Suami Yang Tak Sempurna

Suami Yang Tak Sempurna
Sakit yang tiba-tiba


__ADS_3

Aku yang diharapkan dari sebuah pernikahannya tapa cinta?


Pertanyaan itu mungkin akan menyakitkan hati setiap pasangan yang terjalin karena perjodohan. Karena pada titik kamu dipaksa untuk bersatu dengan orang yang tidak diharapkan, tapi kamu tak menyadari masa depan seperti apa yang akan menanti.


Deanra meletakkan sepiring nasi goreng dan segelas kopi untuk Ares. Sebenarnya Deanra sedikit heran, tak biasanya pria ini meminum kopi, tapi pagi ini malah memintanya. Tapi karena malas bertanya ia memilih diam saja, toh selama ini emang begitu... Saling diam dan saling mengabaikan.


"Kamu tidak sarapan?" Ares mengeryit heran saat melihat nasi goreng yang dihidangkan hanya satu piring, sedangkan Deanra malah duduk santai sambil menghabiskan teh hangatnya dengan bermain ponsel.


"Aku belum lapar,"


"Apa harus tunggu lapar dulu baru makan? Kamu mau sakit?!"


Sepertinya Ares tak senang dengan Dean yang lagi-lagi membatah ucapannya. Sedangkan Denara hanya menatap malas.


"Jagan pedulikan aku," ucap dean dengan malas. Asik dengan ponselnya kembali, membuat Ares semakin kesal jadinya.


Ares segera beranjak. Membawa makanannya, dan segera duduk dia sebelah Dean.


"Kamu mau apa?" Deanra merasa akhir-akhir ini Ares suka sekali melakukan sesuatu yang membuatnya syok. Entah kenapa pertengkaran mereka, atau mungkin karena hal lain, Dean tentu saja tak peduli.


"Mau suapin istri yang lagi nakal,"


"Eh?" Saat Dean menganga karena terkejut, satu suapan sudah masuk kedalam mulutnya dengan cepat.


Ares tersenyum senang, "Kunyah. Apa kamu harus diam seperti patung seperti itu selamanya?" deanra menurutinya, tapi sesaat kemudian ia kembali tersadar. Kenapa dia harus mengikuti ucapan pria ini?

__ADS_1


Keterkejutan Deanra tak hanya itu, bahkan ia harus melihat suaminya itu dengan santai menyuapi lagi pada mulutnya sendiri. Apa dia tak merasa jijik bekas mulutnya? Kemudian berganti beralih lagi pada Dean, Tapi gadis itu segera mengeleng.


"Sudah, aku udah gak mau makan lagi." Sebenarnya Dean bukan ingin menolak, tapi sendok itu bukankah bekas Ares? Dia bukan jijik, hanya saja mereka akan seperti berciuman secara tak langsung.


"Kamu mau makan sendiri atau dipaksa!"


Deanra ingin membantah lagi, tapi ia juga tak berani melawan saat tatapan Ares sudah berubah tajam.


"Tapi...,"


"Dean!" Tak berani berucap lagi. Pada akhirnya Deanra hanya bisa menerima suapan demi suapan dari Ares. Bahkan bisa dikatakan sebagian besar sarapan pagi ini masuk ke dalam perut Dean dari pada Ares.


"Dasar pemaksa!"


Ares tersenyum menyeringai lebar. Akhir-akhir ini ia benar-benar suka dengan sikap Denara yang begitu patuh padanya, sepertinya gadis ini benar-benar takut pada sikapnya yang sekarang.


Dia tak berminat?


Deanra hanya fokus dengan satu kalimat itu. Dia tersenyum kecil, memang benar liburan kali ini memang sangat hancur. Selain pertengkaran dan kemarahan yang terjadi di antara mereka berdua tak ada lagi yang dilakukan. Lalu untuk apa berlama-lama disini, Dia sendiri juga harus kembali bekerja di toko bunganya.


"Aku akan bersiap."


Sebenarnya Dean malah bahagia bisa pulang lebih cepat dari rencana. Ia sudah merasa tidak nyaman berada didekat Ares yang berbeda sekarang.


Tak ada kenikmatan dan tak ada keindahan yang harus mereka kenang untuk libur pertama kali mereka lakukan ini. Seperti kata Ares, akhirnya mereka kembali ke Jakarta sore itu dengan masih ditemani sopir.

__ADS_1


Saat di tengah jalan Deanra merasa tubuhnya sendikit meriang. Mungkin karena tubuhnya yang lagi kurang istirahat.


"Pak, kita berhenti di Apotik sebentar bisa gak pak?" Denara bertanya dengan sopan pada sang supir.


"Tentu saja, mbak. Tunggu sebentar,"


Ares yang dari tadi pura-pura tidur segera membuka matanya, "kamu kenapa?"


"Hah? Aku gak apa-apa kok,"


"Terus kenapa minta berhenti di Apotik?" Ares menarik alisnya.


"Itu... Aku sedikit meriang.


Ares mendengus dingin. Ia segera menempel punggung tangannya di dahi Deanra. Meskipun Dean sedikit menghindar, tapi dengan cepat segera ditarik mendekat kembali oleh Ares.


"Badan kamu panas. Kenapa tidak bilang dari tadi? Kita bisa menunda pulang dulu. Kalau seperti ini kamu bisa semakin parah," ucap Ares kawatir.


Jika tak mengingat mereka sedang di perjalanan sekarang, ingin rasanya Ares mengamuk. Bagaimana mungkin dia dari pagi tak memperhatikan kesehatan istrinya. Dia kesal, dia mencoba mereka erat jari-jarinya sampai merasa perih baru ia tersadar.


Dirinya tak boleh hilang kendali. Ia harus kuat untuk menjaga istrinya. Karena melihat tubuh Dean yang mulai merintih kedinginan, tapi pikir panjang ia segera memeluk tubuh kecil itu kedalam pelukan hangatnya.


"Ares... Apa yang kamu lakukan?"


"Diamlah. Kamu kedinginan, biar seperti ini agar kamu merasa lebih hangat "

__ADS_1


Kali ini Deanra tak menolak. Ia membiarkan tubuhnya berada dalam pelukan Ares, nyatanya memang benar, ia merasa lebih baik saat mendapat pelukan sang suami.


****


__ADS_2