Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
27. Who?


__ADS_3

Di hari Minggu, pagi-pagi sekali Atlanta sudah sibuk dengan banyak bahan masakan di dapur. Membantu Bi Mirna memasak untuk bekal tamasya keluarga itu.


"Hari ini kamu mau ke mana?" ucap Bi Mirna di tengah-tengah wanita itu memotong sayuran di meja.


Laki-laki yang tengah mencuci ikan hasil potongannya berbalik badan, lalu menggerakkan tangannya.


"Ata mau pergi ke rumah singgah, Bi. Minggu kemarin Ata udah janji mau berkunjung ke sana."


Bi Mirna mengangguk, dia berjalan menghampiri Atlanta, hendak mencuci sayuran yang sudah dipotong sedang.


"Oh, iya, kemarin Bibi ketemu Adin lagi jualan keripik waktu Bibi ke pasar."


Atlanta tersenyum menanggapi, dia beralih menyalakan kompor listrik, memasukkan bumbu kuning ke dalam wajan yang sudah ia haluskan terlebih dahulu.


"Adin udah berubah ya, Ta. Kayanya dia lebih bersemangat buat jualan. Bibi masih ingat waktu Adin sering ngamen dulu, hidupnya luntang lantung gak ada tujuan, bahkan Bibi pernah sekali liat dia dipalak preman jalanan ...." Bi Mirna menjeda sebentar ucapannya.


"Itu semua berkat kamu, Ata. Mereka jadi punya mimpi dan usaha kecil-kecilan, setidaknya sekarang mereka gak perlu khawatir kehujanan, apalagi tidur di emperan," tambahnya lagi.


Wanita itu tersenyum, sesekali menoleh pada laki-laki yang sedang memasukkan air, mengaduknya bersama bumbu tadi sampai warna air itu berubah kekuningan.


"Bukan Ata, Bi. Tapi memang mereka sendiri yang punya semangat buat berusaha biar punya kehidupan yang baik. Ata cuma mengajarkan, selebihnya mereka yang berusaha."


Setelah itu, ia memasukkan ikan yang sudah dipotong dua bagian ke dalam wajan. Bi Mirna sejenak menghentikan kegiatannya, memilih memandangi ikan yang diceburkan ke dalam air bumbu kuning.


"Bibi udah duga, kamu pasti bikin ikan bumbu kuning lagi ...." Bi Mirna menarik napas, menghempaskannya pelan.


"Kamu sayang sekali sama Ayah? Walaupun Ayah gak pernah peduli sama kamu?"


Atlanta tersenyum manis, masih terlihat fokus dengan masakan yang dia buat sebelum akhirnya menolehkan pandangan setelah menutup wajan yang bertujuan membuat bumbu itu meresap sampai ke dalam daging ikan.


"Ata gak pernah benci sama Ayah, Bi. Bagaimanapun, Ayah tetap Ayah Ata. Ata gak punya alasan buat benci sama Ayah, kalo bukan karena Ayah, Ata gak mungkin ada di dunia ini. Bunda juga pasti marah kalo Ata benci Ayah."


Wanita itu lagi-lagi menghempaskan napas.


"Harusnya Ayah kamu bangga sama kamu. Dia punya anak yang berbakti, rajin, pintar, peduli."


Keduanya kembali dengan kegiatan masing-masing, dan dengan pemikiran masing-masing.


Atlanta kembali mengingat ucapan Bi Mirna. Mungkin ada kalanya laki-laki itu merasa tidak pernah dihargai oleh keluarganya, namun tak pernah sedikitpun dia mengeluh, dia selalu percaya, lambat laun semuanya akan berubah.

__ADS_1


Ya, hanya harapan itu yang selalu dia ingat.


Setelah semuanya selesai, Atlanta dan Bi Mirna memasukkan beberapa menu itu ke dalam lunch box susun secara terpisah.


"Wih, wangi banget, Bi. Ikan bumbu kuning ya?" Jay baru saja datang ke dapur. Dia menghampiri Bi Mirna, mengendus menu kesukaan Ayahnya.


"Bibi emang hebat soal masak." Jay memberikan dua jempol pada wanita itu, disertai senyuman lebar miliknya.


"Tapi, yang bikin bukan Bi—"


"Jay! Ambilin kunci mobil Ayah di kamar!" Terdengar suara berat milik Rudi dari arah gerasi.


"Iya, Yah!"


Laki-laki itu segera berlari kecil menuju kamar orang tuanya. Mengedarkan pandangan ke setiap penjuru ruangan, mencari keberadaan kunci mobil Ayahnya.


