
. Suasana tidak seramai saat ia pergi tadi,mungkin karena para santri berada di Kobong nya masing-masing,merehat kan sejenak otak nya yang sedari tadi di isi kajian dan ilmu agama,atau sekedar mengisi perut nya sebelum adzan dhuhur berkumandang.
Sepasang mata milik Nafisah melihat mobil Fortuner warna putih yang terparkir tepat di halaman rumah nya begitu ,motor yang di kendarai Zehra dan dia masuk. Nafisah tau betul ,siapa pemilik mobil itu .Gurunya dulu ,sewaktu ia mondok di Jombang.
Ia mencoba tak peduli ,seharusnya ... Gurunya itu tidak datang di saat ia dalam keadaan seperti ini,di saat ia masih dalam keadaan menata hati nya yang sedang hancur berantakan,di saat hatinya sedang terluka dengan sangat . Tidak apa-apa ,ia akan menemuinya sebentar kemudian setelah itu kembali ke kamar .
Langkah nya terlihat berat , mengingat gamis yang di kenakan nya saat ini basah kuyup . Kepala nya menunduk tetapi kemudian langkah nya terhenti begitu ia mengakat kepala dan sepasang netra nya bertemu dengan seseorang .
Untuk sesaat ia membeku ,saat kedua pasang mata itu juga memenjarakan nya dengan tatapan yang sulit di artikan. Nafisah membuang muka ,ketika segaris senyum tampak dari wajah yang baru saja menjadi objek pandangan nya.
Zehra bersiul ,memasuki rumah bersama gitarnya dengan begitu santai. Sementara ,umi Dian menatap tajam dengan tatapan membunuh saat melihat putri nya itu berjalan santai tanpa mempedulikan tamu yang hadir . Zehra tampak mengedikan ke dua bahunya begitu pandangan nya bertemu sang umi .Sementara gadis itu memasang wajah tak bersalah sama sekali.
"Mohon maaf ya Bu nyai ,yang satu ini emang agak kurang sopan!" Ujar umi Dian dengan perasaan malu.Sementara ,kyai Hasyim tersenyum mendengar permintaan maaf istrinya .Zehra memang begitu ,sedari dulu Kyai Hasyim memperingatkan sang istri untuk tidak begitu mengkhawatirkan nya.
"Assalamu'alaikum!" Suara Nafisah berhasil mengalihkan semua tatapan yang hadir sekaligus menghentikan kalimat yang baru saja akan keluar dari mulut gurunya Nafisah. mereka lantas tersenyum begitu tau siapa yang saat ini datang . "Nafis apa kabar ? " Tanya wanita dengan usia kisaran enam puluh lima tahun begitu ia membungkuk untuk menyelamai gurunya .
"Nafis baik umah ,Umah sehat ?"
__ADS_1
"Umah sehat Alhamdulillah.. seperti yang kamu lihat ! "Katanya "Ayo ganti baju dulu ,takut masuk angin !" Nafisah mengangguk kemudian undur diri . Sementara ,Umi Dian tampak menghela napas lega.Bagaimapun ,kepulangan Nafisah dari tempat yang tidak ia tahu itu membuat nya terlihat lebih baik.
Nafisah menghela napas ,mencoba mengusir rasa sakit yang berkilat hadir . Melangkah kan kaki dengan tubuh nya yang gemetar .Akhir-akhir ini memang daya tahan tubuh nya begitu lemah . Penyebabnya ,apalagi kalau bukan beban pikirnya yang berlebihan .
Setelah mandi dan berganti baju ,gadis itu kembali merangkak ke pembaringan. Pertemuan dengan gurunya tadi menurut nya sudah cukup . Demi tuhan ,saat ini dia sedang tidak mau berbicara terlalu banyak.
Ia baru saja hendak menaikan selimut nya untuk melindungi kebekuan hati yang sudah lama memenjarakan,mengurung diri dengan rasa sakit namun tak jadi begitu suara ketukan pintu menyapa pendengaran nya.
