
Setengah kesadaran ku menangkap suara teriakan ,aku mencoba mengingat apa yang terjadi dan di sisa kantuk yang menyerang mataku melebar. Aku sepenuhnya tersadar bahwa teriakan itu berasal dari kamar istriku.
Secepat yang aku bisa ,aku berlari kemudian membuka pintu dan menyalakan lampunya .Ku buang napas secara perlahan ,begitu mendapati dia telah tenang kembali dengan sisa keringan yang membanjiri kening nya .
Mimpi buruk lagi ! .Hatiku nyeri mendapat kenyataan ini . Aku mendongak,mendapati jam baru menunjukkan pukul dua ,lagi-lagi masih terlalu malam .Ku buang napas pelan-pelan sebelum aku menyentuh dan mengelap keringat di kening nya ,lalu ku hadiahi ciuman singkat .
Matanya terbuka ,kemudian meraih lenganku dengan sangat erat .Aku tau dia ketakutan dan tak begitu sadar dengan apa yang telah di lakukan nya .
"Aku mimpi buruk lagi !" Ujarnya dengan tatapan gelisah .Aku menghamburkan diri ,kemudian memeluk dalam dekapan ku. Tak apa , biarkan dia mendengar detak jantungku yang menggila hanya karena dekat dengan nya. Aku ingin dia tau bahwa aku mencintainya ,sangat mencintainya!
"Tak apa-apa,hanya mimpi !Semuanya akan baik-baik saja !"
Dia terisak di pelukanku .Aku tau ,setelah ini dia akan susah untuk memejamkan matanya kembali sampai pagi menyapa bersama rafalan do'a dan dzikir yang kerap kali terdengar .
"Hasbunallah wani'mal wakil,ni'mal Maula wani'mannair"
Seperti itu ,nyaris setiap malam dan hal itu yang membuatku nyaris tak tidur semalaman untuk mengawasinya .Hatiku nyeri,terasa di banting kejurang luka yang begitu dalam ketika mengingat ini semua .Sungguh, aku tak tau apa yang telah aku perbuat bisa sampai menyisakan trauma yang begini dalam di hidupnya .
"Tidak apa-apa ...Semua akan baik-baik saia!" Hanya kata itu yang bisa ku ucapkan .Tidak ada lagi.! Meski aku tak yakin bisa menenangkan nya, tetapi...Usapan tanganku di punggung nya ku harap bisa membuat nya kembali tenang .
"Mau mas antar wudhu ?"
Tak ada suara ,hanya dengkuran halus yang terdengar .Aku bersyukur,biasanya jarang sekali dia bisa tidur kembali seperti ini .
__ADS_1
Aku melepas pelukan nya secara perlahan ,kemudian kembali mencium kening nya pelan .Aku tak akan meninggalkan nya lagi ,maka ku putuskan untuk shalat di kamar nya malam ini.
Katanya ,ada beberapa rangkaian shalat sunat di jam segini ,katanya do'a di jam segini bisa menembus pintu langit ,tetapi aku tak begitu faham dengan shalat sunat .Kata istriku ,jika aku masih belum menyelesaikan shalat qada yang nyaris seumur hidup aku tinggalkan ,aku di larang shalat sunat dulu. Maka ,jangan pernah heran dengan aku yang kerap kali menunaikan shalat dua kali ,semua itu semata-mata ku lakukan untuk mengganti yang sudah tertinggal ...
Haruskah menyesal ? Tidak , aku begitu bersyukur walau terlambat tetapi Allah memperkenankan hidayah mampir di hidupku.
Kata Dia ,"Baik buruk hidup kita di tentukan dengan akhir dari hayat kita. Kepada siapapun,di usahakan untuk selalu berbaik sangka ,karena terkadang yang selalu kita anggap hina berhasil membawa iman di kepulangan nya." Air mataku sering kali merebak saat mengingat ucapan nya kala itu ,ku harap ... Allah menakdir kan kematian yang indah untuk ku kelak ,ku harap Husnul khatimah aku capai ,dan keimanan tak lepas di penghujung napas ku nanti.
****
"Apa kau membawa menantuku kemari ?" Itu pertanyaan pertama yang mami lontarkan kepadaku begitu selesai menjawab salam . Suara hentakan sendal terdengar dari atas sedang berlari menuruni tangga . Mbak Vena,kebiasaan ,kalau sudah lama berdiam diri di rumah pasti enggan untuk balik ke Jogja.
"Fikhar ,kau sungguh sendirian ?" Tanya Mbak Vena ,begitu aku menyalami tangan nya. Hatiku perih mendengar ini semua .Mengapa mereka tidak ada yang mengerti ,bahwa hubungan kami tak sebaik apa yang mereka pikirkan .Bukan kah mereka sepenuhnya sadar bahwa pernikahan kami terjadi di atas satu kesalahan ? Mataku panas ,sekuat tenaga menahan tangis,demi apapun ini terdengar menyakitkan di telingaku.
