Suami Yang Tak Sempurna

Suami Yang Tak Sempurna
Ares


__ADS_3

Deanra menatap cincin putih yang terbuat dari berlian itu melingkar manis dijari manisnya. Tak ada lamaran romantis, bahkan sampai saat ini ia belum melihat bagaimana rupa pria yang akan menjadi suaminya kelak. Cukup hanya tahu namanya saja.


Aras... Deanra merasa nama itu terdengar familiar dengannya. Tapi ia juga tak bisa menebak dengan pasti. Meskipun sekarang ia berpikir jika Ares yang mereka maksud adalah pria yang selalu membuatnya takut, tapi ia mencoba menepis pikiran itu. Tak mungkin orang tuanya akan menjodohkan dirinya dengan pria aneh seperti Ares yang dia kenal.


"Hari ini kamu gak kerja, Dean?" Syakira masuk kedalam kamar putrinya dengan membawa segelas jus jeruk.


"Gak, Bu. Dean sedang malas keluar, pengen di kamar saja.


Syakira menarik nafas panjang. Melihat seperti ini ia melihat anaknya seperti tak ada semangat hidup. Tapi ia juga tahu apa yang membuat Deanra sering melamun akhir-akhir ini, itu semua karena perjodohan itu. Lalu bagaimana nanti jika putrinya tau seperti apa rupa calon suaminya? apakah Deanra bisa menerima?


"De... Jika suatu saat nanti Ibu membuat kesalahan, apa kamu akan memaafkan ibu?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur dari bibir wanita paruh baya itu. Deanra bahkan sampai terkaget, tak biasanya pertanyaan seperti ini dilontarkan oleh ibunya. Deanra jadi curiga, apa ibunya menyembuhkan sesuatu?


"Maksud Ibu? Apa yang harus Dean maafkan?"


"Tidak sekarang, Dean. Tapi bila nanti ... Sesuatu yang membuat dirimu sedih, ibu harap kamu memaafkan kami. Tapi yakinlah, sepanjang hidup kami sebagai orang tua, ibu hanya ingin kebahagiaan mu. Ingatlah itu selalu."


Deanra tak bisa lagi berkata-kata. Ia hanya bisa terpaku melihat sang ibu meninggal kamarnya setelah mengusap lembut puncak kepalanya.


*****

__ADS_1


Pagi harinya Denara kembali berangkat ke toko bunga seperti biasa. Bedanya sekarang ia lakukan dengan tampang lesu, tak ada semangat lagi di wajah cantiknya. Otaknya terlalu penuh dengan pikiran-pikiran yang tidak menentu, membuat ia kehilangan gairah untuk bahagia dan tersenyum.


"Pagi, Mbak." Denara menyapa Dila seperti biasa. Dan wanita yang lebih tua dari Deanra itu tersenyum lebar melihat sang bos akhirnya kembali masuk kerja.


"Pagi juga ... Aku pikir kamu sakit, Dean. Tak biasanya tak datang ke toko."


Deanra tersenyum simpul. Sebenarnya ia sekarang butuh teman untuk bercerita, tapi ia tak bisa percaya pada orang lain untuk mendengar isi hatinya. Pada akhirnya ia hanya mengeleng pelan.


"Aku baik-baik saja, Mbak. Hanya malas datang saja, badan rasanya kurang enak." Alas Denara dipercayai oleh Dila. Memang masuk akal, melihat keadaan bosnya sekarang mungkin saja jika dia memang kurang enak badan, pikirnya.


Kesunyian terjadi setelah mereka kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan.Tak berapa lama pintu tokoh terdengar didorong oleh seseorang, Deanra yang bisa menebak siap yang datang sepagi ini memilih diam saja.


Benar saja, tak berapa lama seorang pria yang terlihat tampan dan juga dingin masuk kedalam toko. Dia Ares, pelanggan setia toko setiap harinya. Mungkin banyak orang yang tidak mengenal dia, termasuk Deanra awalnya. Tapi setelah beberapa saat ia mulai ingat, jika dulu waktu kecil mereka pernah bertemu, dan itu yang membuat Deanra sempat mencari tahu sedikit kehidupan Ares, sampai pada suatu kejadian dia melihat pria itu mengamuk seperti orang gila di tempat sepi bersama seorang wanita tua.


Dila segera menghampiri Pria itu dengan sopan seperti biasa. Sedangkan Deanra memilih mengintip dari balik bunga-bunga yang dia susun rapi.


"Mau beli apa, mas?"


Ares diam, dan matanya hanya fokus mencari keberadaan seseorang. Dan saat objek yang ia cari ketemu, pria itu langsung melangkah mendekatinya.

__ADS_1


Deanra hampir saja jantungan melihat Ares melangkah mendekatinya. Tapi saat pria itu mengambil setangkai bunga Lily di sebelahnya, Deanra bernafas lega. Tapi tak sampai disitu, sebelum berbalik Ares menyempurnakan menatap Deanra dengan tatapan dalam yang sulit diartikan.


Tubuh gadis itu merinding mendapatkan tatapan itu, tapi ia juga tak ingin bersuara untuk sekedar menyapa pria aneh menurutnya itu. Dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa Ares selalu berlagak aneh jika bertemu dengannya?


"Kamu kenapa, Dean? kenapa pucat begitu?" Denara terserak saat pertanyaan Dila terdengar di telinga nya. Ternyata ia melamun memikirkan pria yang baru saja pergi dari tokoh nya ini.


"Mbak, apa aku boleh tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Kenapa aku merasa pria tadi aneh? Apa dia juga seperti itu pada saat Mbak layani?"


Dila mengerutkan keningnya bingung, " Aneh gimana? Dia biasa-biasa saja kok, walaupun memang wajahnya terlalu datar jika sedang berbicara."


"Tapi kenapa dia menatap ku... Ah, entahlah Mbak. Aku sendiri gak paham," keluh Deanra kesal.


"Mungkin dia menyukai mu." Dila tersenyum, "melihat setiap kali dia datang dan mencari keberadaan mu seperti tadi, aku rasa tembakan ku tak salah. Mungkin dia salah satu penggangum rahasia mu."


Deanra mencibir. Dia bukan artis sehingga ada pengagum rahasianya. Yang dia tahu Ares itu manusia yang menakutkan, yang pasti harus ia hindari jika masih datang ke tokonya tiap hari.

__ADS_1


*****


Beri komentar terbaik kalian ya☺️


__ADS_2