Suami Yang Tak Sempurna

Suami Yang Tak Sempurna
Rahasia


__ADS_3

Kembali sibuk dengan kegiatannya, setelah satu Minggu libur, Deanra terpaksa harus datang ke toko lagi seperti biasa.


Akhir-akhir ini toko sering mendapatkan pesanan bunga yang banyak, karena kabar baik ini Deanra tak bisa duduk diam dirumah lagi. Dia hanya punya satu karyawan, jika dirinya libur jadi Mbak Dila akan sangat kerepotan nantinya.


"Kok cepat banget kamu masuknya, Dean? Gak pergi honeymoon dulu?" Mbak Dila mengoda bosnya itu.


Deanra tersenyum saja. Sebenarnya ia ingin tertawa mendengar kata honeymoon ditanyakan.


Mampukah dia?


Eh!


Ia terkekeh geli dengan pemikiran gilanya. Kenapa dia bisa memikirkan masalah itu? Deanra tersentak, ia menatap Mbak Dila yang mengeryit heran dengan dirinya yang tiba-tiba tertawa sendiri.


"Sudahlah, ayo kita kerja lagi, Mbak."


Dia sudah biasa tertutup dengan masalah pribadi selama ini. Jadi jika sekarang ia bersikap seperti ini Dila merasa tak heran. Memang begitulah adanya seorang Deanra, selalu tertutup pada banyak orang, dan selalu terlihat baik-baik saja dan tak pernah terlihat seperti wanita lemah dihadapan orang lain.


Tapi sungguhkah dia sekuat itu?


Ada banyak pekerja, jadi dia memilih mengabaikan Mbak Dila. Meskipun demikian ia tidak bisa menghindari pikiran-pikiran di dalam benaknya, terlalu rumit untuk dipikirkan, tapi inilah kenyataan.


****


Setelah semua pekerjaan untuk hari ini selesai, Denara segera pulang lebih cepat kerumah suaminya. Ia tak boleh telat, seorang istri bukankah harus ingat untuk melayani suaminya, jadi untuk sekarang ia pulang sore, agar bisa membantu sedikit pekerjaan rumah bersama mertuanya nanti.


Deanra mengetuk pintu rumah, setelah itu segera masuk ke dalam setelah mertuanya membuka pintu.


"Kok pakai mengetuk pintu, Dean? Kan kamu tinggal masuk saja,"


"Maaf, Bun. Belum terbiasa," ucap Deanra sedikit malu.


"Kalau begitu cepat-cepat dibiasakan ya. Ingat sekarang ini rumah kamu, bukan rumah orang lain!" Bunda Aisyah berkata sambil duduk di sofa, yang disusul oleh Deanra duduk di sisi lain.


"Iya, Bun."

__ADS_1


Setelah berbicara beberapa menit, Deanra segera pamit ke kamar untuk membersihkan diri. Sedangkan Aisyah kembali melanjutkan menonton TV. Tak ada yang perlu dikerjakan sekarang, karena dia sudah menyelesaikannya dari tadi.


Didepan kamar Deanra sedikit ragu, langsung masuk atau ketuk pintu dulu? Tapi kalau dia langsung masuk bagaimana jika nanti Ares sedang dalam kondisi tidak senonoh. Tapi jika dia mengetuk... Bukannya bunda tadi bilang ia harus mulai terbiasa di rumah ini?


Pada akhirnya dia tak ingin banyak berpikir, Deanra langsung masuk kedalam kamarnya. Tapi saat ia menatap pada sekeliling kamar itu, ia tak melihat keberadaan suaminya.


"Dia kemana?" Deanra bertanya pada dirinya sendiri. Melihat kamar yang kosong ia berpikir mungkin Ares sedang keluar rumah atau mungkin ke taman belakang seperti hari itu.


Deanra meletakkan tas kerjanya, berlalu menyambar handuk, setelah itu ia segera masuk kedalam kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya.


Tapi bersamaan dengan itu, seseorang keluar dari pintu rahasia di samping kamar Ares, yang mana ruangan itu berada di dalam kamar Ares yang tidak banyak orang ketahui.


Ia keluar karena mendengar seseorang masuk ke dalam kamarnya. Tapi saat melihat ada tas Deanra di atas ranjang, ia tahu siapa tadi yang menggangu konsentrasinya.


Dia segera menyambar tas yang terbuat dari kulit itu, dan memindahkannya di atas meja dengan rapi.


