
Sudah aatu jam Dean berdiam diri di dalam kamar. Tak ada niatnya untuk keluar, dia juga malas jika disuruh melihat wajah Nova yang bergelayut manja di bahu suaminya.
"Cek! Ada apa denganku? kenapa aku harus marah jika mereka memiliki hubungan spesial selain sepupu." Dari tadi dia beebicara sendiri, tapi bibirnya tak juga lelah berceloteh dan beberapa kali mengupat.
"Ini salah Manggala, kenapa kemarin dia harus mengatakan hal menakutkan itu. Dan lihatlah sekarang, aku jadi ketakutan tanpa alasan,"
"Memangnya manggala ngomong apa sama kamu?"
Dwan terkwjut, dia menatap gugup suaminya yang pasti mendengar gumamannya tadi.
"Gak angomong apa-apa," kilah Dean.
"Tapi tadi aku dengar kamu bilang manggala sudah buat kamu takut. Memangnya dia bilang apa?" Masih dengan pertanyaan yang sama, Ares menuntut jawaban dari istrinya.
Merasa Ares semakin cerewet, Dean memilih mengelng dan melarikan diri dengan pura-pura tidur lebih dulu. Tapi saat suaminya kembali bersuara membuat Dean merasa malu.
"Dek, kamu gak boleh tidur dulu. Bunda kita turun buat makan malam," ucap Ares menyampaikan pesan bundanya.
__ADS_1
"Eh? aku... aku gak usah makan malam kayaknya, masih kenyang." Dean mengaruk tenguknya dengan bingung.
Ares menatap curiga istrinya, dia merasa tak percaya dengan ucapan Dean. "Kamu bohong, ya?"
"Bohong apa? Aku benar-benar kenyang," kilahnya lagi.
Dia benar-benar merasa malas jika turun dan makan bersama dengan sepupu dan keluarga paman suaminya itu. Entah mengapa melihat sikap Nova yang terlihat tak menyukainya entah mengapa membuat perasaan Deanra tak nyaman.
Aees tak lagi memaksa, dia membiarkan saja apa yang ingin dilakukan istrinya. Benar kata Manggala, dia tidak boleh terlalu menempel pada istrinya, mungkin dengan sedikit menjauh dan wanitanya bisa merasakan sedikit kehilangan dan berlahan menyadari perasaannya.
....
"Di kamar Bun, dia bilang gak ikut makan malam karena kurang enak badan." Tentu saja Ares berbohong, dia tak ingin membuat tantanya tersingung.
"Deanra sakit? tapi bukannya tadi dia sehat-sehat aja ya?" ibunya nova bertanya dengan heran, dia mulai menerka kenapa wanita tadi tak ingin makan malam bersama keluargannya.
"Bukan begitu tante... Dia hanya capak pulang dari tokoh." Ares menjawab dengan malas. Sikap pria itu yang tak terlalu banyak bicara membuat dia sedikit kesal.
__ADS_1
Melihat suasa yang mulai tak nyaman, Aisyah buru-buru menimpali. "Sudah, ayok kita mulai makan. Masalah Deanra biar ares yang urus nanti,"
Merka mulai makan. Tak ada lagi mengobrol sampai makan malam itu selesai.
Setelah itu mereka kembali berkumpul lagi di ruang keluarga. Tapi tidak dengan Ares.
Mau tidak mau ares di paksa bundannya untuk membawa makan malam Deanra ke dalam Kamar. Meskipun sempat menolak, tapi bundanya tetap memksa.
"Loh? kenapa bawa makanan? aku kan udah bilang gak lapar,"
Tak ada jawaban dari Ares. Setelah meletakan makanan itu di atas nakas, ia langsung berlalu masuk ke ruang rahasianya dan kembali lanjut sibuk dengan komputer-kompuernya lagi.
Dean hanya berdecak. Lama-lama dia mulai menyadari sikap Ares yang sering menghindarinya, dan sukap diam dan tertutup pria itu juga membuat Dean sedit cemas.
Sejauh ini dia belum melihat lagi ares yang sakit dan hilang kendali seperti dulu. Dean merasa lega, tapi ia juga menyadari ada perubahan sukap suaminya itu.
"Apa sebaiknya aku cari tahu, ya?"
__ADS_1
Bersambung...