
Diam bukan berarti dia tak tahu apa-apa. Ares memilih diam saja meskipun ia tahu apapun yang dilakukan istrinya di luar sana. Menikah karena perjodohan memang akan sangat rumit seperti ini, tapi ia sudah terlanjur mencintai istrinya sangat dalam, dan ia tak pernah menyesali itu.
Pernikahan sudah menginjak tiga bulan. Tapi hubungan mereka masih sebatas itu saja, saling bercerita, berpelukan, dan tidur bersama. Tak ada yang lebih dari itu, dan Ares merasa kehadiran seseorang juga menghalangi istrinya untuk hanya menatap ia seorang.
"Dean..."
"Ya,"
Hari ini Deanra tak berangkat ke toko, dan kesempatan ini ia habiskan untuk mengerjakan tugas rumah. Meskipun ada dua pembantu di sini, tapi khusus hari ini ia ingin masak untuk suaminya seperti yang sering mertuanya lakukan.
"Berapa lama kamu akan libur ke toko, De?" pertanyaan ini sudah dari tadi ingin Ares tanyakan. Tapi seolah mulutnya kaku, ia tak berani bertanya.
"Bisa beberapa hari... Karena sekarang karyawan sudah bertambah, mungkin aku akan lebih sering di rumah nanti."
"Benarkah? kalau begitu bagus,"
"Bagus?"
"Aku ingin mengajakmu untuk liburan... Dean, sejak menikah kita bahkan belum pernah menghabiskan waktu berdua lebih lama. Jadi usulan untuk liburan ini bagaimana?"
Deanra berpikir sebentar. Jika dilihat-lihat kesehatan Ares tak terlalu buruk jika mereka meninggalkan rumah. Tapi jika terjadi sesuatu dan membuat penyakit suaminya kembali disaat mereka pergi, bagaimana?
Ya, itulah alasan yang selalu menganggu Dean selama ini. Bukannya kemarin bunda bilang ia tak pernah melepaskan Ares sendiri keluar.
"Memangnya kita mau kemana?"
"Kemana saja yang kamu mau,"
Deanra berpikir sebentar. Dari dulu ia punya impian jika menikah nanti ia akan honeymoon bersama suaminya ke Bali. Tapi sekarang ia telah menikmati, apa dirinya harus berbulan madu di Kota indah itu?
Tapi dia belum ada perasaan apapun untuk Ares. Memikirkan ini Deanra sedikit kesal. Bagaimana bisa ia malah berpikir masalah honeymoon saat seperti ini.
"Apa hanya liburan? Lalu begitu bagaimana kalau kita ke puncak saja?"
Itu lebih baik bukan? Mereka hanya liburan, dan ia rasa tak ada salahnya. Jika terlalu jauh ia tidak mungkin, karena dirinya sendiri juga sedang tak ingin berjalan jauh.
Karena tak fokus dengan pekerjaannya, tak sengaja jari telunjuk Dean tergores pisau saat memotong.
"Aduh!" Dean sedikit berteriak, membuat Ares yang tadi duduk di kursi langsung menoleh cepat.
"Dean kamu kenapa?"
__ADS_1
Deanra tak menjawab. Dia sibuk memegang jarinya yang mengeluarkan darah. Melihat hal itu Ares langsung gemetar. Melihat darah keluar dari jari-jari Istrinya, Ares merasa ketakutan.
"Deanra... Kamu terluka!" Pekiknya. Berlahan tubuh Ares berubah kaku, ia tak bisa melihat Deanra terluka, berlahan ia menjadi hilang kontrol diri.
Ares mencoba memegang tangan Dean, tapi tak lama ia melepaskannya dan jari-jari yang sudah berubah menjadi kepalan itu berlahan melayang ke kepalanya sendiri. Berkali-kali ia melakukan itu, bahkan berlahan bekas luka dan memar mulai timbul di kulitnya.
Ares menyakiti dirinya sendiri...
Deanra melirik kearah Ares. Ia baru tersadar saat pria itu sudah menarik rambutnya, dan memukul-mukul pipi dan keningnya dengan keras.
Deanra tak mengerti. Tapi seakan tak sadar Dia terdiam kaku melihat suaminya, Deanra tak sadar mertuanya telah datang dengan berteriak nyaring dari ruang keluarga.
"Ya, tuhan! Aras... Apa yang kamu lakukan nak?" Teriakkan Aisyah membuat isi rumah juga ikut keluar. Termasuk Abi Yang terlihat kawatir dengan teriakan sang istri.
Melihat apa yang terjadi dia tak bertanya lagi, Abi segera membatu sang istri untuk menghentikan tindakan anaknya.
"Apa yang membuatnya seperti ini?" Disela-sela dia menahan tangan Aras, Abi menatap istri dan menantunya dengan binggung bercampur kawatir, karena Aras masih saja ingin memberontak, dia terpaksa menahan tangan anaknya sedikit kasar.
Dengan ragu Deanra mulai berkata, "Aku... Aku tidak tahu, ayah. Tapi melihat tangan ku terluka, Dia..."
Abi menatap ujung tangan menantunya berdarah. Ia menarik nafas panjang, sekarang ia tahu kenapa Ares histeris.
