Suami Yang Tak Sempurna

Suami Yang Tak Sempurna
Pikiran yang tidak realistis


__ADS_3

POV Deanra


.....


Aku menatap nanar wajah yang terlelap di sampingku. Terlihat damai dan sangat tampan jika sedang tertidur seperti ini, tapi saat bangun entah mengapa aku bisa merinding menatapnya. Bukan karena karena dia kejam atau kasar, hanya saja mengetahui dia memiliki gangguan mental membuat aku jadi sedikit merinding.


Tampangnya yang selalu dingin, apalagi aku juga tahu kekurangannya, membuat aku tak berani terlalu dekat dengannya. Saat kemarin di acara pernikahannya kami, dia yang melukai tangannya sendiri, itu membuat aku semakin tidak bisa menerimanya.


Ya Tuhan, bagaimana bisa takdirku bisa bersama pria sakit jiwa seperti ini. Seumur hidup bersamanya? Tentu saja aku tak akan melakukan itu. Setelah ini aku akan mulai merencanakan bagaimana cara aku agar berpisah darinya.


"Kamu sudah bangun?" Aku tersentak ketika merasakan tempat tidur mulai bergerak. dan ternyata itu dia. Pertanyaan itu tak perlu aku jawabkan? Dia pasti sudah bisa melihat dengan matanya, jika aku sudah duduk dan membuka mataku sebesar ini.


Tak ingin mengisahkan pertanyaannya, aku segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.


Tunggu?


Apa aku harus mengurusnya seperti istri yang sesungguhnya?


Aku mendesah kesal. Saat di kamar mandi aku menatap pantulan wajahku didepan cermin, nyaris saja berteriak melihat keadaan wajahku yang sudah seperti singga.


Rambut berantakan, kantung mata yang terlihat menghitam. Ini semua pasti karena kemarin dan tadi malam begadang. Sekali lagi aku mendesah panjang, ternyata menikah tak seenak yang aku bayangkan. Ungguh tersiksa dengan semua ini.


"Aku harus segera mandi, setelah itu turun kebawah. Aku harus terlihat baik, jangan sampai dihari pertama menikah langsung dibilang menantu pemalas."


Beberapa menit berlalu aku keluar kamar mandi dengan pakaian lengkap. Mengambil tas tempat barang-barang kosmetik ku. Setelah bersolek sebentar, aku segera meninggalkan kamar.

__ADS_1


Tapi tunggu!


Kemana Ares? Kenapa dia tak ada lagi di dalam kamar setelah aku keluar dari kamar mandi. Apa dia keluar?


Aku memilih untuk tak peduli. Lebih baik keluar dan membantu Bunda Aisyah membuat sarapan.


Eh, bunda? Aku merasa diriku ini cepat sekali terlatih dengan situasi dan kondisi baru. Tidak apa-apa aku langsung memanggilnya dengan sebutan bunda kan? Tidak mungkin juga aku masih memangilnya dengan Tante, padahal sekarang dia sudah menjadi ibu mertua ku.


Saat sampai di dapur aku melihat Bunda Aisyah yang sedang berkutat dengan alat-alat dapur, aku tersenyum lebar, sudah bisa kutebak pasti mertuaku ini tipe orang yang sangat sayang keluarga.


"Selamat pagi, Bunda."


"Oh, pagi juga Dean. Kamu sudah bangun?" Aku mengangguk mengiyakan.


"Ada yang bisa aku bantu, Bun?" Sengaja aku bertanya, tak ingin sok tahu dan nanti malah salah dan dimarahi.


"Loh, kok gitu Bun?" Aku merasa tak enak jika harus menonton saja saat orang tua masak, "Dean bantu aja ya, Bun?"


