
Liburan yang Ares janjikan akhirnya jadi juga. Pagi ini mereka berdua dan ditemani dengan satu orang supir akan berangkat menuju puncak.
Rencana ini agak sedikit mendadak, bahkan persiapan mereka tak sepenuhnya dibutuhkan sih, karena di villa keluarga Ares sudah disiapkan semuanya. Deanra hanya butuh menyiapkan sedikit pakaian gantinya saja, karena di sana baju Ares pun sudah ada jadi tak perlu dibawa.
"Kamu sudah siap?" Ares membantu istrinya membawa tas ransel kecil.
Deanra menganguk. Ia segera menerima uluran tangan Suaminya, dan mereka melangkah keluar kamar. Sedangkan di ruang tamu Aisyah dan juga Abi sedang menunggu mereka. Wanita paruh baya itu terlihat tersenyum tipis, Dia senang melihat putranya mulai bahagia dan tak sedingin dulu lagi pada orang-orang.
Ini bisa dibilang berkat menantunya, ternyata cinta sang anak pada anak temanya ini sangat dalam, sehingga bisa begitu membuatnya berubah.
"Sudah mau berangkat ya? Perlengkapan kamu sudah dibawa semua, De?" tanya Aisyah pada menantunya.
Deanra menganguk pelan "sudah, Bun."
"Kalau begitu berhati-hati, ya."
Setelah berpamitan mereka segera berangkat. Sepanjang jalan hanya terjadi kesunyian saja, mereka tak berbicara sampai Deanra tertidur pulas di samping Ares.
Menyadari itu Ares segera menarik kepala Dean di pundaknya. Berlahan senyum tipis terbit di bibirnya. Ia suka seperti ini, meskipun Deanra terasa jauh tapi diwaktu tertentu mereka juga bisa terasa dekat.
Seperti kemarin misalanya. Mereka yang tertidur berdua di kamar rahasia, lalu berakhir dengan istri kecilnya yang memeluk saat tidur. Mereka terbangun setelah Sore, dan saat mereka menyadari posisi mereka, bukannya saling menjauh tapi malah semakin menikmati pelukan hangat masing-masing.
"Aku mencintaimu Istri kecilku,"
*****
Mereka sampai setelah jam menunjukkan pukul enam sore. Perjalanan yang cukup melelahkan, karena terjebak macet mereka jadi begitu lama sampainya.
__ADS_1
Deanra menatap langit yang mulai tampak memerah pertanda jika hari sudah senja dan sebentar lagi akan gelap. Ia menghembus nafas panjang, lalu kembali menoleh melihat Ares yang masih terlihat nyaman tertidur di ranjang mereka.
Lagi-lagi terdengar tarikan nafas panjang Deanra. Jika dalam kesunyian seperti ini ia akan kembali berpikir, kenapa semuanya masih terasa mimpi?
Melihat Ares yang terlelap, melihat pria itu jika bersikap manja dan perhatian padanya. Ia merasa itu masih menjadi mimpi baginya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Deanra melihat siapa yang menelpon dirinya. Tapi saat melihat nama yang tertera di depan layar ponsel berlahan senyumnya menjadi merekah.
"Dilo,"
Dia segera keluar dari kamar. Menjauh agar Ares tak mendengar obrolan mereka yang mungkin akan sedikit panjang mengingat beberapa hari dan Minggu ini dia menghindari Dilo.
Dan hasil yang ia terima ternyata tak bisa. Ia tak bisa menjauh dari sosok Dilo, bahkan sekarang ia merasa begitu merindukan pria berkulit sawo matang itu.
"Halo, kak Dilo..." Deanra menyapa dengan sedikit gugup.
Deanra semakin tersenyum, dia sudah menduga. Pasti Dilo pusing mencarinya, dia tahu sifat mantan kekasihnya itu, karena itu dia begitu merindukannya.
"Ada apa mencari ku, Kak. Apa ada hal penting?"
"Kamu dimana? Kenapa menghindari Aku selama ini, De? Apa aku buat salah padamu?" Dilo bertanya dengan buru-buru, rasanya pria itu ingin bergerak sekarang, bahagia sekali dia kembali bisa berbicara dengan perempuan cantik itu.
"Kamu bicara apa, Kak? Kalau mau bertanya satu-satu," ucar Dean, "maaf menghindari mu kak, Sekarang aku benar-benar butuh waktu. Tak ingin ada salah paham, aku hanya sedang mencoba menghabiskan waktu bersama Ares." Tak ada rahasia Deanra langsung mengatakan apa yang dia pikirkan.
Tapi di sebrang sana ada satu pria yang merasa hatinya tercabik-cabik. Jadi ini alasan Deanra menjauhinya?
Ia mulai terkekeh kecil, berpikir siapa dirinya sehingga harus di pedulikan perasaannya?
__ADS_1
"Dean... Apa sekarang aku merasa kamu mulai bersikap lebih memikirkan dirinya? Apa kamu sudah mencintai? Dan...," Dilo tak melanjutkan ucapannya, ia terdiam, menunggu ucapannya di balas oleh Deanra.
"Kak Dilo... Kenapa berbicara seperti ini? Bukankah dulu kita sudah membicarakan...,"
"Membicarakan apa, De?! Kenapa kamu merupakan tentang kita begitu cepat. Aku tahu kamu dan dia sudah menikah, tapi bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan cinta kita...?"
Pertanyaan ini bagaimana sembilu yang menyayat hati. Tak ada yang mengerti, jika pihak yang paling terluka disini adalah dirinya. Dilo yang terjebak pada rasa cintanya yang belum usai. Lalu Dean berbicara tentang pria lain di telinganya, bagaimana rasa hatinya?
Dia ingin gadisnya kembali?
Dia ingin egois kali ini. Ingin memiliki Deanra lagi seperti dulu. Lagi pula melihat bagaimana Dean yang masih memberinya waktu dan tak menjauh, dia yakin perempuan itu juga masih mencintainya.
Setelah tak lagi mendengar suara, tiba-tiba panggilan telepon terputus, dan itu pasti ulah Deanra yang sedang galau.
Dilo membanting ponselnya ke ranjang. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Sekarang ia berpikir, dia bisa menyingkirkan Ares dari hidup Deanra, dan mungkin hal itu yang bisa membuat mereka berdua kembali bersama.
Lagi pula dia yakin gadisnya itu pasti juga tersiksa hidup bersama pria yang tak dicintainya. Berlahan senyum licik Dilo mulai muncul, dia menyeringai.
Dia yakin tak akan sulit, tapi akan lebih mudah lagi jika Deanra mau membantu. Di akan membuat Perempuan itu kembali jatuh cinta padanya, dan saat itu tiba hanya dengan satu anggukan saja gadisnya yang keras kepala itu pasti akan meninggalkan Ares.
"Aku kembali... Aku akan merebut kembali yang seharusnya menjadi milikku." Dilo tersenyum devil.
Seharusnya dari lama dia melakukan ini, bukan malah memberikan kesempatan mereka untuk menikmati waktu bersama dan membuat mereka semakin dekat.
****
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak yaππ
__ADS_1