
Waktu berlalu dengan cepat. Banyak hal yang sudah berubah, begitu yang Deanra rasa dalam hatinya.
Beberapa hari ini dia sering termenung memikirkan perasaannya sendiri. Entah mengapa Ia begitu terganggu dengan kehadiran sepupu suaminya, apalagi gadis itu begitu nempel pas sang suami membuat dia merasa ingin marah.
Apa rasa itu berubah kini?
"Hey! Kamu kenapa?"
Deanra tersentak dari lamunannya, "Ah, Dilo Aku tidak apa-apa," ucapnya berbohong.
Dean menatap pria di depannya sesaat. Dia ingin memastikan sesuatu, apakah apa yang dia pikirkan ini benar atau salah?
Kenapa tidak berdetak seperti biasanya?
Kenapa tak seperti dulu lagi perasaannya yang menggebu-gebu bila bertemu dengan Dilo.
"Eh, kamu kenapa lihat aku seperti itu?" Dilo semakin tak karuan melihat sikap Deanra yang mendadak jadi aneh.
"Maaf, aku hanya sedikit melamun." Deanra tersenyum canggung. Dia berpikir pasti Dilo merasa aneh dengan tingkahnya.
__ADS_1
"Kalau begitu aku balik ke tokoh lagi ya? Soalnya siap ini aku harus nyiapin bunga pesanan orang."
"Kan ada karyawan kamu, De? Sebentar lagi ya, aku masih ingin ngobrol sama kamu."
Deanra tersenyum kecil. Tak seperti dulu jika Dilo meminta seperti itu tentu saja ia akan langsung menyetujuinya. Tapi sekarang Deanra menggeleng.
"Gak bisa, Di. Aku harus profesional dong, bagaimana bisa aku selalu ngandelin karyawan sedangkan aku gak ikut pantau." Ia mengambil tasnya, "Aku pergi ya,"
Deanra benar-benar meninggalkan Dilo yang diam membatu. Lagi-lagi pria itu merasa sikap mantan kekasihnya itu semakin berubah, rasanya Deanra semakin menjauh darinya.
"Apa aku harus berhenti? Tapi rasa cinta ini belum juga mau pergi, De. Aku merasa masih belum rela melihat kamu bersama pria lain."
"Tante, kenapa aku merasa Mbak Dean gak suka aku ya?"
Nova yang sedang asik membatu Aisyah bertanya tiba-tiba di sela obrolan mereka. Aisyah yang ditanya sedikit terkejut dengan ucapan Nova.
"Gak suka bagaimana? Dia anak yang baik kok,"
"Tapi saat aku bicara sama dia selalu jawab ketus, tatapannya juga terlihat sinis sama aku."
__ADS_1
Aisyah terkekeh melihat Nova yang terlihat merengek mengadukan sikap menantunya. Dia yang tahu bagaimana Deanra, dia tidak akan berkomentar apa-apa yang pastinya membuat Nova diam-diam mencebik bibirnya.
"Kamu hanya belum kenal dengan, Deanra. Dia gadia yang baik, hanya karakternya saja yang terlihat cuek." Lagi-lagi Aisyah berujar dengan lembut.
"Tapi tante...,"
"Nova... Kamuvpasti mengerti kenapa dia bersikap seperti itu kepadami. Jadi bunda harap kamu memakluminya saja, ya?"
Aisyah jelas terlihat tak suka saat ada orang lain mengomentri kehidpan dalan keluargannya. Sebagai wanita Aisyah aangatvmengerti apa yang terjadi sehinga sikap menantunya berubah beberapa hari ini.
Dan sikap Nova yang terlalu menempel pada putranya tentu saja membuat wanita paruh baya itu ikut hawatir. Tapi dalam hal ini dia tidak bisa bicara, dia ingin anak-anaknya lebih peka lagi untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Nova terdiam. Dia menduduk, sedikit sedih saat dia mendapat teguran dari orang yang dia sayangi selama ini.
Ada rasa cemburu yang menyeruak dalam hatinya, dan rasa benci berlahan muncul untuk wanita yang telah merebaut Mas Aresnya dari dirinya.
Saat mereka telah selesai membuat makan malam, Nova segera pamit untuk pergi keluar.
Aisyah membiarkan saja, dia tahu sedikit perkataaanya tadi pasti sudah menyingung keponakannya itu.
__ADS_1
****