
Hanya satu botol minuman ,harusnya tidak membuat nya mabuk seperti ini .Tetapi,entahlah ..Akhir-akhir ini pengaruh minuman itu sedemikian hebat ,mungkin pemicu utamanya di sebabkan karena daya tahan tubuh nya yang menurun.
Rasa pening sisa mabuk semalam masih menyerang kepalanya ,pikirnya minuman keras juga wanita agresif sialan yang lagi-lagi gagal membangkitkan gairah nya tadi malam itu tak berguna,karena pada akhirnya pikiran nya masih berpusat dengan gadis yang di tiduri nya satu bulan lalu .Hal itu tak luput ,ia keluhkan pada sahabat nya .Sekalipun ,gadis sia*lan itu sudah di rubah penampilan nya ,tetapi tetap sama wanita itu bukan dia. Iya ,Fikhar sepenuhnya sadar bahwa dialah yang diinginkan nya.
Fikhar menghela nafas ,mencoba mengusir bayangan gadis itu .Tetapi lagi-lagi gagal ,karena wajah itu kembali menyiksa dan menuntut balas atas kesalahan nya.
Dering ponsel di susul dengan menyalanya layar terdengar di saku nya. Aryo ? Ada apa dengan pria itu ,padahal Fikhar baru saja pulang dari rumah nya .
"Fikh ... Lo minat sama Mikhaila ,kalo Lo mau nyoba nanti gue kirim ke apertemen Lo sekarang malem. Lumayan ,buat nyegerin otak Lo!"
Mikhaila ,public figur yang terkenal kecantikan nya itu ,terjun ke dunia prostitusi. Fikhar tak habis pikir ,memakai banyak barang barnd di kira sudah tidak tau lagi hendak mempergunakan uang nya bagaimana .Tak di sangka, untuk memenuhi kebutuhan materi nya wanita muda itu malah menjajahkan tubuh nya ,dengan bayaran tidak seberapa menurut Fikhar.
"Gue gak tertarik Ar , sory !" Panggilan di putus secara sepihak . Fikhar membuang nafas perlahan ,merasa hidupnya begitu membosankan . Satu bulan ini ,cahaya kehidupan nya meredup ,hilang dan entah dengan cara apa ia mengembalikan nya.Ia tak lagi bergairah dengan sesuatu hal apapun ,kecuali sesuatu tentang ustazah muda yang selama ini menyita habis pikiran nya.
Entah sajak kapan ,mobil nya membelok kemudian terparkir tepat di halaman bibinya .
Fikhar turun ,berjalan santai menaiki beberapa undakan tangga dengan pikiran tak tau apa yang hendak di perbuatanya di sini .Ralat ,apa lagi kalau bukan untuk mencari tau hal kecil tentang wanita yang sudah menghancurkan nya sedemikian hebat.
"Bi May !" Pria itu berteriak .
"Fikhar, Ya Allah .ke sini sama mami ?" Lagi-lagi ,pertanyaan itu yang terlontar dari mulut bibinya. Apalagi ,karena mereka tau persis bujangnya Mami Lena tidak biasanya berkunjung kerumah mereka kalau bukan atas paksaan dari maminya.
"Enggak bi ,Fikhar mau maen saja. Fikri ada Bi? Ucapnya basa-basi sambil mendudukan tubuhnya setelah tadi sempat menyalami tangan adik dari maminya itu .
__ADS_1
"Oh..!" Bi May mengangguk ragu .
"Fikri main futsal ,ya sudah bibi buatkan minum dulu . Kamu mau minum apa ?" Tambahnya kemudian memberi tawaran.
"Apa saja deh bi !" Pria itu tampak merenggangkan kepalanya di sofa. Sesaat memejamkan matanya kemudian membuka nya lagi saat suara langkah kaki berjalan mendekat ke arahnya .
"Kamu lagi sakit ya ,Fikh ?" Bi May bertanya saat baru saja meletakan pantat nya di atas sofa berhadapan dengan Fikhar. Sementara ,Fikhar tampak menjinjitkan satu alisnya . "Memangnya, Fikhar kenapa bi?" Katanya malah balik bertanya .
"Ya beda aja . Bisanya keponakan bibi ganteng ,keren , rapi ,wangi ,terus...!" Bi May menjeda ucapan nya kemudian menatap tajam keponakan yang usai nya beda tujuh tahun nya itu. "Kamu lagi patah hati ya ?" Tebak nya kemudian.
