Suci yang Ternoda

Suci yang Ternoda
kekecewaan


__ADS_3

"Apa pernah papi mengajari mu seperti ini ,hah?"Hardik pak Roman dengan tatapan nyalang ,nyaris serupa dengan binatang buas yang siap memangsa putranya yang saat ini menunduk dalam.


"Sedari kamu kecil papi selalu memberikan apa yang kamu inginkan ,apa sungguh tidak bisa sedikit saja untuk tidak membuat kecewa.Jika kamu tidak bisa berbuat baik ,apa sulit untuk tidak merugikan orang lain ,Tatap Papi Fikhar!"Masih dengan suara berapi-api.Pria paruh baya yang kesehatan jantung nya sudah mulai menurun itu tampak mendudukkan tubuh nya di kursi dengan kasar .Memegang dadanya yang mulai terasa sesak ..


"Sabar pih..Minum dulu,kita bisa bicara baik-baik!"Sela Vena sambil menyodorkan segelas air putih ke pada papinya.


Ustadzah May sudah pulang sedari tadi ,sementara mami Lena sudah pergi ke kamarnya begitu datang. Menangis,entah apalagi yang bisa di lakukan oleh seorang ibu yang baru saja mengetahui bahwa putra semata wayang nya telah menghancurkan hidup anak gadis orang. Ia begitu terpukul melihat ,betapa hancurnya keadaan Nafisah tadi .


"Fikhar janji pih, Fikhar akan bertanggung jawab !" Ungkap Fikhar dalam dengan wajah yang masih menunduk.


"Diam...!" Sentak pak Roman merasa kesal dengan suara putra nya.


Jika saja waktu bisa di ulang ,maka sungguh hal semacam itu tidak akan pernah ia lakukan. Ia tak kuasa mendapatkan semua kekecewaan dari keluarga yang terarah kepadanya. Meniduri seorang wanita sebenarnya sudah biasa ia lakukan ,tetapi tidak ada yang sampai berurusan dengan keluarga nya dan menciptakan masalah besar seperti ini ,jadi ... Apa ia sudah meniduri orang yang salah ?

__ADS_1


"Istirahatlah Fikhar! Tidak ada yang bisa kamu lakukan dalam keadaan seperti ini " Randi menepuk pundak adik iparnya sambil membuang napas pelan kemudian pergi menuju kamar nya.Jam di dinding baru menunjukan pukul delapan malam ,tetapi kali ini orang-orang seperti nya lebih betah berdiam diri di kamar. Bisa-bisanya kehangatan yang tadi sempat tercipta berganti dengan cepat dengan hawa neraka.


Fikhar menarik napas ,kemudian berjalan gontai menaiki tangga.Kentara sekali kelelahan mendominasi wajah nya ,sementara otaknya berputar sebagai benang kusut yang tak berujung .Ia tampak mere*mas kepalanya kemudian membanting tubuh nya ke kasur.


Matanya natnar ,fokus memandangi langit-langit kamar .Pikiran nya terbang ,mengingat kejadian beberapa jam yang lalu dalam hidupnya.Ingatan itu perputar-putar nyaris serupa kaset lama dalam otak nya. Teriakan juga tatapan kebencian terekam jelas ,membuat Kepala nya berdenyut menahan nyari. Ralat ,ia ingin gadis itu tersenyum salah tingkah seperti gadis lain pada umumnya ketika berhadapan dengan dirinya.


kemudian ingatan nya beralih ke pembicaraan maminya di mobil tadi. Beliau menuturkan bahwa ustadzah muda itu hamil.


"Hamil?.. Anak ? ... Istri ? " Batin nya bermonolog bersama dengan bayangan cantik milik Nafisah yang sedang menyusui seorang bayi di hadapan nya ,kemudian sibuk menyiapkan dan mengancingkan kemeja kerja diri nya..


Ia membuang napas kasar ,mengingat sebelumnya ia tidak pernah segila ini memikirkan seorang wanita. Baru kemarin ia memutuskan Siera ,gadis itu menangis memohon-mohon agar Fikhar tidak memutuskan nya tetapi ia begitu kejam ,tak peduli bahkan tak ambil peduli.


Ia bahkan sering bermain-main dengan seorang wanita ,tapi tidak ada yang pernah membekas seperti ini.Harusnya ia bisa santai ,tak peduli seperti saat meniduri wanita-wanita yang pernah tidur dengan nya dulu tetapi ,kali ini wanita itu tak pernah lengah menyiksa nya dengar rasa bersalah sedemikian hebat. Barang sedetik pun ,wajah terluka wanita itu merasuk mengobrak abrik jiwanya,mengusir ketenangan yang selama ini tercipta dalam hidup nya,menciptakan setetes air mata .Entah kenapa,hatinya begitu gelisah.

__ADS_1


Harusnya ia pergi ke kediaman kafe Arjun sahabatnya.Atau mengunjungi club malam untuk menikmati minuman keras atau wanita panggilan demi mengurangi beban pikirnya .Tapi kali ini seperti nya ia tak berminat .Ia malah merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan sebuah ponsel.


Mengetik nama Nafisah Mumtazah di kolom pencarian Yotobe nya.


Memutar satu rekaman ke rekaman lainnya, hatinya terenyuh ,batin nya berucap apa sungguh wanita seperti ini yang di taqdir kan Tuhan untuk nya.


Untuk pria peminum berat ,pezina pelaku dosa besar lainnya ,apa sungguh ia akan berjodoh dengan seorang ustadzah muda ,yang cantik yang apabila bersuara bisa menangkan hati yang mendengarnya,yang begitu faham akan ilmu agama juga begitu takut kepada Tuhan nya ,apa sungguh.. Jika ia , betapa baik Tuhan kepada pendosa sepertinya .


Perlahan ia bangkit ,kemudian menuju kamar mandi . Entah ,hatinya begitu tergerak untuk melakukan sesuatu yang selama ini ia tinggalkan.


Perlahan... Air mengucur dari pangkal rambut nya ,komat-kamit ia membaca sesuatu yang tidak begitu ia hapal ,kecuali niat dirinya untuk bersuci. Ia mencatat dalam hati untuk mempelajari itu semua kelak .


Setelah selesai ,ia menuju almarinya .Mencari pakaian yang bahkan sudah sejak lama ia lupakan .Tatapan nya jatuh ,pada sarung juga Koko lengkap dengan kopyah yang tergantung di lemarinya. Ia ingat dua tahun lalu pakaian itu sempat ia kenakan saat shalat idul Fitri,dan ia tidak tahu persisnya kapan pakaian itu tersimpan di lemarinya.

__ADS_1


***


Like ,komen , vote jangan lupa !


__ADS_2