Suci yang Ternoda

Suci yang Ternoda
Ratapan..


__ADS_3

Awan putih memenuhi cakrawala,menandakan bahwa saat ini langit sedang tidak bersahabat dengan dunia .Hal itu yang sejak berangkat tadi Umi Dian ragu untuk memberi izin pada ke dua putrinya. Ia terlalu khawatir ,apalagi di saat keadaan Nafisah yang seperti ini.


Tapi pada akhirnya mereka berdua bisa bebas .Sudah setengah jam lamanya Nafisah duduk di kursi taman ,sementara Zehra memilih memantau kakak nya dari kejauhan. Memainkan gitar nya ,sengaja memberi kesempatan pada sang kakak untuk sendiri.


Gerimis turun ,perlahan merayap di wajahnya ,membawa potongan ingatan untuk kembali memberi luka. Ia mencoba berlari ,tetapi pada akhirnya rasa sakit itu akan kembali menerpa ,meremas sang hati begitu daftar ingatan malam itu datang mengintrogasi.


"Kak hujan ,kita pulang !!" Suara sang adik seperti angin lalu ,di biarkan menguap di udara.Pandangan nya kosong ,kemudian bulir bening akan tercipta begitu kenangan pahit datang menerpa kembali hadir untuk mencekik nya.


Ia sibuk dalam dunia nya ,di saat yang lain berlarian ,mencoba melindungi diri dari setiap tetes air hujan. Tak mau bergerak ,walau pun untuk sesaat . Ia terlalu asik tenggelam dalam rasa yang barang sedetikpun tak pernah absen meninggalkan nya.


Tubuh nya berguncang pelan dalam pelukan air hujan, ketika rasa sakit datang menyerbu ,memporak-porandakan setiap tiang pertahanan . Ia ingin mati ,mati saja !


Ia benci di perhatikan dunia yang datang bersama kekhawatiran-kekhawatiran yang tampak di wajah mereka. Ia ingin seperti ini ,tak ada yang bertanya ,tak ada yang mengintrogasi karena semua itu hanya akan mengingatkan nya kembali ,menambah rasa sakit yang datang tiada henti .

__ADS_1


"Pada nyatanya dunia tetap akan berjalan ,tanpa menoleh ke belakang ,tanpa menunggu yang terjatuh .Dia akan tetap berjalan , tanpa melihat dan kembali untuk memperbaiki masa lalu !" Suara Zehra ,nyaris mengalahkan suara hujan yang mengguyur mereka. Entah sejak kapan ,gadis tomboy itu telah duduk di sebelah kakak nya.


Nafisah terdiam ,masih dengan tangis yang terbawa arus hujan."Katanya ,sebesar apa ujian yang Tuhan berikan kepada kita ,maka sebesar itu pula cinta Tuhan kepada hambanya!" Zehra menambahkan , mengambil potongan hikmah yang telah ia ingat dari kakak nya dulu ,saat ia di paksa untuk mengikuti sebuah kajian.


"Terpuruk dan meratapi hal yang sudah menjadi ketetapan Allah itu tidak lah baik .Dan keimanan ,katanya bisa di ukur dengan seberapa lapang seorang hamba menerima ketetapan nya!"


Tubuh Nafisah kembali berguncang ,mendengar kata-kata sang adik yang dulu sekali ia pernah ucapkan . Malu,tentu saja ia akan sangat malu karena ia pernah berkata ,tanpa tau seperti apa rasanya . Jika ia tahu rasanya seperti ini ,maka ia akan bungkam .Memilih ,tidak si sok tahu seperti dulu.


"Khawatirlah jika ujian tak pernah singgah dalam hidup kita ,karena boleh jadi itu bukan sebuah rasa sayang Tuhan ,melainkan sebuah istidraj" Tambah nya terdengar bijak . Sudah lama sekali ,gadis urakan itu berbicara dengan normal !.


Gadis bertopi dengan potongan rambut sebahu itu tampak meraih gitar nya yang sedari tadi ia apit di sela kakinya . Dengan tak tau diri ,ia menumpangkan satu kaki ke kaki lain nya .Baru satu petikan ,namun berhenti ketika suara sang kakak masuk ke dalam pendengaran nya .


"Kakak tidak mengartikan semua yang kakak alami itu musibah , melainkan murka Tuhan kepada kakak !" Ucap nya dengan pandangan kosong . Air matanya sesaat berhenti,kemudian kembali menetes begitu kepingan rasa sakit hadir kembali untuk menyapa.

__ADS_1


Zehra menatap kakak nya ,kemudian kembali menurunkan satu kakinya seperti semual .


"Dari mana kakak bisa menyimpulkan semacam itu !"


"Dari noda yang membekas di hidup kakak. Entah kenapa Allah saat ini selalu mengingatkan bahwa kakak itu hina ,kakak itu kotor,bahwa tidak ada yang bisa di banggakan dalam hidup kakak ,Zehra.. kakak itu tidak semulia apa yang orang lain pandang tentang kakak !" Katanya nyaris berteriak karena menahan emosi yang berharap di bebaskan.


"Kenapa kakak berpikir seperti itu ? Bukan kah tidak ada seorang yang bisa terhindar dari dosa jika Allah menginginkan orang itu jatuh kepada dosa ? Memang nya ,di mana letak 'La Haula walaa quwwata 'Yang sering kakak ucapkan ,bukan kah kita tidak bisa berbuat kebaikan atas campur tangan Tuhan ? Bukan kah kata kakak Tuhan itu maha baik ? "Emosi Zehra dengan suara berteriak,tentu saja untuk menyadarkan sang kakak yang telah larut dalam keterpurukan.


Nafisah tertegun ,begitu dalam sang adik memaknai sesuatu apa yang dulu pernah ia ucapkan. Matanya terpejam ,mencoba berdamai tetapi kemudian ia kembali di benturkan dengan rasa sakit begitu rabaan tak kasat mata datang ,membisikan rasa sakit yang tak pernah ia lupakan.


"Zehra ... Kita pulang !" Ucap nya kemudian bangkit ,meninggalkan sang adik yang masih tertegun di tempat nya.


***

__ADS_1


Lika ,comen sama vote ya ,jangan lupa dan selamat menunggu bab selanjutnya .


__ADS_2