Suci yang Ternoda

Suci yang Ternoda
Perjalanan


__ADS_3

Dia masih mematung,memperhatikan lamat pantulan dirinya di hadapan cermin.Tidak ada yang kurang,tetapi kegugupan ,tercetak begitu jelas dalam pandangan nya.Tidak ada yang lebih dia inginkan selain pertemuan,kemudian melihat gadis yang mau di lamar nya kini baik-baik saja. Meski tak bisa dipungkiri,hatinya berharap penuh Nafisah akan menerimanya .Sayang nya ,seperti yang semua orang katakan, harapan itu harus segara ia pupus mengingat potensi kebencian lebih besar dari pertemuan nya kali ini.


Wajah kebencian gadis dan keluarga nya terkadang berkilat hadir,menari-nari di pelupuk mata,kemudian wajah kekecewaan dari kekeluarga nya sendiri yang jauh-jauh hari sebenarnya sudah ia perhitungkan.Tak ayal,resah masih juga melanda hatinya. Fikhar hanya ingin semua orang tahu,kemudian ia akan memperbaiki kesalahan nya.


Memperbaiki bagaimana? Ah...Bahkan ia tidak tahu dengan cara apa ia harus memperbaikinya. Dengan menikahi Nafisah ? Semua orang juga tahu bahwa dia bukan tipe ideal calon suami seorang ustadzah atau dengan uang ? Cih.. keluarga mereka tidak akan bisa di beli dengan uang.


Lagi-lagi ,Fikhar tampak mengusap wajah nya gusar. mengingat berjuta kemungkinan menyita banyak tempat di dalam hatinya kala ini.


"Fikhar ,apa kau sudah siap ? Kenapa lama sekali?" Vena berteriak dari bawah tangga. Teriakan nya sudah pasti keras mengingat masih terdengar sampai kamar yang ia tempati yang notabenya cukup jauh dari keberadaan kakak nya . Ia hanya membuang napas kasar ,berharap rasa gugup nya berkurang sebelum memastikan ada yang kurang kemudian pergi.


"Kau lihat ,bibi saja sudah sedari tadi datang .sekitar setengah jam yang lalu,bibi menunggu !"Omel Vena ketika sosok yang ia teriaki sudah menampakan diri dan saat ini sedang buru-buru menuruni tangga. "Masih terlalu pagi mbak ,aku yang punya tujuan kenapa mbak yang cerewet!"Jawab Fikhar santai sambil tersenyum yang di balas tatapan mata jengah dari kakak nya. "Masih pagi pala Lu, kalo sudah terjebak macet di tol ,baru tau rasa !" belanya sarkasme ,sementara Fikhar menanggapinya dengan cengiran tanpa dosa.


"Kamu serius dengan ucapan mu kemarin ?" Bi May bertanya dengan binar penasaran . Terkejut,tentu saja mengingat acara lamaran ini terjadi begitu mendadak.


"Seperti yang sedang terjadi sekarang ,bibi do'a in semoga semua nya lancar,tentunya terjadi seperti yang Fikhar harapkan !" Fikhar menjawab ,yang di balas dengan anggukan antusias dari sang bibi .

__ADS_1


"Bibi selalu menginginkan yang terbaik untuk mu!"Ujar nya sambil tersenyum kemudian mengelus bahu keponakan nya untuk memberi semangat.


Kali ini Fikhar terdiam .Merasakan sakit pada ulu hatinya .Ia tahu semua ini tak akan mudah dan berjalan lancar .Tunggu saja ,tinggal beberapa jam lagi hal buruk akan terjadi ,kekacauan yang besar akan merubah segala pandangan tentang dirinya.Dan ia sepenuhnya sadar ,ini adalah konsekuensi untuk apa yang telah di perlakukan nya malam itu kepada Nafisah.


"Tidak ada polisi yang mau mengawal kita,pih?" Fikhar bertanya begitu dua mobil melaju beriringan,meninggalkan pekarangan rumah.


"Tidak ada polisi-polisian !,Tadi sudah mbak bilang ,takut kejebak macet .memang nya kamu belum mengerti sama ucapan mbak,Fikh?"Masih dengan nada kesal Vena menjawab pertanyaan adiknya yang sebenarnya bukan untuk dia. Ada empat orang dalam mobil yang di tumpangi nya .Randi,pak Roman ,Vena juga dia .Sementara ,mobil satu nya lagi di tunggangi dua bersaudara bersama seorang sopir yang membawa nya.


"Ya mana Fikhar tau mbak!biasanya juga kan kalo mau pergi ke luar kota selalu di kawal polisi!" Jawabnnya tak terima ucapan sang kakak yang dari tadi menyudutkan nya.


Tidak banyak percakapan di antara mereka .Randi sibuk mengemudi ,sementara Vena tampak tertidur .Ia masih mengantuk,mengingat malam hanya tidur dua jam untuk mempersiapkan semua keperluan.Fikhar juga lebih banyak diam,ia terlalu sibuk menata hati , membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti.Ia tidak menyangka ,kejadian nya malam itu membawa ke posisi seperti ini.


Sungguh .demi apapun, bukan ini yang ia rancang dalam daftar kehidupan nya ,namun lagi-lagi Tuhan memiliki kendali atas segala nya.


Perlahan,mobil mereka masuk ke kawasan gang sempit,kemudian berhenti di depan gerbang rumah bercat putih berlantai dua. Warna hitam yang di padukan dengan cat putih rumah itu memberi kesan cerah, tanpa melupakan keasrian mengingat tanaman hijau ,hidup dan tumbuh subur di sekitaran rumah itu.

__ADS_1


Jangan tegang Sayang,kamu tampan kok!" Vena melirik adiknya dengan senyum menggoda .


Fikhar tampak tak peduli,ia mengambil napas sebelum pada akhirnya ia benar-benar turun .


Gemuruh santri yang sedang melantunkan bait Alfiyah terdengar samar ,nyaris kalah dengan suara air mancur yang sengaja di pasang dari bebatuan alam yang kini menyambut mereka begitu memasuki halaman rumah nya. Entah dari mana asalnya ,sesuatu merasuk .Kedamaian ...Ia ,ia merasa damai setelah sekian lama ia tak pernah lagi merasakan nya.


***


Sementara di dalam,Keluarga Nafisah baru saja menyelesaikan makan nya begitu suara deru mesin mobil berhenti di pekarangan rumah mereka.Tidak aneh mengingat rumah mereka sering di kunjungi tamu untuk bersilaturahmi.Pintu selalu terbuka seperti sekarang ini ,jadi sang pemilik rumah tidak perlu tergopoh-gopoh untuk sekedar membuka kan pintu .


Jika suara salam sudah terdengar ,barulah mereka akan menghampiri dan segera mempersilahkan tamu nya masuk dengan sangat ramah.Mereka tidak akan menanyakan tujuan mereka berkunjung kecuali si tamu benar-benar mengutarakan niat nya.


***


Jangan lupa ya like ,komen sama vote biar makin semangat nulis nya.

__ADS_1


__ADS_2