Terlihat mertuaku yang kembali mengeleng. lalu ia tersenyum lembut, "Jika kamu tetap mau kerja..." Dia mengambil gelas yang sepertinya berisi air teh manis hangat, "kamu tolong antarkan teh ini ke taman belakang ya. Disana ada ayah sama Ares yang sedang olahraga pagi. Sekalian sama pisang gorengnya."


Aku mendadak jadi gugup sendiri. Kenapa harus aku yang disuruhnya mengantar ini, aku belum terbiasa dengan dua pria itu, pasti akan sangat canggung melihat mereka berolahraga. Tapi meskipun begitu aku tetap menganguk setuju, segera aku mengambil teh itu dari tangan mertuaku.


Rumah mertua ku yang cukup besar membuat aku sedikit lama berjalan sampai di taman belakang. Bisa dikatakan mereka adalah keluarga kaya raya, memiliki rumah mewah dan juga koleksi mobil yang cukup banyak, tentu saja kekayaan mereka tak bisa dianggap enteng.


Eh, tiba-tiba aku mengalihkan pandanganku saat sudah menemukan dua pria yang aku cari. Kenapa dua pria itu harus berolahraga sambil membuka baju? Ditambah dengan Ayah Abi, aku tak ingin jadi menantu kurang ajar yang menatap tubuh mertuanya. Jika Ares aku rasa tidak apa-apa, meskipun juga nantinya akan sedikit risih.

__ADS_1


Tapi tak lama, sepertinya mereka menyadari kedatangan ku. Segera mereka menghentikan olahraganya. Ayah mertuaku segera menyambar jubah yang sudah disiapkan, berlenggang menuju meja dimana tadi ku letakkan teh dan pisang gorengnya.


Sedangkan Ares, pria itu bahkan kembali melanjutkan olahraganya, membuat aku mendelik kesal. Apa dia ingin pamer tubuhnya itu? Cek! Dimata ku gak ada menariknya, lebih menarik tubuh Dilo lagi.


"Dean, duduk lah. Jika kamu menunggu suamimu selesai olahraga, itu akan sedikit lama."


Aku menganguk mengiyakan ucapan ayah mertua ku. Merasa sedikit tak nyaman, takut saja jika pria paruh baya ini akan bertanya macam-macam.


"Kapan kamu akan kembali bekerja, nak?"


Tuh kan! apa aku bilang. Duduk bersama orang tua memang seperti itu, mereka pasti akan bertanya banyak hal pada kita.


"Itu yah ... Belum tau. Mungkin tiga hari kedelapan,"


"Oh, tapi bukankah terlalu cepat?" Aku mengangguk tengkukku yang tak gatal. ingin ku mengatakan, untuk apa libur lama-lama sedangkan ia sendiri tak tahu harus melakukan apa di rumah mewah ini.


"Aku ada sedikit hal penting yang harus dilakukan di toko, mungkin memang harus sedikit cepat." Alasan ku saja, mana berani mengatakan yang sebenarnya.


Ayah mertuaku tersenyum kecil, lalu dia kembali bertanya. "Apa kamu senang menikah dengan putra saya?"


Aku terkejut. Sedikit kaget dengan pertanyaan ini. Tapi aku tak mungkin mengatakannya. Berlahan aku tersenyum kecil, lalu mengangguk mengiyakan. "Ya, aku senang."


Terasa hening. Tiba-tiba Ayah Abi mengangkat gelas teh nya. "Sebaiknya ayah didalam saja, ingin menemui bunda dulu. Kamu temani suamimu ya."


Tak menunggu jawabanku, Ayah Abi segera berlalu pergi dan meninggalkan diriku yang masih fokus melihat pria itu berolahraga.

__ADS_1


Jika seperti ini, ia terlihat seperti pria normal pada umumnya. Hanya saja ketika dia emosi dan hilang kendali, itu sungguh menakutkan. Aku juga sudah mencapai tahu di internet apa itu penyakit autisme ringan, dan apa yang aku temukan sungguh membuat ku tak bisa berpikir realistis.


__ADS_2