"Dia pulang...," Ares bergumam lirih, ia tersenyum senang memikirkan ada seseorang yang akan selalu pulang untuk dirinya.


Tak begitu lama Deanra keluar dari kamar mandi dengan hanya dibaluti handuk tipis. Saat melihat keberadaan suaminya ia sedikit terkejut, tapi ia kembali melakukan langkahnya mengambil pakaian.


"Dean... Kamu kenapa tidak pakai baju?"


Deanra terkekeh geli, "memangnya kenapa? Aku sudah biasa seperti ini kalau selesai mandi. Jadi maaf jika membuat mu tak nyaman," Berucap dengan sedikit tak peduli. Lalu dia kembali melanjutkan langkahnya masuk kedalam kamar mandi lagi.


Ares mengerang frustasi. Gadis ini benar-benar membuat sesuatu yang tidak pernah bangun tapi hari ini serasa mau mengila. Apa dia harus melanggar janjinya?


Melihat istrinya yang kembali dengan pakaian lengkapnya, secara tak sadar Ares menarik nafas lega. Dan hal itu tertangkap oleh penglihatan Deanra, membuat tawa gadis itu pecah seketika.


"Astaga... Tuan Ares, jangan bilang dari tadi anda menahan nafas karena melihat istrimu ini."


"Cek! Jangan mengoda ku, Dean." Ares cemberut, ia tak suka Deanra yang mentertawakannya. Ia lebih suka Deanra yang cuek, tapi perhatikan padanya. Kalau seperti ini ia jadi salah tingkah sendiri, tak tahu cara membalas, karena ia sendiri adalah orang yang minim dengan komunikasi.


Deanra mengerti, jadi ia tak lagi berkata. Ia memilih duduk di samping Ares, dan mulai berbicara tentang hal lain.


"Kamu dari mana? Kok tadi gak kelihatan?"

__ADS_1


"Kamu mencari ku?"


Dean mendengus, "kalau orang bertanya gak boleh balas bertanya, Ar."


Ares diam, menatap lurus ke depan seolah memikirkan sesuatu yang harus ia pertimbangkan.


"Ayo ikut aku," Dia langsung menarik tangan Dean dengan lembut. Sedangkan gadis itu tak mengerti, tapi tetap mengikuti langkah suaminya yang berjalan pada satu sisi dinding.


Ares menyentuh sebuah bingkai foto, secara berlahan ada pintu yang terbuka dari balik-balik dinding itu. Jika orang yang tidak tahu ada ruangan lain di balik dinding itu pasti tidak akan menyangka, begitu pun yang dirasakan Deanra sekarang. Apalagi keberadaan pintu itu sangat rahasia, dilihat dengan teliti pun pasti orang tak akan bisa menemukannya.


"Apa ini?" Secara tak sadar Deanra bertanya dengan wajah yang masih terkejut.


"Aku akan menjelaskannya... Setelah ini, ruangan ini akan menjadi rahasia kita berdua. Hanya kamu dan aku yang tahu,"


Deanra semakin terkejut, "hanya kita? Lalu bagaimana dengan orang tua mu?"


"Mereka mungkin tahu tentang ini, Dean. Tapi aku tidak pernah menunjukkannya secara langsung pada mereka."


"Jika mereka tidak, kenapa dengan aku kamu beri tahu?"


Ares tersenyum, ia secara refleks mengangkat tangannya dan membelai rambut hitam yang sedikit keriting itu.


"Karena setelah ini tempat ini juga menjadi milikmu. Jika kamu tak menemukan ku, carilah aku disini, oke?"


Deanra diam. Masih bingung dengan Ares yang terlalu banyak misterinya. Ia tak tahu setelah ini ada rahasia apa lagi, dan aneh apa lagi yang dia punya nantinya.


Deanra menatap sekeliling kamar rahasia itu. Tidak terlalu besar, bahkan bisa dikatakan cukup sempit, tapi sangat nyaman untuk dua orang berada didalam sana. Ia juga menemukan satu ranjang kecil disana, dan disisi lain ada meja kerja beserta beberapa buku, komputer dan juga laptop tentunya.


"Apa ini tempat kerja mu?" Ares menganguk.


Sebenarnya Deanra juga ingin bertanya, apa pekerjaan suaminya itu, tapi ia sedikit tak berani. Jadi Deanra memilih menikmati nyamannya ruangan itu tanpa bertanya apapun lagi.


*****


Jangan lupa sayang.... Tinggalkan jejak terbaik kalian, agar aku makin semangat nulisnya 😘😍

__ADS_1


__ADS_2