Suami Yang Tak Sempurna

Suami Yang Tak Sempurna
Syarat yang ditolak


__ADS_3

Gelapnya malam tanpa adanya bintang, Dean terduduk sendiri di atas balkon kamar mereka. Terdiam dalam lamunan, dia bahkan mengabaikan tubuhnya nyaris membeku karena terlalu dingin.


Malam yang juga diiringi dengan gerimis tak membuat dia meninggal tempat duduknya. Dia malah terasa lebih nyaman, karena dengan rasa dingin ini malah dapat sedikit mengobati hatinya yang sedang gundah.


Dean sedikit terkejut saat merasa tubuhnya tiba-tiba di diselimuti dengan kain. Saat dia merasa seseorang memeluk tubuhnya dari belakang, Dean tertegun sejenak.


"Ini sudah malam, apa kamu gak mau tidur? Hujan juga, tubuhmu sudah sangat dingin De." Ares sedikit mengerakkan pelukannya.


"Aku tidak apa-apa,"


"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa melamun seperti itu diluar? Apa ada masalah?"


Ingin Deanra menjawab. Ya, sekarang dia dalam masalah besar yang tak seorangpun yang bisa menyelesaikan masalahnya. Hanya dirinya yang bisa, tapi sayang dia juga tak mampu sekarang.


"Ayo masuk, De. Aku tak ingin kamu sakit nantinya."


Dean tersenyum, ia dengan patuh mengikuti ucapan Ares. Sesekali ia mencuri-curi pandang pada Ares, mencoba mencari jejak yang buruk pada pria ini sehingga ia sulit sekali jatuh cinta padanya.


Tapi sampai sekarang ia belum menemukannya. Memiliki wajah tampan, tubuh yang berotot dam ditambah dengan kehidupan yang perfek. Seharusnya Dia sudah jatuh cinta dari lama untuk suaminya ini, tapi entah mengapa ia belum juga merasakan perasaan itu.


"Masih melamun?" Ares terkekeh kecil melihat wajah bingung istrinya yang setiap kali ditanya.


"Ares...," cara Dean yang memanggil begitu lirih membuat Ares merasa perasaan tak enak. Ada yang akan dibicarakan oleh istri, tapi pasti ini sesuatu yang tidak baik.


Memangnya kapan mereka pernah ngomong yang baik-baik?


"Ya, kenapa?"


Dean meremas kuat sesuatu yang membuat dia gamang, tapi juga tak bisa menahan perasaan yang tak ada rasa. Pada titik ini ia menyerah, dia ingin mengakui dosa ini untuk pria sebaik Ares.

__ADS_1


"Kamu ingin mengatakan sesuatu?"


Deanra terdiam, dia tak tahu harus memulai dari mana. Menarik nafas panjang, ia mencoba memberanikan diri untuk berucap dengan pelan.


"Ares... Aku tidak bisa meneruskan hubungan ini... Rasa ini tak pernah hadir untuk mu meskipun kita telah hidup tiga bulan pernikahan. Aku mohon... lepaskanlah aku,"


Pada titik ini Ares merasa bahwa hidupnya akan hancur. Dia menatap mata sayu gadis yang telah di cintanya selama bertahun-tahun ini. Dia sudah begitu lama mencintai, tapi Dean bahkan hanya untuk semenit dia tak bisa memiliki rasa untuknya.


"Kenapa?" Ares mencoba menahan dirinya, "kita bahkan baru hidup tiga bulan bersama. kenapa kamu sudah ingin pergi?" perkataan itu terdengar begitu getir. Deanra menyadari itu, tapi ia tetap memilih pada hatinya yang keras.


"Karena aku tak ingin menyia-nyiakan masa muda ku... Aku tidak tahu apa yang kamu lihat dari diriku, Ar. sehingga kamu mencintai ku begitu mudah. Tapi diriku berbeda... Ini sangat sulit bagiku."


Sangat sulit ya?


Ares berdiri melangkah ke balkon. Saat tadi dia yang melarang istrinya untuk berada disana, tapi sekarang akan berganti dirinya. Cuaca yang begitu dingin belum bisa membuat hatinya yang panas mereda.


Ares merasa kelapanya serasa mau pecah, dia tidak bisa menerima semua penghinaan ini. Dia sakit, tapi masih dia coba terlihat baik-baik saja. Menahan rasa traumanya yang akan membuat penyakitnya akan keluar, dia tak ingin lagi di mata Deanra hanya sebagai pria cacat dan lemah. Mungkin ini alasannya dia tak mau menerima pernikahan ini.


"Beri aku waktu enam bulan, Dean. Jika saat itu kamu masih ingin pergi dan tak berhasil mencintaiku, kamu aku bebaskan." Ares berucap dingin.


Dia mengabulkan permintaan itu dengan sarat?


Denara tersenyum, setidaknya ini lebih baik. Waktu enam bulan bukan masalah baginya, dia yakin rasa ini tak akan pernah ada untuk suaminya ini.


"Aku setuju,"


"Tapi selama kita masih bersama, kamu harus melakukan semua kewajibanmu sebagai seorang istri. Bagaimana?" Ares berbalik dengan senyum dinginnya. Menatap mata Dena yang jelas terlihat begitu terkejut dengan suara yang kedua ini.


"Maksudnya aku harus melayani mu dengan baik?"

__ADS_1


Ares tersenyum tipis, "tidak hanya melayani ku seperti biasa. Tapi kamu juga harus memberi hak ku, Dean."


Pada titik ini Dean tak bisa menyembunyikan kebenciannya lagi. Pria ini mencoba menjebaknya?


"Kamu memaksa ku?"


"Aku tidak memaksa mu. Dari dulu itu sudah menjadi kewajiban mu sebagai seorang istri, apa aku salah jika memintanya?"


Dean merasa akan meledak karena kemarahan ini. Tak ingin lagi melihat wajah penuh kemenangan dari Ares, dia langsung meninggalkan pria itu dan berlalu masuk kedalam kamar.


Tapi tak lama dia kembali berbalik.


"Jangan pernah harap aku akan menuruti keinginan kamu, Ares!"


"Kalau begitu Jangan pernah minta pisah lagi," Ares membalas santai. membiarkan Deanra pergi dengan wajah kesalnya.


Ares berpikir Dia akan Bena kehilangan istrinya, tapi siapa sangka ide ini malah membuat dia tak bisa berkutik. Sekarang dia punya cara menaklukkan gadisnya itu.


Ares merasa kepalanya semakin terasa sakit. Dia ingat dirinya belum meminum obat penenang seperti malam sebelumnya. Tapi sebelum melakukan itu, dia harus menghubungi seseorang dulu.


Saat Nomor yang dia hubungi tersambung, Ares segera bertanya dengan suara dinginnya.


"Apa kamu sudah menyelidikinya?"


Seseorang di sebrang sana menjawab dengan cepat. Ares tersenyum tipis, sekarang dia tahu harus melakukan apa.


"Hancurkan semua yang dia miliki! Aku ingin lihat seberapa kuat dia sampai berani menantang seorang Ares!"


Setelah mengucapkan itu sambungan telepon langsung diputuskan. Sekarang Dia hanya perlu menunggu laporan dari orang terpercaya.

__ADS_1


Ares merasa sakit kepalanya sudah tak bisa ditahan lagi, dia merasa tubuhnya bergetar hebat meminta untuk dilampiaskan pada sesuatu. Tak ingin Semakin merasa sakit ia segera kembali ke kamar mencari obatnya untuk malam ini.


Jikapun aku mati nanti, selama aku hidup aku tidak akan pernah melepaskan mu, Deanra!


__ADS_2