
Hai kak ,semoga gak bosen ya ngikutin ceritanya .Alur nya emang agak ringan ,tapi tunggu sebentar lagi ya di depan akan ada kekacauan besar .
Terimakasih buat yang masih mengikuti sampai sejauh ini ,semoga selalu suka dan selamat membaca !
****
Mobil yang di kendarai aku berbelok ,masuk ke pekarangan rumah milik bibi . Bi May memang mengadakan runtinan pengajian di majlis nya hari Minggu pagi untuk ibu-ibu juga minggu ba'da Maghrib untuk bapak-bapak yang di pimpin suaminya sendiri.
Aku tak begitu khawatir bibi akan sibuk karena ini baru hari Selasa .
"Assalamu'alaikum !"
"Wa'alaikumsalam , Fikhar ? " Alis Bi May berjinjit ,tampak sekali keraguan tercetak dalam sepasang netra yang kini menatap ku bingung. "Masuk !"perintah nya kemudian setelah tadi sempat berpikir terlebih dahulu .
"Kamu mau minum apa ?" Bi May bertanya begitu aku baru saja telah mendudukan tubuh ku di atas sofa .
"Air putih aja bi !" Jawab ku tak nyaman , mengingat ketegangan tiba-tiba tercipta dalam bahasa tubuh kami masing-masing.
"Paman ada Bi ?" Tanya ku basa-basi ,begitu bi May telah kembali dengan segelas air putih di tangan nya . Wanita itu tampak mengangsurkan gelas itu ke hadapan ku kemudian duduk tepat bersebrangan dengan keponakan tampan nya ini
Pandangan nya menelisik ,memperhatikan ku yang kini tengah meminum air putih . Aku tau ,Wajah kuyu juga kantung mata yang menghitam terlihat begitu mencolok dari penampilan aku yang dulu ." Paman mu sedang keluar , survei beberapa toko !" Jawab nya kemudian,melupakan pikiran ku tentang pandangan yang dilihat nya beberapa saat yang lalu.
"Oh !" Aku mengangguk ragu tanpa berniat menanggapinya ,karena bukan hal itu yang membuat ku mampir ke sini . Aku kembali meletakkan gelas yang kini air nya tak lagi berbekas disana.
Hening ... Untuk beberapa saat kami terdiam .Belum ada yang berniat kembali memulai pembicaraan .
__ADS_1
"Mami mu giman kabarnya,Fikh ?" Bi May mencoba memecah keheningan yang sempat tercipta .Mereka memang tak lagi bertemu paska drama lamaran itu,tetapi bi May tau bahwa sepanjang dalam perjalanan wanita yang di panggilnya kakak itu tak pernah berhenti menangis,ia tahu hati wanita itu sedang merasa hancur .Saat itu ia khawatir ,tetapi memilih mendiamkan nya karena mungkin mami butuh sendiri untuk menenangkan hatinya .
"Mami mengurung diri di kamar Bi, dan dia tidak mau berbicara dengan Fikhar . Papi juga masih sangat marah ,untung nya mbak Vena gak pulang ke Jogja karena mengerti kondisi,jadi Fikhar sedikit bisa lebih tenang ! ."
Bi May mengangguk mendengar penuturan ku barusan . "Masih belum ada kabar dari kyai Hasyim ?" Ucap bi May kembali melempar pertanyaan dengan suara ragu.Aku hanya menanggapi pertanyaan bibi dengan gelengan pasrah.
"Belum !" Keluh ku kemudian sambil membuang napas pelan ,mencoba mengusir rasa sesak yang kembali menjebak.
"Mami sama papi sudah tiga kali ke sana, tapi tak pernah ada yang menyinggung apapun tentang Ustdzah Nafis pada Fikhar ! Fikhar masih belum berani bertanya sama mami karena takut membuat nya menangis lagi!" Kepala ku menunduk sejenak ,mencoba mengusir semua rasa sakit yang hadir .Kemudian kembali mendongak setelah sebelum nya mengusap ujung mata ku secara bergantian .Ya Tuhan ,aku bahkan tak tau sejak kapan aku selemah ini.
"Ustdzah Nafis hamil ya,Bi?" Aku bertanya dengan suara frustasi . Sungguh ,demi apapun aku ingin mendengar kebenaran itu dari Minggu lalu ,tetapi seorang pun tak pernah ada yang mau berbicara dan membahas nya.Ralat ,semua orang mendiamkan ku dan menyiksa dengan perasaan bersalah.
