
"Menikah? "
Rasa-rasanya kata itu sudah lari dari kehidupan nya sejak dulu. Sekedar untuk mendekati perempuan,berciuman,atau menikmati tubuh nya si ok ok saja ,tapi menikah ? Fikhar rasa dia harus benar-benar memikirkan nya kembali akan ucapan nya tadi malam pada Siera.
Kini sudah hampir satu bulan paska kejadian malam antara dia dengan seorang Nafisah. Ustadzah muda yang kabarnya sekarang menghilang entah kemana ,padahal orang-orang berharap bisa memanggil nya tetapi dia tidak pernah menyanggupi nya.Alasan ,apalagi kalau bukan karena sebuah tragedi yang di sebabkan obat perangsang. Hal itu juga yang satu bulan ini membuat Fikhar di rundung dengan rasa bersalah.
Dia membuang napas pelan,menikmati satu batang rokok dengan segelas kopi hitam menghadap ke arah jendela .
Pikiran nya asik berkelana bersama hujan bulan Januari yang tak pernah berhenti. Hampir setiap hari dia pergi ke club malam ,untuk sekedar menikmati beberapa teguk minuman hingga dia terbangun dan mendapati di rumah Sahabat nya seperti saat ini.
Kemudian memesan beberapa wanita,berharap bisa melupakan permasalahan nya dengan gadis itu tetapi tak urung,tak ada yang dia minati di antara mereka semua. Semuanya sama saja,tidak ada yang serupa dengan gadis itu sekalipun bibir ,mata atau ...
Arghh....Fikhar frustasi,setiap hari nyaris gila memikirkan Ustdzah muda itu.
"Lo kenapa si Fikh? tentang wanita itu kan?" Lagi-lagi Aryo menuntut semua penjelasan.Dan selama ini dia terlalu gengsi untuk menceritakan semua hal tentang sebuah perasaan yang masih belum ia pahami,alasan nya karena dulu ia menggembar-gemborkan bahwa ia akan menikah di kisaran umur yang kiranya sudah puas menikmati hidup. Satu bulan ini ia mencoba membunuh perasaan ,dan tidak ada yang bertambah selain keinginan nya yang semakin menjadi untuk mendapatkan gadis itu.
"Sejak kejadian itu Lo kacau begini, tau gak ? Itu terserah Lo,tapi kalo misalkan Lo butuh solusi, cerita !"Tambah nya dengan nada kesal . "Atau tentang Siera?" Tanya nya lagi setelah beberapa pertanyaan nya Fikhar biarkan mengapung di udara.
"Lo udah tau kan Ar,gue udah putusin dia!"protes Fikhar kemudian mengisap rokok yang sejak tadi ia apit di sela-sela jemarinya.
__ADS_1
"Ini tentang malam itu ,gue bener-bener gak bisa lupain dia!"Keluh nya sambil menatap sahabatnya sejenak." Gue gak tau apa yang terjadi Sama gue ,tapi pengaruh gadis itu sedemikian besar.Entahlah,mungkin gue merasa bersalah karena telah menodai nya!"Cerita nya asam,tetapi mata itu mencoba menjangkau objek lain untuk menghindari tatapan Aryo yang terkesan mengintrogasi.
"Lo jatuh cinta Fikh,!" Tanggap Aryo sambil menghisap rokok miliknya.
Fikhar tertegun.Jatuh cinta? mana bisa pertemuan sesingkat itu sudah bisa di simpulkan menjadi sebuah cinta."Gue hanya merasa bersalah !"Elak nya,lagi-lagi mencoba membunuh perasaan.
"Kalo Lo merasa bersalah,terus apa yang udah Lo lakuin buat Nebus kesalahan Lo sama dia?"Kali ini, Fikhar terdiam mendengar ucapan sahabatnya .Benar,selama ini dia terlalu sibuk berpikir tanpa tindakan .Harusnya ,saat ini ia telah melakukan sesuatu untuk menebus kesalahannya pada gadis itu.
