Suci yang Ternoda

Suci yang Ternoda
Hari- Hari Fikhar


__ADS_3

Dia tertidur nyaman di temani suara ceramah wanita yang keluar dari ponselnya.Ia tak tahu,nyaris lupa dengan bingar bingar yang sudah mengacau otak nya beberapa jam yang lalu sebelum dirinya menghabiskan rokok juga berinisiatif memutar sebuah ceramah hingga ia bangun siang seperti ini.


Boleh saja malaikat menertawakan nya ,tetapi demi apapun .Ceramah milik Nafisah di ponsel nya sedikit membuat dirinya tenang terkendali . Ajaib nya juga bisa mengalihkan ketertarikan nya pada sebuah minuman yang bertahun tahun telah menjadi candu dan sasaran ketika ia sedang berada dalam masalah besar. Masalah besar ? Cih... Sepertinya ini kali pertama selama hidup dalam masalah besar .


Ia bangkit,kemudian duduk di ujung tempat tidur ,berusaha mengumpulkan nyawanya sebelum ia benar-benar mengambil handuk dan menuju kamar mandi,memilah baju kantor kemudian turun untuk menyantap sarapan pagi .


Membahas tentang pagi hari,biasanya sang mami akan datang beberapa kali untuk datang ke kamar dirinya yang lumayan sulit bangun akibat mabuk semalam ,di tambah ocehan panjang nyaris serupa sales dagangan yang kadang membuat Fikhar merasa kesal ,tetapi justru itulah yang kemudian membuat ia sangat mencintai maminya.


Matanya berkaca-kaca ,hatinya terasa nyeri ketika mengingat itu semua .Tentu saja ,hal semacam itu tidak ia dapatkan untuk pagi ini .Kecewa ,apalagi yang dirasakan wanita yang telah melahirkan nya ,bahkan saat ini ia tak begitu siap untuk berhadapan dengan wanita yang di cintai nya itu.Ia begitu takut ,takut menemukan luka di matanya.


Keluarganya telah berkumpul di meja makan begitu ia datang .Ia menarik kursi kemudian mendudukan tubuh nya di sana. Hening ,tidak ada percakapan di antara mereka semua ,padahal Fikhar berharap penuh keluarganya akan membahas perihal Nafisah ,untuk membuat hatinya lebih tenang. Tetapi ,yang ia tangkap dari ruangan itu hanya sendok yang beradu dengan piring,wajah tak selera kentara sekali terlihat jelas di wajah mereka.


Fikhar sesekali mencuri pandang ,berharap menemukan mata teduh milik sang mami.Ralat,bukan nya mendapat ketenangan mata bengkak itu malah berusaha menghindari tatapan nya dan berusaha menahan tangis yang kini telah tercipta di kedua bola matanya.


"mbak Ven,kapan mau pulang ?" Tanya Fikhar basa basi ,menciptakan suara di tengah hening yang sekian lama tercipta. Alih-alih di jawab ,Vena malah membuang napas kasar tanpa berniat menjawab pertanyaan Fikhar barusan.


" Sebegitu kecewakan mereka ?" Ah ,ia meralat .Tentu saja mereka akan sangat kecewa .Buru-buru pria itu meraih teh tawar di hadapan nya dengan tak nyaman.


"Fikhar duluan ya !" Fikhar bangkit,namun lagi-lagi tak sama sekali ada yang mau menjawab ucapan nya .Ia merasa nelangsa ,hanya saja ia mencoba bersikap biasa saja.


Fikhar menarik napas dalam kemudian membuang nya.Ia masih duduk diam di kursi kemudi kemudian merogoh saku celananya ,membuka galeri kemudian memandangi Foto Nafisah di ponselnya. Ia zoom kemudian ia perkecil kembali ,sampai hembusan napas kasar terdengar dari mulutnya.Ia berpotensi,entah sejak kapan ia bisa merindukan seorang wanita sedemikian hebat.

__ADS_1


****


Tidak ada sesuatu yang berguna yang ia lakukan di kantor,selain menghabiskan waktunya untuk melamun , memandangi foto Nafisah ,mencari seluk beluk Nafisah di media sosial dan tidak ada yang bertambah pada dirinya selain bertambah nya ia akan rasa suka nya pada gadis itu . Ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya ,mengingat sedari dulu modelan gadis seperti Nafis sudah ia coret dalam daftar seleranya .


