Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
33. Music is my life


__ADS_3

Kalau bukan karena Atlanta, dia sangat malas berurusan dengan oknum bernama Theo. Sudah cukup baginya terjun ke dalam masalah satu kali saja. Lagipula, dia sendiri tidak punya bakat menonjol dalam seni musik. Harusnya tadi di ruang guru dia bisa berfikir puluhan kali dalam memutuskan hal seperti itu.


Di sini, di depan kelas yang bersebelahan dengan kelasnya sendiri, Elisa dan Atlanta sama-sama berdiri, menyenderkan punggungnya di pagar besi yang tingginya setara bahu gadis itu.


Kelas mereka berakhir lebih awal dibandingkan kelas yang lain, tentu saja karena guru yang bersangkutan hanya memberi tugas mencatat karena tidak bisa hadir ke kelas. Beberapa kali Elisa melirik arlojinya yang melingkar di pergelangan tangan, berharap bel pulang segera berbunyi, dan dia bisa lebih cepat menyelesaikan urusannya dengan Theo.


"Kamu, yakin, mau ikut ekskul musik?" tanya Elisa setelah menoleh pada Atlanta, menampilkan wajah kalem laki-laki itu.


"Kamu yang minta, 'kan?"


Elisa mendengus kecil, ia masih ingat saat di mana dia memaksa Atlanta untuk masuk ke dalam ekskul musik, dia tidak lupa itu.


"I-iya, tapi 'kan, itu waktu aku belum tau siapa ketuanya. Kalo aku tau siapa ketua ekskul itu, aku juga gak bakal setuju kamu masuk ke sana. Lebih baik kamu ikut ekskul beladiri aja sama aku."


Atlanta tersenyum lembut, mengusap puncak kepala Elisa beberapa kali.


"Aku gak suka main pukul-pukulan."


"Ya justru bagus dong, nanti kamu bisa pukul orang-orang yang jahat sama kamu. Kamu tendang dia, kamu pelintir dia," ujarnya disertai gerakan tangan dan kaki seperti tengah bertarung dengan udara.


Sontak, membuat laki-laki itu semakin melebarkan senyumnya, menampilkan deretan gigi rapi bak seperti seekor kelinci.


"Lagian, memangnya kenapa kalo Theo ketuanya?"


Ia berdecak, laki-laki itu bodoh atau bagaimana? Sudah jelas karena Theo adalah orang yang selalu mengganggu ketenangan hidupnya. Apakah dia lupa, bahwa Theo pernah mempermalukannya dulu? Masuk ke dalam ekskul musik, sama saja seperti masuk ke dalam kandang harimau. Bagaimana nasibnya jika saja Theo lebih leluasa membully Atlanta.


"Udah jelas karena dia itu jahat, Atlanta."


"Kalo dia jahat, dia gak akan jadi ketua ekskul."


Suara ******* napas terdengar dari mulut mungil Elisa, dia melipat tangan. Lagi, lagi, dan lagi, Atlanta selalu saja membela orang itu.


"Udah deh, kamu tuh gak usah menyamaratakan semua orang itu baik. Gak semua baik, Atlanta."


"Tapi gak semua orang jahat, Elisa. Mereka pasti punya sisi baik, tapi kita belum tau aja."


Elisa semakin mengerucutkan bibir. Bukan tidak setuju dengan ucapan Atlanta, hanya saja dia merasa semua yang di dapatkan Atlanta tidak sebanding dengan rasa sabar yang amat besar laki-laki itu. Dia tahu, anak itu pasti sangat kesulitan mengendalikan semua rasa sakit yang dirasa selama ini, tapi lihat, dia dengan ringannya menganggap orang-orang itu adalah manusia yang baik.


"Tapi kamu gak seharusnya bersikap baik terus menerus sama orang yang udah hina kamu, rendahan kamu."


Hanya sebuah senyuman yang mampu terpatri di wajahnya. Praktis membuat Elisa kembali berdecak, seolah gadis itu sudah tau apa yang akan dikatakan Atlanta.


"Aku gak diajarkan buat jadi seorang pendendam, Elisa."


Baik, di sini, apakah Elisa yang terlalu egois, atau Atlanta yang terlalu baik? Meski dia membenarkan semua yang diungkapkan Atlanta, tetap saja, hati kecil gadis itu masih tidak terima dengan kemurahan hati Atlanta.


"Tapi-"


Kriiinggggg....


Suara bel berbunyi, bersamaan dengan teriakan murid-murid di dalam kelas. Mereka berdua segera menegakkan badan tatkala pintu yang semula tertutup, bergerak terbuka oleh seorang guru yang baru saja keluar.


Satu per satu murid itu keluar kelas, Elisa masih menunggu orang yang dicarinya celingukan. Sampai iris matanya menangkap sosok tinggi semampai yang sama-sama menatapnya ketika dia sudah berada di ambang pintu.

__ADS_1


"Wow! Ngapain kalian di sini?" ucapnya sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, kesan angkuh terlihat jelas.


"Ah, gue ngerti." Dia menolehkan kepalanya ke belakang, lalu berkata, "JAY! NIH, PACAR LO NUNGGUIN!" Teriak Theo.


