
"Abah akui hidup nya nyaris tanpa cela. Dia itu pintar,maka jangan heran di usia yang ke dua puluh dua Abah sudah mempercayakan dia untuk mengurus pengajaran santri putri !" Beliau menjeda ,menatapku sekilas kemudian tersenyum sebelum kemudian beliau kembali memperhatikan kaki nya yang keriput telah menyentuh air .
"Dia berbudi luhur ,pandai mengasihani ,dermawan,penyayang ,berakhlak baik ,dan apa kamu merasa dia cantik ?" Aku terhenyak mendapat pertanyaan tiba-tiba .
"Dia cantik Abah ,tentu saja !" Jawab ku malu-malu dan beliau kembali tersenyum mendengar jawaban itu.
"Benar ,dia juga sangat cantik .Dan itulah yang membuat dia di gemari banyak orang !" Katanya kemudian.
"Tetapi sebenarnya tidak seperti itu ,dia juga manusia .Dalam dirinya tentu ada sisi egoisnya ,seperti saat Abah memberi tahu bahwa Abah telah memilihmu menjadi suaminya !"
Aku fokus ,di titik ini tak mau sedikitpun ada yang terlewat oleh pendengaran ku. "Dia tidak membantah tetapi juga dia tak menerima ,kamu faham kan maksud Abah ,Fikhar ?" Tuturnya kemudian melempar satu pertanyaan kepadaku .
"Tentu saja ,semua ini salah Fikhar !" Ucapku dengan nada menyesal .
"Tidak seperti itu ,bukan hal ini yang ingin Abah bahas di sini !" Ralat beliau cepat ,seperti berusaha menenangkan dan tak mau menyinggung ku.
"Mereka selalu menganggap Nafis itu sempurna dan Abah pun begitu .Tetapi ,pandangan Abah berubah kepadanya setelah apa yang terjadi antara kamu dan Nafis !"Lanjut nya ,tentu saja terdengar seperti menekan dan menyinggung ku walau pada kenyataan nya kata beliau tidak .
"Fikhar menyesal atas apa yang telah terjadi !"
Sesalku lagi .
"Dengar kan Abah dulu !.."Beliau kembali meralat .
"Abah tau Nafis itu pintar ,ilmu agama nya sudah tak pernah Abah ragukan lagi .Ilmu pengetahuan tinggi ,tetapi setelah kejadian di antara kalian Abah baru menyadari bahwa Nafis masih gagal dalam memaknai hidup yang sebenarnya !"Beliau menjeda kemudian membuang napas nya secara perlahan.
"Entah,Mungkin pemicu utamanya di karenakan usianya yang masih labil . Jadi, jika ada hal buruk dalam diri putri Abah,mohon bersabarlah untuk menghadapinya .Maafkan Abah ,sebelum menyerahkan tanggung jawab kepadamu Abah gagal mendidik putri Abah terlebih dahulu !" Tambahnya .
Dan aku di buat takjub dengan kata-kata beliau . Di saat ada manusia seperti aku yang mempunyai perangai buruk , di atas pengawasan mami sama papi ,beliau masih saja merasa telah gagal membentuk kepribadian Nafisah yang nyaris tanpa cela itu. Rendah hati macam apa lagi ini? Ya ,Tuhan ...terimakaih karena telah mengajarkan hal berharga ini kepada ku .
__ADS_1
"Fikhar sepenuhnya mengerti Abah,Fikhar memaklumi karena bagaimanapun ini kesalahan Fikhar .Dan Nafis ,dia tidak pernah bersalah disini !"
Beliau tampak menitikan air mata sebelum buru-buru menghapusnya . "Kamu memang bersalah ,dan kamu sepenuhnya mengakui kamu telah berbuat salah ,tetapi Nafis ... Kenapa dia harus terpuruk dengan kesalahan yang tak pernah ia lakukan? .Kenapa dia tidak berpikir semua ini taqdir Allah semata ? kenapa dia tak berpikir bahwa tidak ada kendali atas semua ini?" Ucapnya dengan syarat dan emosi yang tertahan
" Itulah Fikhar cela nya .Dia belum berdamai dengan apa yang terjadi .Dia belum menerima semua ini .Dia masih merasa hancur ,dan masih sering menangis karena menyesali hidup nya ini .Maafkan Abah ,karena Abah membuat mu harus berjuang agar dia bisa menerima keberadaan mu .Abah memilihmu ,karena Abah yakin kamu yang terbaik untuk putri Abah !" Tutur nya kemudian sambil menepuk bahuku menyemangati .
Aku terpana ,di buat membeku dengan kata-kata nya yang penuh makna . Di saat orang-orang akan menjudge bahwa aku sepantas nya di hukum ,tetapi beliau justru sebaliknya .Memberiku kesempatan untuk memperbaiki semua nya . Ada setetes air mata ,haruskan aku menyesal ,mengapa aku terlambat bertemu dengan orang berbudi luhur seperti beliau ?