"Ngada-ngada deh bi !" Celutuk Fikhar menyangkal ucapan bibinya . Matanya dialihkan, menjangkau apa saja demi menghindari tatapan bibinya barusan.
"Yeeh, jangan berbohong dengan orang yang sudah memakan banyak garam lebih dari kamu ." Kata bi May sambil menarik bibir nya .Ia tahu ,tebakan nya tidak sepenuhnya salah.
"Sayang sekali ... Memang nya kenapa bisa putus ? "Respon bi May terdengar prihatin.
Fikhar menatap bibinya sekilas kemudian meneguk es jeruk nipis yang tadi bibinya suguhkan. "Fikhar gak yakin mami setuju dengan hubungan kami !" Ujarnya berbohong ,tetapi seperti nya terdengar masuk akal .
"Ya,selama wanita itu baik,se akidah ,bisa di atur kenapa enggak ?"Tanggap bi May. Menarik nafas kemudian tersenyum menenangkan.
"Nah ,justru masalahnya di situ bi. Dia besar di Amerika . Jadi ,bibi tau sendiri bagaimana pergaulan di sana !"
"Yang sabar ya Fikh " Sang bibi menatap keponakan nya dengan prihatin "Kalau boleh jujur, bibi juga Kurang setuju kalo kamu nikah sama keturunan barat.!"Asumsi nya kemudian.
__ADS_1
"Ya,mungkin apa yang mami pikirkan tentang gadis barat tak jauh beda dengan pandangan dari sudut pandang bibi!" Fikhar menanggapi dengan wajah malas .Tentu saja ,bukan hal ini yang ingin ia bahas di sini.
"Lagian ,kenapa kamu gak nyari yang lulusan pesantren aja si Fikh .Bibi kan punya banyak kenalan santri ,kali aja ada yang cocok di kamu !"
Fikhar berdehem ,mencoba bersikap sebiasa mungkin . Tatapan nya fokus ,ia tidak ingin melewatkan apapun pembahasan yang meruju pada gadis yang belakangan ini membuat nya nyaris gila.
"Fikhar gak yakin mereka mau sama Fikhar!" Ungkapnya terdengar lesu. Ia membuang nafas,merasakan benturan hebat pada sang hati begitu wajah kebencian yang sudah ia perkirakan itu hadir ,sekilas membayang di pelupuk matanya.
"Kenapa enggak ,keponakan bibi tampan ,mapan ,baik ,hanya banyak mempermainkan hati wanita. Selama kamu mau berubah itukan masih bisa di perbaiki ..!" Ujar bi May menyebut satu persatu kelebihan Fikhar. "Paman kamu juga sama ,playboy kelas kakap, tapi selama dia mau berubah ya gak ada alasan buat bibi menolak niat baik nya !" Tambahnya menceritakan masa muda suaminya dulu. Wanita yang di sebut bibi itu bercerita dengan binar sempurna , seolah-olah ia kembali ke masa mudanya.
"Masalahnya, Fikhar udah gak pernah shalat bi.Agama Fikhar tertinggal sudah sangat jauh !" Lagi-lagi ,pria itu mengeluhkan tentang dirinya. Matanya berkaca-kaca .Penolakan itu terlihat begitu nyata ,ia tahu ia tidak pantas untuk mendapatkan gadis sesempurna Nafisah .
"Nah,itu yang menjadi masalahnya . Coba memperbaikinya diri terlebih dahulu .karena kebanyakan perempuan yang baik itu biasanya hanya untuk laki-laki yang baik. Fikhar ,bagaimanapun jodoh adalah cerminan diri kita ,maka mulai dari sekarang perbaiki semuanya!" Bi May menasihati .
"Jangan minta yang baik ,tapi ...mintalah yang terbaik!"Tutup nya sambil tersenyum.
"Menurut bibi ,mungkin gak kalo misalkan seorang wanita Sholehah berjodoh dengan lelaki urakan ?" Tanya Fikhar masih belum puas.
"Mungin.. sangat mungkin malah ! Fikhar ,jodohkan bukan seperti apa yang kita mau ,tetapi seperti apa yang Allah mau !"Lagi,bibi nya menanggapi dengan senyuman.
"Kalo misalkan kata bibi begitu ..." Sejenak,Fikhar menjeda ucapanya ."Ustadzah Nafis mau gak ya Nerima Fikhar, sebagai mana bibi mau Nerima paman !"Tambahnya terdengar ragu.
***
__ADS_1
jangan lupa untuk menekan like ya ,comen dan vote sebagai dukungan .. Terimakasih dan semoga gak pernah bosen untuk menunggu bab selanjutnya.