
Ia berjalan ,sementara pikiran nya berputar .Menyusun sedetail mungkin kata yang akam ia ucapkan pada ke dua orang tua nya.Sesekali napas keluar dari mulutnya ,mencoba mengusir kegugupan yang berkilat hadir masuk ke dalam hati .Kemudian langkah nya terhenti,ia membeku tak siap begitu kedatangan nya telah di sambut dengan obrolan santai keluarga nya .
"Mbak jauh-jauh lho Fikh dari Jogja buat ketemu keluarga ,kamu malah keluyuran !"Vena cemberut.Wajar saja,pria itu pergi dari rumah besar itu Jum'at malam tepat bersamaan dengan sang kakak datang ,dan ia baru kembali Sabtu malam .Tadi ia sempat mampir ke apertemen ,pikiran nya hendak beristirahat sebentar tetapi kemudian memutuskan pulang ke rumah orang tuanya begitu usaha untuk mengistirahatkan tubuh nya gagal.
"Fikhar di apertemen kak,lagi malas kemana-mana !" Jawab nya berbohong ,mengingat ia tak mau memberi penjelasan saat nanti di tanya alasan. "Kamu malah tinggal di apertemen si mam ,rumah ini kan besar .Kasian mami sama papi gak ada temennya!"keluh sang kakak dengan wajah masih di tekuk ,ia kesal ..Tentu saja ,saat biasanya Fikhar memilih bercerita sekarang terkesan sedang menghindari nya.
Fikhar tampak menimang sesuatu sebelum pada akhirnya ia melangkah ,kemudian duduk dengan tangan terkepal di sebelah kakaknya .Ucapan sang kakak tadi seperti angin lalu ,ia tak berniat menanggapi nya karena terlalu sibuk menata hati dan pikiran nya.
semua orang menatapnya penasaran mengingat kentara sekali kecemasan tampak jelas mendominasi wajah nya yang tampan."Kamu kenapa si Fikh ,ada masalah ya ? ini lagi,udah berapa bulan absen cukur ?"Tanya Vena sambil mengacak-ngacak gemas rambut adik nya."Mas ,ajakin dia ke salon besok gih.Mana bujangan ,nanti gak ada yang mau dean!"Tambah nya dengan nada bercanda.
Meski orang-orang terlihat begitu santai tetapi tak ayal ,tubuh pria itu masih terlihat tegang .Ia seperti hendak mengatakan sesuatu namun ragu.Dan keraguan itu terbaca oleh orang yang telah melahirkan nya dan menyayanginya sepenuh hati. "Fikhar,ada apa ?"Kali ini Mami Lena bertanya dengan tatapan curiga,di ikuti oleh suami dan menantunya.Mereka seperti siap dengan kata-kata apa yang sebentar lagi akan masuk kedalam pendengaran mereka.
"Begini mam , sebenarnya ada sesuatu yang ingin Fikhar sampaikan !"Ucap Fikhar ragu ,ia tak tahu hendak memulai dari mana,mengingat kata-kata yang sudah ia rancang sedemikian rupa itu mendadak hilang.Sementara Vena tersenyum jenaka,memperhatikan adik laki-laki nya yang menurut nya terlihat sangat menggemaskan.
"Hmm..terus !" Jawab mami Lena sambil meraih handphone kemudian memainkan nya.Hal itu ,tentu saja membuat Fikhar semakin belingsatan karena merasa tak nyaman.
"Sebenarnya gini mam ,emhh..maksudnya,Fikhar sebenarnya saat ini telah menyukai seorang wanita !"Dengan suara belepotan Fikhar mengutarakan niat nya ,sambil menatap mami dan papi nya secara bergantian .."Papi sama mami mau gak , minta tolong lamarin dia buat Fikhar .Fikhar malu!"Tambah nya dengan binar pengharapan yang besar.
Hahaha..
__ADS_1
Vena terbahak mendengar penuturan sang adik yang baginya terasa lucu,di tambah tingkah nya yang menurutnya di luar kebiasaan Fikhar itu terdengar begitu menggelikan .
"Santai Fikhar ..santai!" Canda Vena iseng sambil menepuk bahu adiknya.Tetapi , Fikhar tidak ambil peduli .Ia masih terlihat fokus sambil mengingat kata-kata yang sudah ia rencanakan sebelumnya.
