
Tak ada lamaran, setelah kedua orang tua pihak pria datang melamar dan memberi cincin pada Denara. Dan sekarang tibalah saatnya hari pernikahan datang.
Dalam kurun waktu dua bulan entah mengapa terasa teramat singkat bagi Deanra untuk menyiapkan dirinya. Pada nyatanya tetap saja ia merasa tak siap menikah dengan pria yang tidak ia kenal.
Sampai sekarang Deanra tak mengerti, kenapa kedua orang tuanya dan juga keluarga pihak pria tak pernah mempertemukan dirinya dengan sang calon suami. Entah apa yang mereka sembunyikan, sampai sekarang ini masih menjadi misteri dalam hidupnya.
Beberapa kali dirinya sudah mencoba menolak, dan juga menghentikan perjodohan ini. Tapi sang ayah sepertinya masih basikeras untuk dirinya tetap menikah dengan pilihan mereka.
"Dean,"
"Iya, Bu."
Syakira mengusap puncak kepala putranya dengan sayang, "hari ini kamu akan bunda izinkan bertemu dengan calon suami mu."
"Maksudnya? bukankah hari pernikahan kami besok?"Deanra tak mengerti dengan pikiran ibunya, jika sesingkat ini untuk apa perlu waktu bertamu. Ia sudah pasrah dengan apa kata orang tuanya, jika lebih baik ia tak usah sama sekali berjumpa dengan pria itu, atau nanti pikirannya akan berubah lagi.
"Iya," Syakira terdiam sejenak, "Setidaknya kamu tahu wajah calon suami mu. Bunda tak ingin nanti kamu malah pingsan di pesta pernikahan kalian."
Jika ibunya berbicara dengan tersenyum mungkin Deanra akan menganggap bahwa ibunya sedang bercanda. Tapi wajah serius dan penuh keraguan itu membuat hati gadis manis itu semakin merasa takut.
"Jika begitu ... lebih baik tidak, Bu." Jika yang diakibatkan ibunya benar, lebih baik besok saja ia menghadapi semuanya, "Besok ataupun sekarang, bukankah itu sama saja. Aku juga tak berniat untuk keluar rumah hari ini," ucap Deanra.
__ADS_1
"Tak perlu keluar, Dia sudah ada disini." Deanra tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Dia ada disini?
Dirumah ini?
Sekarang ia kembali merasa semua telah direncanakan orang orang tuanya. Dirinya tak diberi pilihan menolak, sungguh ini sangat membuat dirinya frustasi.
"Baiklah,"
*****
"Tidak mungkin!" Otak Deanra merasa ini mimpi. Ternyata hidupnya benar-benar telah ditipu mentah-mentah oleh orang tuanya sendiri. Bagaimana bisa?
Dia orang yang paling ditakuti, tapi sekarang malah akan menikah dengannya. Tanpa di bilang dia sudah bisa menebak, jika pria yang ia kenakan dengan nama Ares itu adalah calon suami yang dikatakan oleh ibunya.
Deanra menelan ludah dengan kasar. Sekarang ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, Membatalkan pernikahan?
Itu tidak mungkin. Semua undangan sudah disebarkan, bahkan hanya Tinggal sehari lagi yang tersiksa.
"Kenapa berdiri disini? Ayo ke ayahmu," Syakira datang dengan senyum lebarnya, membimbing sang putri segera menghampiri tamu yang bersama sang suami.
__ADS_1
"Ibu... Apa dia... yang akan menikah dengan ku?" Suara Deanra terdengar bergetar. Dan mendapat anggukan dari sang ibu, Deanra semakin hancur.
Tapi ia tak bisa berpikir lebih lama lagi, karena sang ibu sudah lebih dulu menarik tangannya menghampiri mereka yang terlibat tengah asik mengobrol. Oh, saking terkenalnya Deanra bahkan sampai lupa jika disana juga ada kedua orang tua Ares.
"Wah, lihatlah calon menantu kita sudah datang." Abi berucap dengan keras membuat semua orang diruangan ini menatap pada Deanra, termasuk Ares yang dari tadi diam tak bersuara.
Tangan Deanra terkepal erat. Entah mengapa ia mendadak tak suka disebut seperti itu, rasanya ia tak Sudi menikah dengan pria seperti Aras. Dia gadis yang sempurna, bagaimana bisa menikah dengan pria cacat seperti calon suaminya ini.
Gadis itu dibimbing untuk duduk di antara Dua wanita paruh baya itu. Deanra mencoba tersenyum sebaik mungkin, agar mereka tak tahu apa yang sedang dirinya pikirkan saat ini. Begitu pula dengan Aisyah yang bisa membaca pikiran gadis disampingnya.
"Kenapa pucat, Nak? Apa kamu sakit?" Aisyah bertanya lembut.
"Tidak apa-apa, Tante. Saya baik-baik saja,"
Syakira mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut. Ia tau kegelisahan Deanra sekarang, jadi ia langsung berkata.
"Berbicaralah sebentar dengan Nak Aras,"
Denara menganguk singkat. Ia berdiri, dengan isyarat mata ia meminta pria itu untuk mengikutinya ke taman belakang. Ares dengan diam ikut saja, ia bahkan saat itu ingin tersenyum lebar melihat gadis yang dipuja-puja berdiri sedekat ini dengannya.
*****
__ADS_1