
Satu Minggu yang di janjikan ,nyatanya tidak cukup untuk melupakan semua rasa sakit,penderitaan ,kepahitan yang singgah di kehidupan Nafisah. alih-alih hidup nya lebih baik ,gadis itu malah lepas kendali.Ia belum mampu berdamai dengan taqdir yang menjadi bagian hidupnya,noda yang membekas itu membuat ia membenci dirinya sendiri.
Jamahan di setiap tubuh nya masih dapat ia rasakan ,menjadi mimpi buruk di setiap tidur nya. Hampir setiap malam ,gadis itu akan berteriak karena terbangun oleh mimpinya ,selanjutnya ia akan memeluk lutut di pembaringan sambil terisak.
Sampai adzan subuh berkumandang ia masih tak akan bisa memejamkan matanya kembali .Di peraduan ia akan bersimpuh ,menangisi dan mengadu nasib nya kepada sang pencipta.Sampai ia melakukan sembahyang subuh barulah ia bisa tertidur dalam pelukan sinar matahari.
Hal itu tidak luput dari kecemasan ke dua orang tuanya.Hampir setiap saat ,mereka selalu menyelipkan obrolan tentang putri mereka yang di cintai nya itu.Satu Minggu yang lalu ,kyai Hasyim sempat mendatang kan dokter psikolog dan siapa pun tidak akan ada yang menduga bahwa kejiwaan Nafisah sudah terganggu .
Mereka selalu berbicara pelan-pelan,tetapi kekhawatiran mereka di tolak mentah-mentah.Katanya" Nafis nggak apa-apa,Nafis saat ini hanya butuh waktu sendiri!"
Ucapan Nafisah tentu saja tidak bisa di terima oleh akal mereka mengingat ,kondisi tubuh sang putri yang setiap hari tambah mengkhawatirkan.Apalagi, akhir-akhir ini dia tidak mau makan.
Zehra ,meski agak nya seperti tak peduli tetapi gadis itu kerap kali masuk ke kamar sang kakak demi memastikan kakak yang selalu menceramahi nya itu baik-baik saja. Disana ia akan bermain gitar,bernyanyi ,menyalakan musik atau hal lain yang mungkin akan memancing kemarahan kakak nya tetapi tetap saja,tak ada respon .
Nafisah hanya akan menangis .Pandangan nya kosong ,terkadang bibirnya gemetar ,menahan sakit di hati yang tak mampu ia tahan.
"Nak ,percayalah Allah akan selalu ada bersama mu !"Ucap Umi Dian sekilas menatap iba ke arah putrinya. Meski agak nya beliau tak tahu dengan permasalahan Nafisah tapi setidaknya,semua itu ia lakukan tak lepas dari harapan agar putrinya merasa tenang."Jangan membebani pikiran mu dengan sesuatu yang sudah di atur Allah,nak .karena itu sudah diluar kendali kita!"Tambah nya dengan suara lembut.
Umi Dian mengulas senyum begitu satu suap nasi masuk ke dalam mulut putri nya. "Nafis tau Umi,Nafis hanya butuh waktu!" Jawab nya dengan kunyahan yang terlihat hambar.Sementara ,pandangan nya menerawang ,seperti sedang menembus sesuatu yang tak bisa di jangkau oleh matanya.
__ADS_1
"Omong-omong besok pagi Nafis mau keluar ,boleh ya ! "Izin nya yang di balas dengan tatapan ragu dari Umi Dian. "Beneran tidak apa-apa emang?" Jawab umi Dian sedikit ragu meski agak nya senang melihat putrinya sedikit memulih.
"Jadi ,boleh enggak nih!"Tanya nya lagi ,karena merasa tidak puas dengan jawaban sang umi.
"Boleh..Tapi Umi temenin ya !"Tukas nya sambil menatap Nafisah sekilas kemudian kembali tersenyum .Setelah itu tampak kembali fokus pada jahitan nya.
"Biar Zehra yang temani Nafis !"
"Umi tidak yakin ,kamu tau sendiri tidak ada yang bisa umi percaya pada anak bungsu umi!"Telak Umi Dian menolak usulan putrinya.
"Percayalah tidak ada yang harus di khawatir kan tentang Nafis.Nafis baik-baik saja Umi ,jangan berlebihan!" Katanya kemudian bangkit.Setelah itu ia pergi ,meninggalkan makanan nya yang masih tinggal separuh.
Sama kalanya waktu Kyai Hasyim memanggil dokter psikolog untuk memastikan keadaan nya.Dia menolak mentah-mentah tentang keberadaan dokter itu dengan ucapan"Nafis tidak butuh itu,Nafis hanya butuh waktu!" kemudian dia menangis keras ,tak terima saat dokter mengatakan jiwa nya sedang tidak baik-baik saja.
Sama dengan hal yang dilakukan nya sekarang,gadis itu pasti meringkuk dengan keadaan lutut di peluk,kemudian menangis dalam diam.Hal semacam itu sudah sering terjadi karena Umi Dian dan kyai Hasyim tak luput dari Zehra yang kerap kali memergokinya.
"Assalamu'alaikum !"
"Waalaikumusalam " Umi Dian mengulas senyum,kemudian menghentikan pekerjaan nya. Tergopoh-gopoh ia menuju wastafel kemudian mencuci tangan. Wanita dengan kisaran empat puluh lima tahun itu menghampiri meja makan yang saat ini telah menjadi tempat duduk bagi suaminya.
__ADS_1
"Nafis sudah makan ,mi?" Tanya Kyai Hasyim sambil memandangi sang istri yang saat ini telah menyediakan nasi untuk nya.
"Sudah..Sedikit !"Jawab nya sambil memberi isyarat bahwa nasi yang masih teronggok di piring itu bekas putrinya makan.
"Besok katanya minta izin buat keluar ,tapi tidak mau di temani umi !"Cerita umi Dian sambil menyodorkan satu piring nasi ke arah kyai Hasyim.
"Tidak apa-apa,nanti Abah suru Santi buat nemenin dia .Memang nya mau kemana ?"Tanya kyai Hasyim pada akhirnya , setelah tadi sempat menyebut santri Wati yang sudah sekitar lima belas tahun tinggal di pesantren milik nya.
"Minta nya di temenin Zehra !" Keluh sang istri kemudian tampak memasukan nasi ke dalam mulut nya setelah mengucapkan basmallah.
"Tidak apa-apa!,kalo mintanya begitu biar Zehra yang nemenin"
"Umi tidak percaya sama Zehra ,Abah tau sendiri kelakuan Zehra bagaimana!" Kukuh umi Dian bersikeras dengan pendirian nya.
"Istighfar umi ,dia putri kita!"Kyai Hasyim menasehati yang di balas dengan helaan napas dari istrinya . Bagaimana tidak ,putrinya yang satu ini berbanding jauh keperibadian nya .Jika yang satu lemah lembut,anggun sopan maka yang ini lebih cocok di juluki dengan pembuat onar .
***
Hai kak ,semoga selalu suka ya sama
__ADS_1
jalan ceritanya. jangan lupa like ,comen sama vote nya ya .Biar nulis nya tambah semangat ..