Deanra sedikit bergumam, tapi pada kenyataannya ia tak jadi bertanya ataupun membantah. Dia melakukan seperti apa yang ayah mertuanya katakan. Setelah Jarinya bersih bunda Aisyah datang memberi satu hansaplast.
Lalu tiba-tiba Bunda berkata dengan lembut, "Dia tidak bisa melihat darah, Nak. mungkin karena melihat mu terluka makanya jadi histeris. Lain kali kamu lebih hati-hati lagi, ya." Bunda Aisyah berkata dengan lembut. Lalu ia membimbing Sang menantu untuk segera mendekati Ares yang terlihat masih belum tenang sepenuhnya.
Awalnya Deanra takut, sedikit ragu ia mencoba menyentuh bahu suaminya. Dan saat Abi melepaskan tangan Ares, pria itu langsung kembali ingin melukai tubuhnya, tapi dengan cepat pula Deanra segera menghentikan dengan memeluk lengan tangan Ares yang tergantung.
Sentuhan lembut seolah kembali menyadarkan Aras, ia menatap Deanra, berlahan tubuh kaku itu bisa sedikit melunak.
Abi yang melihat itu segera berkata, "Bawa suamimu ke kamar, Nak. Biar yang masak dilanjutkan oleh bunda saja," ucap Abi. Deanra menganguk.
Meskipun terasa susah, tapi Dean berasil menyeret tubuh kokoh Ares ke dalam kamar mereka. Deanra sedikit terengah, karena memang tubuh Ares yang seperti mati rasa ia bahkan menurut saja kemana Deanra seret tadi.
"Ar..." Denara mencoba memastikan apa dia sudah sepenuhnya sadar atau belum. Tapi melihat Ares menoleh dan tersenyum tipis padannya Denara semakin bernafas lega.
"Kamu kenapa, Ar? Aku yang terluka, tapi kamu yang histeris. Ini menegangkan... Tapi juga lucu," kalimat terakhir sengaja Deanra pelan kan, ia tak ingin Ares tersinggung.
Tiba-tiba Susana di antara mereka berdua menjadi kaku. Ares yang masih terdiam dengan pemikirannya sendiri, dan Deanra yang memilih menatap suaminya dalam diam.
Deanra bingung. Pria ini apa masih harus di bujuk? Tapi dia sudah tak lagi mengamuk. Sekarang dia malah diam seperti patung, ini semakin membuat Deanra sulit berpikir... Apa sebaiknya dia pergi keluar saja?
__ADS_1
Tapi saat dia ingin berdiri tangannya sudah dicekal. Ares bereaksi, pria itu sudah seperti hidup kembali dengan tatapan yang sepenuhnya belum terisi.
"Aku takut... Aku tak suka melihatnya mu terluka," Ucapan yang terlampau pelan seperti bisikan itu membuat Dean hanya terpaku.
Dia sakit karena aku?
Dia tak suka aku terluka?
Pikiran-pikiran ini membuat sesuatu dalam diri Dean terasa menggelitik. Tapi itu masih belum mengerti itu apa, tapi yang ia tahu sekarang... Suaminya sepeduli itu padannya. Akan ia ingat nantinya, jika terluka ia harus menyembunyikan itu dari suaminya agar tak menjadi masalah besar.
"Apa kamu mau istirahat? Biar sekalian aku obati luka ditubuhmu," ucap Deanra pelan. Ares menganguk, lalu dia berdiri membuat Deanra ikut berdiri.
"Di dalam ruangan aku saja ya... Kita istirahat disana saja." Ares melenggang pergi setelah mengatakan itu.
Deanra segera mengambil kotak obat, setelah itu ikut masuk ke dalam kamar rahasia tempat suaminya bekerja selama ini.
Ares telah berbaring santai di ranjang itu, dan berlahan Deanra mendekat.
"Ranjang ini agak sempit jika tidur berdua. Apa kamu tidak ada niat untuk menggantinya?"
Sambil mengoles obat pada luka suaminya, Deanra berusaha memulai obrolan. Tak enak rasanya jika harus saling diam seperti ini.
"Tidak. Ini tidak sempat, De. Tapi sangat cocok untuk dua orang." ucap Ares pelan, "Jika kamu merasa sempit dan takut jatuh, kamu bisa peluk aku saat tidur nanti."
Mendadak Deanra merasa panas, wajahnya bersemu mendengar ucapan pria yang menjadi suaminya. Tidur sambil berpelukan, sepertinya mereka belum pernah melakukan dalam waktu tiga bulan pernikahan mereka ini.
"Diam dan tidur lah, aku tidak akan meminta mu menggantinya lagi!" Setelah itu Deanra ikut berbaring di samping suaminya dengan jarak yang cukup jauh. Dean yakin dia tak akan jatuh, palingan saat bangun nanti tubuhnya akan berdempetan dengan suaminya.
Ya, hubungan mereka memang masih sekaku itu untuk disebut sepasang suami istri.
*****
Halo semuanya...
Bagaimana kabar kalian? Aku harap baik ya☺️
Dan ya seperti biasa, jangan lupa tinggalkan jejak terbaik kalian di cerita ini.
Like, komen dan vote.
Selamat baca... Dan salam cinta 😘
__ADS_1