
Untuk sesaat aku membeku ,tetapi kemudian tak lama aku menguasai diri ,menyodorkan tangan dan menyalami Abah Nafisah. "Sejak kapan datang ?"Tanya pak kyai di undakan tangga menuju mesjid . "Ba-baru sekali pak kyai !" Aku menyesalkan diri karena telah menjawab pertanyaan beliau dengan sangat gugup .
"Dimana ,papi sama mami nya ?" Beliau kembali bertanya .Otak ku limbung sesaat ,merasa apa yang aku pikirkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi .
"s-saya sendiri Pak kyai .Mami sama papi gak ikut ,m-mungkin mereka ada urusan !"Jawab ku lagi-lagi terbata . Dan sesaat aku terpana ketika melihat beliau tersenyum mengangguk .
Tersenyum ? Aku sungguh tak salah melihat kan ? Setelah apa yang sudah aku lakukan ,menghancurkan dan membuat hamil putrinya ,apa sungguh beliau masih bisa tersenyum pada pelakunya ?
Ketika bahkan keluargaku sendiri menaruh kekecewaan yang begitu besar sementara beliau ,menyapa , tersenyum ,Akhlak macam apa ini? mengapa aku baru menemukan ada orang seperti nya ?
Kami berjalan beriringan ,ada beberapa orang yang menyingkir ketika kami hendak melewati shaf yang sudah terisi .Dan aku memutuskan berhenti untuk mengambil shaf paling belakang.
"Nak Fikhar ,kenapa di sini ? Ayo di depan !" Ucap pak kyai begitu aku baru saja berhenti mengikuti langkah nya .
"Tidak pak kyai , terimakasih .Tapi saya di sini saja !"Jawabku sopan .Aku baru kemarin belajar shalat itupun dari buku panduan ,dan aku merasa tak pantas jika berada di barisan paling depan . Singat ku seumur hidup ,aku belum pernah ada di shaf paling depan ,apalagi saat kecil aku begitu nakal,dan mereka memilih memisahkan kami di belakang .
"Ayo di depan !" Beliau meraih tangan ku kemudian membimbing nya melewati barisan . Dapat dipastikan dari ekor mata ,kedatangan kami mengundang perhatian ,dan untuk pertama kalinya aku merasa tak nyaman menjadi pusat perhatian .
"Ayo ,nak Fikhar saja yang jadi imam !" Katanya begitu kami baru sampai di barisan paling depan.
"Ti-tidak pak kyai !"Sangkal ku dengan cepat .Yang benar saja ,apa beliau baru saja mengolok-ngolok ku .Tak mungkin kan ,beliau pura-pura tidak tahu aku ini seorang berandalan.Setelah beliau mengetahui perbuatan ku dan apa yang telah aku lakukan ,sempat-sempatnya aku beliau menyuruhku jadi imam .Benar tak masuk akal !
__ADS_1
Pada akhirnya ,seorang pemuda yang di panggil Nizam oleh pak kyai maju ke depan untuk memimpin shalat kami Maghrib ini . Sebenarnya ,aku shalat dengan posisi tak nyaman mengingat Abah Nafisah tepat berdiri di sampingku .Aku malu karena gerakan sahalat ku pasti nya jauh dari kata sempurna .
Tetapi ,begitu shalat di mulai aku malah tak lagi memperdulikan apapun .Aku terlarut larut dengan bacaan surat yang pria itu baca.Suaranya sangat merdu hingga tanpa terasa air mata ini jatuh .Aku menyesalkan diri ini karena baru menyadari bahwa shalat itu INDAH..
***
Kami membubarkan diri setelah shalat isya selesai .Bukan membubarkan diri tepatnya,kami berpindah ke bangunan lain nya . "Nak Fikhar ,mari ikut kami !"Aku membeku ,saat sepasang netra ini beradu pandang dengan orang yang ada di hadapan ku . Papi ,entah sejak kapan ada di sini ,sedang berjalan beriringan menuju ke arah ku.
"Iya pak kyai !" Aku mengangguk sambil menunduk dalam begitu melihat papi menatap ku dengan penuh arti .Entah kenapa tatapan 'jangan bikin malu' Tersirat begitu jelas di sana. "Fikhar ,mami menunggu mu di tempat kita memarkir mobil!" Papi bersuara sambil menepuk bahuku .
Aku terkesima ,untuk sesat terdiam sebelum kyai Hasyim membuka suara " Temuilah ,kami akan menunggumu di sini !" Kyai Hasyim mengulas senyum sambil mengangguk meyakinkan.
Di sana ada mbak Vena ,tampak cantik dengan jilbabnya yang berwarna merah muda. "Kata papi ,mami menunggu Fikhar di sini !"Tanyaku setelah tadi sebelumnya sempat mencium tangan beliau,mbak Vena juga .
"Kamu sudah siap ?" Aku mengernyit, gagal menyadari apa yang baru saja mami ucapkan .Demi apapun ,aku tak mengerti 'siap' dalam hal apa yang mami maksudkan.
Aku mencari mata mbak Vena demi meminta penjelasan ,tetapi kakak satu-satunya milik ku itu malah pura-pura tak peduli dan asik pada makanan nya .
"Ini!" Lagi-lagi aku di buat keheranan dengan apa yang mami sodorkan kepada ku .Sebuah paper bag warna biru berukuran kecil.
"Aku sedang di tunggu kyai Hasyim sama papi !" . Ucapku mencoba mengakhiri ini semua , tetapi tak ayal,Tangan ini menerima apa yang mami berikan kepadaku .
__ADS_1
"Ya, pergilah !"
Wanita yang aku cintai ini tampak meregangkan tangan nya .Aku lantas merengkuh tubuh itu " Maafkan Fikhar mam !" Sesalku sambil mencium puncak kepalanya.
Mami mengangguk dalam dekapan,tetapi beliau masih belum juga mau melepaskan nya "Mami sayang sama kamu Fikh.Apapun yang terjadi,jangan pernah merasa khawatir karena mami dan papi ada dibalakang dan selalu mendukungmu .Bahagialah ,karena mami selalu menginginkan yang terbaik untuk mu!" Bisik nya parau .
Air mataku menusuk tajam .Tidak ada kata-kata yang mampu keluar untuk aku ucapkan .Aku menganggukkan kepalaku beberapa kali bahwa aku mengerti ucapan mami .
"Jangan lupa ,Lima belas karat !"
Aku lantas melepaskan tautan kami kemudian menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan .
"Maksud mami ?" Tanyaku bingung.
"Pergilah ... Bukan kah katamu kamu sedang di tunggu seseorang!" Bukannya menjawab ,beliau malah mendorong tubuhku pelan.Aku menatapnya kebingungan sementara beliau hanya menggangguk seraya memberi senyum ..
"Pergilah,mami ingin menemui Ustdzah Nafis dulu !" Usirnya sementara aku hanya mematung untuk beberapa saat ,sebelum pada akhirnya aku pergi seperti yang mami ucapkan .Tentu saja ,bersama dengan sebuah paper bag kecil yang aku tak tahu pasti apa isinya .Ini kejutan ,dan gak hal itulah yang membuat ku mencatat dalam hati untuk membuka nya setelah pengajian selesaikan .
***
Like ,komen ,rate ,vote jangan lupa.
__ADS_1