Bola matanya melebar, ia melangkahkan kaki menuju sebuah nakas dekat ranjang. Mengambil benda berwarna hitam yang dia tahu adalah sebuah kunci yang dia cari.


"Bisa-bisanya lupa bawa kunci," ujar Jay bermonolog. Dia tersenyum tipis dan menarik napasnya sebentar.


Belum sempat dia berbalik badan, atensinya tiba-tiba tertuju pada laci yang terbuka sedikit. Niatnya yang hendak menutup kembali laci itu terurungkan ketika dia melihat sebuah kertas terbalik yang diketahui adalah sebuah foto dalam sana.


Jay benar-benar mengambilnya. Menelisik kertas foto dengan perasaan penasaran. Ia membalik kertas itu, kerutan di keningnya kentara. Foto seorang wanita, dengan setelan baju era 90an. Wanita cantik dengan dress hitam motif bunga-bunga, rambut lurus panjang tanpa make up.


Yang lebih mengejutkan adalah, wanita itu bukan Ibunya, melainkan orang lain yang dia kenal selama dua belas tahun.


"Elisa?"


Pikirannya semakin menebak siapa wanita di dalam foto itu. Dia sangat yakin dia adalah Elisa, wajahnya sangat mirip. Namun, gadis itu tentu belum lahir di tahun 90. Sudah jelas Elisa lahir di tahun yang sama dengan dia. Kalaupun wanita itu adalah Elisa, gadis itu tidak mungkin berpenampilan seperti orang-orang dulu. Foto yang sedikit berubah warna menandakan bahwa benda itu sudah tersimpan sangat lama. Lalu, siapa wanita itu?


Jay memutuskan mengambil foto itu, keluar dari kamar Ayahnya. Ia tidak mau mati penasaran. Dia berlari menghampiri Rudi yang masih berdiri di samping mobil menunggunya.


"Ayah."


Rudi menoleh seketika, Jay memberikan sebuah kunci setelahnya.


"Makasih, Nak." Pria itu membuka pintu kemudi, menyalakan mesin mobil.


"Ayah, masih inget Elisa 'kan?"

__ADS_1


Rudi sedikit mengangguk. "Hmm ... Elisa temen kamu waktu kecil? Anaknya Pratama yang sekarang udah jadi model?"


"Iya. Sekarang Elisa satu sekolah sama Jay."


"Wah, bagus dong. Kalian bisa main lagi kaya dulu," ujarnya disertai kekehan kecil.


Jay hanya tersenyum tipis. Masih memegangi foto itu di belakang badannya.


"Jay boleh nanya gak, Yah?"


Rudi membalikkan badannya, menatap Jay dengan senyum terbaik.


"Nanya apa?"


Sebelah tangan itu kemudian terulur, memberikan sebuah foto pada Rudi. Tentu pria itu menerimanya. Namun detik selanjutnya, raut wajah Rudi tiba-tiba berubah, seperti terkejut.


"Cewe itu siapa, Yah? Kok mirip Elisa?" Tanya Jay dengan sangat hati-hati.


"Dari mana kamu dapet foto ini?" kata Rudi dengan nada dingin.


Jujur, Jay sedikit bergetar karena perubahan sikap Ayahnya saat ini. Entah, dia rasa Ayahnya akan marah beberapa detik lagi.


"Dari laci."


"Jay. Ayah peringatkan kamu. Jangan pernah sekali lagi kamu sentuh apapun yang ada di dalam laci kamar Ayah. Paham kamu."


Jay mengangguk singkat. Bersamaan dengan Rudi yang pergi melenggang masuk ke dalam rumah dengan langkah lebar. Merasa tidak ada jawaban yang jelas, Jay pergi menyusul Rudi.


"Yah, tapi Ayah gak kasih tau siapa cewe itu. Dia siapa, kenapa mirip banget sama Elisa." Jay terus mengejar Rudi yang berjalan menyusuri lorong yang menghubungkan dengan dapur.


"Kamu gak perlu tau."


"Tapi aku berhak tau."


Rudi menghentikan langkah dan berbalik badan, praktis membuat Jay ikut berhenti. Laki-laki itu menatap sang Ayah dengan tatapan penuh tanya.


"Dia bukan Elisa. Dan kamu gak perlu tau siapa dia."


Jay diam di tempat, pria itu kembali meninggalkan Jay yang masih bertanya-tanya tentang wanita di dalam foto.

__ADS_1


Bukan? Terus siapa?


__ADS_2