"Mengertilah mam ,Nafis sedang mengandung dan dia sedang di fase trimester pertama. Hampir tiap hari dia memuntahkan semua yang masuk ke dalam perutnya,dan aku tak begitu tega untuk membawa nya kemari !" Ucap ku sambil merebahkan kepalaku di sofa . Mataku menjangkau apa saja ,demi menghindari tatapan mami yang terkesan mengintimidasi.
"Aku lapar.Mami tau kan anak mami yang tampan ini akan pulang ,jangan bilang mami melupakan makanan kesukaan ku !"Ucapku mencoba menghindar ,hendak bangkit untuk pergi meninggalkan ruang keluarga yang terasa mencekam ini ,namun urung ketika tangan mami mencengkram bajuku kuat-kuat ,dan menarik tubuhku untuk kembali duduk di posisi semula.
Mbak Vena ,menggabungkan diri kemudian duduk tepat berhadapan dengan kami . " Apa Nafis sudah memaafkan mu ? Fikhar, mami menghawatirkan mu selama ini dan mami tak berani datang kesana karena takut mengganggu kalian ,dan terkesan mencampuri rumah tangga kalian !" Ucap mami sambil menatapku dengan binar penasaran sempurna .
"Dia banyak mengajariku banyak hal kepadaku .Dia cantik ,dan dia menerima ku sebagai suaminya !" Kataku apa adanya ,tidak ada lagi alasan untuk berbohong karena merasa percuma.
"Fikhar ,kamu tidak menjawab pertanyaan mami !"
__ADS_1
"Ya Tuhan ,aku sudah menjawab nya mam !"Ucapku tak mengerti ,kemudian tangan ku teronggok merebut bungkusan makanan di tangan mbak Vena "Mbak gak sadar ya ,badan mbak tambah melar !"Ujarku dengan cengiran lebar .Dia hanya pasrah , seperti nya lebih tertarik dengan pembicaraan kami .
"Fikhar ,jangan becanda.Mami sedang berbicara serius dengan mu!" Kukuh nya .
"Apa lagi si mam ,?"Keluhku sambil mengunyah keripik yang baru saja aku masukan kedalam mulutku .Dan aku tau ,beliau akan terus saja seperti ini jika belum mendapat kan jawaban atas rasa penasaran nya.
"Aku mau istirahat dulu ya mam ,nanti saja ngobrolnya. Nanti ,akan aku ceritakan semua yang ingin mami ketahui !" Aku mengakhiri ,meninggal mami bersama ******* napas pasrah .Aku tak sepenuhnya bebas dari jerat pertanyaan yang kadang membuat mataku panas itu ,karena mbak Vena saat ini berjalan mengikuti ,tepat di belakang ku.Dan aku tak pernah bisa menutupi nya ,jika sudah berurusan dengan wanita ini.
"Jadi gimana , Ustdzah Nafis sudah memaafkan mu kan?" Tanya nya penasaran,tepat seperti apa yang aku duga. Matanya berbinar ,menatap ku dengan tatapan siap ingin mendengarkan dan aku hanya mendesah* pasrah kemudian ,melangkah kan kaki ku menuju sofa di kamarku .
"Mbak tau jawaban nya !" Jawabku sambil mendudukan tubuh ku kemudian meneguk air yang sempat aku ambil dari kulkas.
"Belum?" Katanya masih dengan binar penasaran nya yang tinggi .Tubuh nya merangsak ,memaksaku untuk bergeser demi memberi luang pada tubuh nya yang besar .
Aku menarik napas untuk sesaat ,kemudian menatap nya dengan tatapan serius. "Fikhar tidak tau mbak !" Mataku mulai panas ketika berbicara ,hatiku perih ,demi apapun aku butuh kekuatan untuk perjuangan ku ini .
"kalian sudah tidur bersa-ma ?" Tanya nya ,kali ini nada suara ragu terdengar jelas di sana.Aku tau dia takut membuatku tersinggung atas pertanyaan nya.
"Kami sudah terbiasa tidur satu ranjang !" Jawab ku sambil menatap nya sekilas . Berkata apa ada nya.
"Dalam tanda kutip ?" Kejarnya .
"Belum !" Jawabku pelan. " Dia masih sering menangis mbak ,tubuh nya masih sering gemetar ketika aku menyentuhnya !"Keluhku .Air mataku menusuk tajam , kata-kata itu bahkan terdengar nyeri di telingaku sendiri !!
__ADS_1
***
jangan lupa ya like , komen sama vote nya akak, rate juga jangan lupa !