
"Sudah?" Kyai Hasyim bertanya begitu aku sampai dan ke dua orang itu masih setia menunggu ku . Aku mengangguk ,kemudian mengikuti langkah mereka dari belakang .
Suasana majlis itu hening ,begitu kyai Hasyim dan kami masuk beriringan.Ribuan pasang mata menatap kami seperti penasaran .
Hanya suara di lantai atas yang terdengar masih gembreng ,dan ku pastikan jeritan yang baru saja terdengar itu berasal dari santri-santri putri. Apalagi ,bukannya terlalu pede tetapi memang begitu kenyataan nya .Semua orang mengakui aku tampan dan bagiku hal semacam ini sudah terbiasa aku temukan.
Jelemaan dewa Yunani ,itulah julukan mereka ketika aku masih duduk di bangku sekolah. Sampai saat ini mungkin ,meski mereka tidak seperti jaman dulu yang kerap kali mengatakan terang-terangan ,tetapi dengan mereka yang rela menjadi wanita yang ke dua ,ke tiga ,atau menjajakkan tubuhnya secara cuma-cuma sepertinya cukup untuk membuktikan bahwa aku memang semempesona itu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Kyai Hasyim memulai ,dan entah sejak kapan aku sudah duduk di sini ,di samping papi,tepatnya di barisan paling depan.
Jawaban salam menggema dari berbagai penjuru ,kutaksir yang hadir mencapai ribuan ,belum jamaah yang di tempatkan khusus yang tak bisa aku lihat karena posisi mereka di atas. Kabarnya ,gabungan santri pria dan santri putri yang beliau asuh saja mencapai satu ribu . Dan lagi-lagi hal itu yang kembali mengingatkan ku bahwa aku tak sama sekali cocok dengan putri beliau itu.
"Sebelum memulai rutinan kita malam Jum'at ini ,ada sesuatu yang ingin Abah sampaikan !" Ucap kyai Hasyim terdengar begitu berwibawa ,ribuan orang seperti tersihir memasang pendengaran dengan tatapan mata mereka yang begitu awas.
Kyai Hasyim menarik napas sebelum memulai .Beliau mengulas senyum ,tetapi tatapan matanya tak terbaca .Matanya berkaca-kaca ,meski beliau buru-buru menyusut dengan ujung sorbannya telah cukup membuktikan bahwa beliau sempat menangis.
"Di mohon ,untuk semua jama'ah yang hadir di majlis ilmu ini agar menjadi saksi untuk pernikahan putri sulung Abah .Abah memutuskan dia untuk menikah dengan laki-laki pilihan Abah ,mohon do'a nya kepada hadirin sekalian agar laki-laki yang saya pilih itu adalah orang yang tepat untuk Nafisah dan mampu membimbing dan menuntunnya sampai ke surganya Allah !"
__ADS_1
Deg...
Untuk sesaat aku merasakan
Jantung ku berhenti berdetak ,seperti ada yang tercabut paksa kemudian meremas dan memberi rasa nyeri pada ulu hatiku ini .Sungguh, demi apapun perasaan ku terasa mati setelah mendengar apa yang baru saja kyai Hasyim tuturkan .
Dadaku sesak ,sementara pikiran ku limbung entah di bawa kemana.
Untuk inikah aku di undang kemari ? Menjadi saksi pernikahan wanita yang aku cintai . Air mataku merebak ,merasakan kembali hantaman nyeri .Sungguh ,di penjara sepertinya akan lebih baik ketimbang mendengar kenyataan dan rasa sakit ini .
Mataku menelisik ke sekitar . Berkas-berkas sedang di bereskan oleh orang yang ku taksir sebagai penghulu .Tetapi ,bukan ini yang mataku cari .Gus Pati ,nama yang pernah bi May sebut juga kerap kali menggangu .Dimana orang nya ? Tidak ada yang lebih tampan dariku ,kecuali seorang yang tadi di tunjuk menjadi imam yang wajahnya lumayan rupawan lagi sedari tadi sepertinya tak pernah jauh dari Abah nya Nafisah itu.Tetapi,nama pria itu Nizam, apa sungguh Nafisah akan di nikahkah dengan dia ?
Bukan ini ,bukan seperti ini tujuan ku datang kemari. Aku datang untuk di hakimi ,aku datang untuk di hukum ,bukan menjadi saksi pernikahan wanita yang aku damba selama ini .Aku hendak berteriak ,tetapi tersadar begitu tepukan halus papi menyadarkan ku .Dan aku baru menyadari ,sedari tadi aku telah menangis .
"Nak Fikhar , apa sudah siap ?" Aku membeku mendengar pertanyaan yang sama dengan mami beberapa saat yang lalu .
"Tidak ada yang di tunggu lagi kan ,kalo sudah. Mari kita mulai !" Ucapnya dan aku masih gagal mencerna apa yang baru saja beliau ucapkan.
__ADS_1
Lagi-lagi papi mengikut lengan ku .Aku berbalik, menatap papi meminta penjelasan .Tunggu ... siapapun tolong ,jelaskan apa yang sebenarnya terjadi .Kenapa semua nya terasa begitu membingungkan .
"Bisa di mulai ,nak Fikhar ?" Itu pertanyaan kyai Hasyim kepada ku bukan .Tapi ,maksud nya ?
"Mahar apa yang kau punya untuk menikahi putri Abah ?"Tanya nya lagi .
Mahar ? Lima belas karat ?
"A-aku punya ini " kataku terbata sambil membuka paper bag yang tadi sempat mami berikan . Ada sebuah kotak beludru berwarna biru dengan sebuah cincin di dalam nya .Dengan tangan gemetar ,aku menyodorkan kotak itu kepada beliau .
"Aku punya cincin berlian lima belas karat !" Kataku pada akhirnya dengan penuh rasa haru . Semua ini membingungkan ,tetapi kebahagiaan kemudian datang menyapa .Aku limbung ,tak tau apa yang sedang aku rasakan .Semua nya mengegerkan kan ,tetapi satu hal yang aku temukan bahwa aku bahagia ,teramat bahagia hingga semua itu tak bisa di ukur dengan kata-kata.
Dan Nafisah ,benar.Pria yang sedari tadi kyai Hasyim sebut -sebut itu adalah aku .
Tuhan benarkah , sebentar lagi aku akan menjadi suami dari seorang Nafisah ,? Seorang pendosa seperti ku ? Terimakasih ,kau begitu baik .Aku berjanji ,akan menjaga permatamu dengan sepenuh hati .
***
__ADS_1
dear para reader ...Jangan berharap malam pengantin si babang seindah malah pengantin kalian !!
Like ,comen ,rata ,vote..