahat."


Deanra tak tahan. Jadi dia langsung mendekat dan menghambur dalam pelukan Suaminya yang tentu saja membuat Ares terkejut tak percaya.


Deanra mau memeluknya?


*****

__ADS_1


Mohon maaf ya kalau ada kesalahan dalam penulisannya, harap di maklumi saja😁


Dan juga jangan lupa tinggalkan jejak terbaik kalian. Biar tambah semangat nulisnya 😘


__ADS_2