Dia gila ,yah ... Dia sudah gila.Bagaimana setiap hari pikirannya terbang ,memikirkan seseorang yang ia tahu membencinya,bahkan sangat membencinya. Setiap hari ,jam ,menit ia menahan siksa akan kerinduan nya pada seorang Nafisah ,tetapi tidak banyak yang ia lakukan selain pergi ke Bogor ,kemudian berlama-lama diam menatap rumah yang akhir-akhir ini memenuhi isi kepalanya . Ia malah iri melihat papi dan maminya yang begitu bebas mengunjungi rumah yang di pantau nya untuk bertemu Nafisah .


Satu Minggu ini ,tidak ada percakapan antara ia dan keluarga nya . Semua keluarga mendiamkan nya ,tak peduli ,bahkan keberadaan nyaris serupa sampah . Benar-benar tak di anggap keberadaan nya . Semua informasi tentang Nafisah tertutup,buntu ,sedikitpun ia tak pernah tau bagaimana keadaan dan kondisi nya saat ini ,karena mereka tak pernah ada yang menyinggung tentang Nafisah di hadapan nya dan tentu saja ,hukuman itu yang satu Minggu ini teramat menyiksa baginya.


Ia mampir di kafe milik Aryo ,karena sudah lama sekali ia tak pernah mengunjungi sahabatnya ,tak bertegur karena satu Minggu ini ia terlalu asik dengan dunia nya .


" Gue kira lo sudah mati , Fikh!" Singgung Aryo ,begitu Fikhar menarik kursi dan duduk menghadapnya .Ia tak tahu ,nyaris tak sadar sejak kapan ia meninggalkan mobilnya .


"Mau minum?" Tawar Aryo ,begitu Fikhar tak menggubris ucapan sebelum nya.


Aryo menangguk ragu "Tumben !"celoteh nya .Sambil memperhatikan perubahan besar pada diri sahabat nya. Kekacauan pada dirinya telah memberi tanda bawa hidupnya sedang tidak baik-baik saja .


"Lo udah ngelakuin apa yang gue saranin kan sama Lo ?" Aryo bertanya di tengah kebisingan . Dan Fikhar hanya mengangguk sebagai jawaban .


"Di terima ?"Kejarnya penasaran.


"Gue di tolak !" Jawab nya dengan dengus napas kasar ,begitu reaksi Nafisah Minggu lalu ketika bertemu dengan nya memburu masuk ke dalam kepala.

__ADS_1


"Polisi gak mungkin berani memenjarakan Lo kan ? Jangan bilang Lo jatuh cinta sama itu gadis ?"Mata Aryo memicing,berusaha menebak apa yang sedang di pikirkan sahabatnya.Ia melangkahkan kakinya dan memilih duduk di samping Fikhar begitu tak ada pelanggan yang datang .


" Gue gak tau ,tapi gue rasa gue bisa gila jika terus menerus seperti ini !. Keluarga gue gak bisa bantu gue buat gadis itu Nerima gue !"Keluh Fikhar sambil memijit kening ,menandakan saat ini telah berpikir kerasa .


"CK ,Ya iya lah!" Aryo berdecak .


"Gue kan udah bilang sama Lo kalo keluaraga dia gak bisa di beli dengan uang . Pliss ini buka Fikhar yang gue kenal .Lupain ,ok . Lo bisa cari yang lain yang lebih sexy dan menggairahkan !"Tambah nya setengah membujuk .Tetapi tak ayal ,Aryo tetapi meringis ,memperhatikan kondisi sahabatnya yang terlihat begitu menghawatirkan .


"Kayanya Tuhan murka sama gue karena sudah berani menghancurkan hamba kesayangan nya . Entah kenapa ,tapi gue gak pernah Sekacau ini sebelum nya !"


"Untuk ngilangin kekacauan Lo ,gimana kalo gue pesenin ..."


"Sory Ar ,gue gak tertarik!" potong Fikhar yang sudah tahu kemana arah pembicaraan sabatnya .


"Gue cabut dulu ya ,bay !" Fikhar turun dari kursi kemudian menyeret langkah kakinya begitu tadi sempat menepuk bahu Aryo sebelum nya . Demi apapun Fikhar mau mencari ketenangan hati ,tetapi tak sama sekali ia dapatkan di sini .


Aryo dia tak bergeming ,memutar kursi dan memperhatikan langkah sahabatnya yang sudah menjauh.


***


Gak perlu di ingatkan lagi kan ? wkwkw

__ADS_1


karena pembaca yang bijak senantiasa meninggalkan jejak.


__ADS_2