Bi May mengangguk pelan .
Ujung mataku basah .
"Bukankah harusnya Fikhar bertanggung jawab ya, bi?"
"Harusnya begitu ,tetapi kan semua keputusan berada di keluarga ustadzah Nafis .Bibi juga kemarin dapat kabar dari Jombang bahwa Gus Pati sudah datang dan melamar Nafis sebelum kita datang!" Jawab bi May terdengar prihatin .
Kurasakan hati ini remuk redam,kabar ini terlalu menyakitkan untuk sampai ke pendengaran ku . Aku tak mau mendengar ,sedikitpun tak mau mendengar jika pada kenyataan nya Nafisah akan menerima pria lain sebagai suaminya .Jika sampai seperti itu ,apa yang akan terjadi pada diri ku ,mati atau gila ?
Aku terdiam,wajahku mungkin memerah ,berusaha meredam hawa panas yang membakar hati .Demi apapun aku tak rela ,tak akan pernah rela jika pada akhirnya Nafisah bersama dengan pria lain .Apapun yang terjadi,aku harap akulah pria yang akan bersanding dengan Nafisah kelak.Ralat ,Nafisah dan keluarganya tak akan pernah mau menerima pendosa di tengah tengah kehidupan mereka . Lagi-lagi ku dapati tangis pada mataku ,entah untuk alasan apa ,namun hati ku begitu sakit .Sangat sakit.
"Lalu ,bagaimana dengan anak yang di kandungnya ?
__ADS_1
Bibi ,katakan apa yang seharusnya Fikhar lakukan agar Nafisah mau menikah dengan Fikhar ?" Mohon ku kemudian dengan wajah frustasi.
Bi May hanya meringis ,aku mengunci sepasang netranya dengan pengharapan besar .
"Bibi tidak tau Fikhar !"Katanya , meruntuhkan dengan paksa semua harapan yang tersisa ,Sakit ,kanapa jawaban 'Tidak' aku dengar dari mulutnya.
"Harusnya Fikhar yang menikah dengan Ustdzah Nafis bi,harusnya Fikhar karena Fikhar adalah orang yang merenggut masa depan nya!"Bantah ku ,masih belum bisa menerima sepenuhnya.
"Lupakan dia Fikhar ! Banyak wanita lain di luar sana .Lupakan dia ,karena bagi kita merupakan sebuah ketidak mungkinan untuk mendapatkan nya . Biar bibi carikan yang seperti ustazah Nafis !" Ralat bi May seperti mencoba menenangkan hati ku. Aku membeku untuk waktu yang lama ,apa aku benar-benar tak pantas untuk nya?
"Tidak ada bibi ,tidak ada yang menghancurkan Fikhar melebihi Ustdzah Nafis .Fikhar sungguh menyesalkan kejadian ini terjadi hingga Fikhar terjebak dengan rasa yang begitu menyakitkan !" Tutur ku kemudian dengan air mata berlinang .Entah untuk alasan apa tetapi jika boleh jujur ,sudah lama sekali mata ini tak pernah mengeluarkan air nya.
Bi May terdiam ,mungkin ia tak tahu apa yang mesti ia jelaskan kepadaku .
"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin ,jika Allah telah menghendaki semuanya terjadi .Maka hal itu akan terjadi !" Pada akhirnya ,bi May membuang napas kemudian pergi hendak mengambil sesuatu.
"Pulang lah Fikhar ... Bersuci dan bertaubatlah,jika kamu benar-benar mencari ketenangan dalam hidup ! Lari ,dan kejarlah ...Setitik cahaya dari Tuhan yang saat ini ada di depan mata mu karena bibi melihat hidayah itu sebentar lagi akan datang menghampiri mu !" Ujar bi May sambil menyodorkan sebuah buku panduan shalat kepada ku .Aku termangu ,'Hidayah' bagiku itu hanya kebohongan semata .
Tetapi ,ku dapati tatapan yang meyakinkan begitu aku mendongak dan menatap matanya. .
"Pulanglah !" Usirnya halus .Dan aku sepertu orang bodoh ,mengangguk sambil menerima buku yang bibi kasih kepadaku.
***
like ,vote ,comen plissss...
__ADS_1