"Akan Fikhar usahakan sebisa mungkin ,Abah .Nafis memang pantas membenci Fikhar ,mohon do'a dari Abah semoga ini secepat nya selesai !" Kataku sambil menghapus air mata .
Beliam mengangguk "Abah selalu menginginkan yang terbaik buat putri-putri Abah !" Ucapnya dengan emosi yang sarat .
"Satu lagi Fikhar !" Beliau menatapku dengan tatapan serius .Aku fokus , berusaha mendengar apa yang akan beliau katakan.
"Abah tau kamu lahir dari orang berada ,tetapi jika Abah boleh meminta kepadamu .Jangan biasakan Nafis hidup dengan bergelimang harta ,Abah takut dia akan terlena kemudian melupakan semuanya !"
Aku mengangguk dengan deraian air mata .Ucapan tersebut sukses jika hanya untuk sekedar mengguncangkan jiwa .Bagaimana bisa ,selama ini aku koar-koar kepada semua orang membanggakan harta yang aku punya .
"Semua itu tidak berlaku untuk Nafis saja ,tetapi ...Untuk cucu Abah juga. Jangan biasakan dia dengan sebuah kemegahan .Percayakan mereka dunia itu apabali mereka sudah memahami betul bagaimana cara menggunakan harta yang Allah titipkan itu !"
"Fikhar mengerti Abah !" Jawabku dengan suara sesak .
"Abah sudah membeli rumah untuk kalian tinggali ,nanti biar Nizam yang akan mengantarkan mu ke sana !" Tutup beliau kemudian bangkit. "Abah duluan ya !"
"Abah ..." Aku menjeda langkah beliau yang hendak pergi. " Izinkan aku membeli kembali rumah yang Abah beli .Aku ingin sepenuh nya bertanggung jawab ,dan anggap saja ini sebagai nafkah ku untuk putri Abah !" Mohon ku ,dan beliau tersenyum kemudian mengangguk.
"Kita bicarakan ini nanti ,Abah duluan ya !"
"Baik Abah !"Aku mengangguk kemudian ,Lamat memperhatikan langkah beliau yang semakin menjauh.
__ADS_1
***
Langkah ku terhenti begitu sepasang netraku mendapati mami yang kini telah melembaikan tangan dan tengah mengulas senyum .
"Mami ...!" Kataku sambil merengkuh tubuh nya .
"Kenapa mami sangat jahat ? kenapa mami tidak memberitahu ku ,kau tau ..Aku bahkan tak mempersiapkan apapun untuk pernikahan ku ini !" Kataku dengan suara tangis yang di tahan.
Aku melepaskan pelukan kemudian mendapati beliau telah menghapus air mata di kedua pipinya . "Akhirnya Fikhar ,mami mempunyai menantu perempuan ,terimakasih dan jaga baik-baik permata mami .Mami tidak akan ridho jika sampai kamu menyakitinya untuk yang ke dua kali !" Ucap nya dengan tangis haru . Aku mengangguk kuat "Fikhar mengerti mami !"
"Mbak Ven ,terimakasih.Akhirnya aku mendapatkan wanita yang lebih baik dari mbak !" Ucapku kemudian merengkuh tubuh kakak ku. "Dasar adik tak tahu diri ,lepaskan !" Katanya dengan bibir di tekuk .Tetapi tak ayal ,tangis haru membekas di pipinya begitu aku dia berhasil melepaskan diri dari pelukan ku.
Mataku berpindah pada papi ,beliau hanya menatap ku tanpa ekspresi .Tetapi ,dari tatapan nya aku menemukan kebanggaan ,harusnya papi bangga bukan meskipun dengan cara agak ekstrim tetapi aku berhasil menjadikan Ustdzah itu sebagai istriku .
"Ini ...!"Mbak Vena menyodorkan sebuah koper kepadaku .
"Kalian langsung pulang?"Tanyaku kemudian dengan alis berjinjit ,baru menyadari bahwa mereka sudah bersiap-siap hendak pulang .
Mami hanya memberi anggukan sebagai jawaban .
"Sudah ketemu sama Nafis ?"Kejarku ,dan mereka semua terdiam .Aku buru-buru tersenyum demi menunjukan tidak apa-apa ,tetapi tak ayal..Aku tetap mengerti tatapan mereka semua.
Sekarang ,di sini ,di hidupku ,tak baik-baik saja .
"Mami sudah pamit sama kyai Hasyim dan Bu nyai . Emhh.. salam saja sama istrimu ,katakan secepatnya untuk mengunjungi rumah mami !"
Aku mengangguk kemudian kembali memeluk beliau ,sebentar saja ..seperti ini ,mengertilah ..Bahwa aku perlu kekuatan untuk menghadapi wanita yang aku cintai itu.
***
__ADS_1
Mohon maaf jika banyak typo ..
jangan lupa ya buat kasih like ,komen sama vote. Rate juga ..