"Justru itu yang gue gak tau .Gue udah nyari-nyari cewek buat gue tiduri demi lupain dia tapi tetep gak bisa Ar,Semenjak gue tidur sama dia gue malah gak bisa tertarik sama yang lain!"Lagi, keluhan bersama helaan napas keluar dari mulut nya,sementara pikiran nya terbang teringat beberapa wanita dia tolak karena gagal membangkitkan has*rat nya.
"Dasar Beg*o !"Gerutu nya sambil memutar bola mata jengah. "Bukan itu caranya kalo Lo mau nebus kesalahan lo ! Kenapa gak Lo hadepin aja itu cewek buat Lo ajak nikah? Bukan nya Lo udah cari tau cewek nya ya ?"Usul Aryo masih dengan memasang tampang tak habis pikir.
"Sebenarnya gue pikir juga begitu ,,tapi.. Gadis itu gak bakalan mungkin mau sama gue !"Ucap Fikhar mencoba mengeluarkan harapan yang selama ini ia pendam .
"Kalo gadis lain si Ok aja ,Gue beresin dengan uang. Tapi ini Ustadzah Ar Ustadzah,anak nya seorang kyai !" Gerutu Fikhar tak terima dengan makian Aryo barusan.
Ukhuk..ukhuk.. Fikhar sudah menduga ,sahabat nya sudah pasti menyemburkan air yang di minum nya karena terkejut dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
"Maksud Lo?" matanya memicing dengan wajah menuntut jawaban . "Lo tau Ustadzah Nafisah Mumtazah ? Lo pernah denger gak nama nya di sosial media ? Nah itu,gadis itu yang udah gue tidurin !"
__ADS_1
"Bang*sat,Lo ..!" makinya bersamaan dengan Satu pukulan yang mendarat di wajah Fikhar .Dan Fikhar hanya mendengus kesal.
"Bener Fikh ,Lo udah ngelakuin kesalahan Fatal!" Geram nya dengan mata berapi-api.
"Iya Gue tau ,makanya gue mau nanya apa yang harus gue lakuin ?"Ucap Fikhar sambil meringis ,menahan sakit akibat pukulan yang secara mendadak mendarat di pipinya.
"Lo yang lakuin , pikirin aja sendiri !"
"Nah kan,tadi apa maksud Lo ngomong mau bantuin gue ?"Fikhar memprotes, tak terima atas ucapan sahabatnya barusan.
"Itu kalo yang Lo tiduri gadis lain ,tapi kalo modelan ustazah gini.Aduh gue bingung,karena gak bisa di selesaikan dengan uang,Fikh!" Jawab nya sambil mengetik sesuatu di ponsel nya .Fikhar yakin dia telah mencari sosok Nafisah Mumtazah di yotobe seperti yang sering dia lakukan satu bulan ini.
"Ini juga salah Lo ,set*an ! Kalo Lo gak masukin obat di minuman gue gue gak bakal ke lewat batas!" Dalih nya dengan suara pembelaan.
Dia tampak menghela napas pelan ,memperhatikan Fikhar yang masih meringis menahan sakit. " Lo bisa gila kalo terus-terusan kaya gini Fikh ,menurut gue Lo perlu bilang sama nyokap ,bokap Lo untuk mengusulkan lamaran sama tuh gadis .!"Kata Aryo pada akhirnya dengan suara lebih santai seperti sebelumnya.
"Gue gak yakin di terima!"
"Kalo di terima sih jangan harap,tapi ini demi Lo ,demi kebebasan hati Lo .Syukur kalo keluarga nya Nerima buat nikahin kalian !" Fikhar tertegun,mencoba mencerna kata-kata sahabat nya barusan .
__ADS_1
****
jangan lupa ya ,like ,comen sebagai dukungan .salam sayang dan selamat menantikan bab selanjutnya.