Lama terdiam ,menatap pintu dengan tatapan kosong . Ia ingin sendiri ,tak adakah yang bisa membuat nya mengerti ?
"Masuk!" Ucap Nafisah pada akhirnya setelah sebelumnya ia menghela nafas pasrah dan membalikan badan untuk menegaskan bahwa saat ini ia ingin sendirian.
"Ada yang mau di sampaikan sama guru-guru mu .Mereka meminta mu datang !"
Nafisah memejamkan matanya,air mata nya menetes perlahan. Kata-kata sederhana itu terasa begitu menyiksa ,hatinya memberontak .Sungguh,saat ini ia sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa .
"Turunlah sebentar ...! Ada hal penting yang ingin mereka bicarakan dengan mu!" Sekali lagi umi Dian meminta putrinya dengan suara ragu.
__ADS_1
Nafisah bangkit kemudian menghela nafas . Kalau bukan mengingat adab ia tidak akan mau memenuhi panggilan ini . Apapun ,yang akan di dengar nya seperti tidak ada yang penting untuk kali ini . Ia ingin sendirian ,sendiri dulu sampai waktu yang lama.
Ia datang dengan wajah tertunduk ,pikiran nya bercabang hingga satu katapun seperti tidak ada sedikit pun yang masuk ke dalam kepalanya . Ia tak tahu,nyaris tak mendengar apapun yang sedari tadi keluar dari lisan sang guru. Ia asik sendiri ,berkelana di dunianya sendiri sampai ia pulang,setelah berhasil kembali membawa luka dan rasa sakit.
Nafisah tersadar ,begitu merasakan remasan kuat di tangan nya dari sang umi "Nafis ,jika berkenan Abah ingin mengambil mu sebagai mantu Abah dari Gus Pati!" Nafisah mendongak ,memastikan apa yang baru saja di dengar nya benar. Ia menatap semua yang hadir untuk mendapatkan kebenara,dan kebenaran itu ia dapatkan dari wajah sang umi yang saat ini telah mengulas senyum.
"Kamu mau kan jadi istrinya Gus Pati ?" Tanya ibu Gus Pati kemudian.
Nafisah membeku di tempat ,merasakan kembali hantaman keras yang mengenai ulu hatinya . Tentu saja ,menurutnya ini seperti lelucon .Di saat ia dalam keadaan hancur sehancur-hancur nya sekarang orang yang selama ini secara diam-diam ia cintai melamar nya.Bukan kah rasa sakit dan bahagia itu bertolak belakang ,lalu sekarang ? Mengapa mereka datang secara bersamaan.
Ia mengangkat kepala ,mencari keberadaan seseorang . Kemudian berhenti ketika sepasang netra telah menatap nya dengan penuh pengharapan. Sejak kapan ,sejak kapan pria itu menyukai nya ?
Mata mereka berserobok, masing-masing bergelut dengan pemikirannya .Dia,pria yang di gadang-gadang kan seantero pondok,kemudian kesempurnaan nya di sebut-sebut.Pria nyaris tanpa cela itu kini telah melamar nya ,melamar dirinya di atas kehancuran yang nyata.
"Suatu kehormatan bagi Nafis Abah ,umah . Tetapi mohon maaf ,bukan diri Nafis tak menginginkan nya tetapi ... Saat ini Nafis telah menunggu seseorang!" Nafis membuang muka,begitu mata penuh harap itu berubah menjadi tatapan kecewa.
Umi Dian dan kyai Hasyim menatap putrinya ,meminta penjelasan sementara helaan napas kecewa terdengar dari mulut semua orang yang ada .
__ADS_1
***
Jangan lupa ya kak ,like komen sama vote biar makin semangat nulis nya. Dan jangan pernah bosan untuk menunggu bab selanjutnya.