"Anak mami tampan ,terus mapan.Sebentar lagi juga udah mau jadi presiden direktur.Memang nya ,wanita mana si yang bisa nolak anak mami !"Ucap maminya sambil mengulas senyum,berusaha menciptakan kenyamanan pada putranya.Ia meletakan ponsel yang sedari tadi di pegang nya kemudian menatap Fikhar dengan tatapan serius.
"Tapi sekarang Fikhar gak percaya diri,mam.Fikhar ragu dia akan menerima Fikhar dengan tangan terbuka!" Keluhnya dengan wajah lesu. Pria itu kembali menatap mami papi nya secara bergantian dengan tatapan meminta pertolongan.
"Memang nya..Gadis mana yang sudah bikin anak mami dilema ? seperti nya mami perlu menjelaskan siapa anak mami ini kepada dia !" Tanya nya kemudian dengan suara penasaran.Sementara yang lainnya sedari tadi tampak asik menyimak pembicaraan.
"Katakan saja Fikhar ,gadis mana yang ingin kamu lamar ?Biar papi nanti yang akan bicara sama orang tuanya! "Kali ini pak Roman menanggapi .Sementara Fikhar tampak ragu ,memperhatikan anggota keluarga nya satu persatu.
Vena tampak membuang napas lega,pikirnya ia tak sia-sia menceritakan tentang Fikhar sebelum nya ,meraih keripik kentang kemudian melahapnya dengan santai.Ia tampak tak peduli ,mengingat Fikhar sudah menceritakan semuanya.
Ukhuk..ukhuk.., Ukhuk...ukhuk..
Vena tersedak ,sementara suaminya belingsatan .Menuangkan air sampai berceceran.
Gluk..gluk.. Suara air yang melewati kerongkongan Vena terdengar ,memecah keheningan yang sempat tercipta. Mereka terkejut,tentu saja mengingat pria itu tak pernah menyinggung Nafisah.
__ADS_1
ukhuk.. ukhuk..
Meski sudah meminum air tapi tak ayal, tenggorokan Vena masih terasa sakit akibat sesuatu yang mendadak masuk berusaha menutup jalan napas nya.
"Pelan-pelan, sayang !"Randi memperingati ,sambil mengelus bahu istrinya .Ia tahu Vena begitu syok sama seperti mereka yang mendengar penuturan adik nya barusan.
"Maksud kamu apa Fikhar? Sejak kapan kamu suka sama Ustadzah Nafis?" Vena menuntut dengan tatapan meminta penjelasan. Sementara mami Lena hanya menghela napas pelan,ia tampak santai padahal otak nya sedang berputar mencari cara bagaimana cara agar Ustadzah muda itu bisa menerima putranya mengingat ia tahu persis bagaimana kelakuan putranya selama ini.
"Fikhar juga gak tau mbak ! Tapi semenjak mbak cerita tentang ustadzah muda itu ,Fikhar sudah menyukainya!" Jawab Fikhar sedikit santai.Kali ini ia berani mengangkat muka kemudian menatap satu per satu keluarganya.Fikhar tampak memejamkan matanya sejenak , merasakan ada kebebasan yang tercipta di dalam hatinya .
Yang paling penasaran tentu saja Vena ,saat ini ia benar-benar menatap nya dengan tatapan nyaris serupa dengan polisi yang sedang mengintrogasi. "Kamu pernah ketemu sama Ustadzah Nafis? "Buru nya dengan tatapan menyelidik.
Sementara, Fikhar tampak menganggukkan kepalanya pasrah.
"Kapan ?,Dimana ? ,kenapa kamu gak pernah cerita sama mbak?"Kali ini Fikhar di buat belingsatan ,tak tahu harus menjawab apa atas beberapa pertanyaan yang terlahir dari mulut kakak nya.
"Siera,dia bagaimana?"Tuntut nya ,dengan tatapan tajam.
"Aku sudah lama putus sama dia!"Jawab Fikhar cepat, berusaha mengalihkan pertanyaan sang kakak sebelum nya.
__ADS_1
***
Hai kak terimakasih karena sudah berkenan menunggu dan membaca,jangan lupa ya like comen sama vote nya,agar tambah semangat nulis nya.