Elisa mendengus, memutar bola mata malas. Tak lama kemudian, Jay keluar dari dalam kelas, menghampiri Elisa. Laki-laki itu segera menarik pinggang ramping Elisa ke dalam dekapannya, lalu mengecup puncak kepala gadis itu, bahkan dia tidak peduli dengan orang-orang sekitar.


Elisa memukul lengan Jay cukup keras setelah dengan susah payahnya dia melepaskan pelukan erat laki-laki itu.


"Jay! Kamu apa-apaan sih. Ini di sekolah." Gerutunya sembari memberi jarak dengan Jay.


"Kamu gemes banget kalo lagi marah," katanya mencubit gemes pipi Elisa. "Btw, kamu lagi ngapain di sini? Baru aja aku mau telpon kamu buat pulang bareng."


Elisa berdehem, melipat tangan di depan.


"Aku ada urusan sama si anak dakjal," ujar Elisa, menarik dagu lancipnya ke arah Theo.


Theo mengangkat sebelah alis, senyum miring andalannya tercipta lagi. "Jaga mulut lo!" Serunya, dia menunjuk Elisa dengan jari telunjuknya yang mengacung di depan wajah gadis itu.


"Sebelum lo ceramahin gue, alangkah baiknya lo ngaca dulu, bodoh!" Elisa menjulurkan lidah setelah itu.


Jay menepuk pundak Theo yang dia yakin akan meluapkan emosi detik itu juga. Theo tersadar, dia memilih menarik napas, menghempaskannya bulat-bulat.


"Terus, ada perlu apa lo sama gue?" ucapnya ketus.


"Gue sama Atlanta mau masuk ekskul musik," kata Elisa to the point.


Theo mengerutkan kening, terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapan Elisa. Jari telunjuknya menunjuk Elisa dan Atlanta bergantian.


"Lo? Sama si bisu ini? Mau masuk ekskul musik?"


Setelah itu, terdengar suara tawa yang cukup keras. Theo tertawa geli, memegangi perutnya yang dirasa seperti digelitik, sampai sudut matanya mengeluarkan air.


"Gak usah ketawa, sialan! Gak ada yang lucu!" Sentak gadis itu,


Theo menyeka sudut matanya. Mendengus, masih dengan tatapan angkuhnya, dia berkata, "Kesambet setan apa kalian. Punya bakat apa, huh?"


Elisa segera merangsek kerah seragam Theo. Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya, masih dengan senyum licik di sana.


"Jangan banyak bacot, anjing!" Gertak gadis itu yang nampak hampir kehabisan kesabaran. "Gue butuh jawaban!"


Atlanta menarik lengan sebelah kiri Elisa, mencoba menahan gadis itu, di sisi lain, Jay menarik lengan sebelah kanannya. Keduanya sama-sama tarik menarik lengan Elisa yang sangat kencang mencengkeram kerah seragam Theo.


"El, udah, sabar dulu dong," kata Jay lembut.


Elisa mengalah, dia melepaskan cengkeraman tangannya, seiring terlepasnya genggaman Atlanta dan Jay di kedua lengannya.


Theo merapikan seragamnya yang kusut, terlihat bekas kemerahan di bagian leher laki-laki itu, membayangkan bagaimana kencangnya Elisa mencekiknya tadi.


"Gimana?" kata Elisa dingin.


Theo mengerutkan kening, berkacak pinggang memperhatikan Atlanta dan Elisa intens, sepatu kets yang dipakainya tak henti-hentinya dihentak-hentakkan pelan di atas ubin.


"Gue gak bisa terima sembarang orang. Kalo lo mau gabung di ekskul gue, lo harus lolos tes dulu."

__ADS_1


"Oke!"


Laki-laki itu memberi smirk, berbalik badan melangkahkan kakinya. "Ikut gue."


Atlanta, Elisa, dan Jay sekalipun yang saat itu ada di sana, mengikuti ke mana laki-laki pemilik wajah tegas itu berjalan. Atlanta tidak bisa menyembunyikan garis melengkung di bibirnya. Seorang gadis yang melihat kegembiraan di sana, menepuk pelan lengan Atlanta, mengepalkan tangan ke udara seolah memberi semangat pada laki-laki yang kini berjalan di sampingnya.


"Sudah aku bilang, Theo itu baik."


"Iya deh, iya,"


Jay hanya mendengus kecil, tatkala melihat keakraban dua manusia di depannya. Sudut bibir laki-laki itu terangkat ketika Elisa mampu memahami gerakan tangan Atlanta yang dia sendiri tidak tahu apa yang dikatakan saudara tirinya itu.


Di depan pintu kaca, dengan ukiran kayu bertuliskan timbul-seni musik-Theo merogoh kunci di dalam saku celananya, membuka lebar pintu dan menampakkan ruangan yang gelap. Ia masuk terlebih dahulu, mencari saklar lampu di sudut ruangan.


"Masuk," ujarnya.


Elisa mulai mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan luas itu. Nampak masih asing baginya, banyak alat-alat musik yang tak mampu dihitung oleh jumlah jari tangan tersimpan rapi di dalam.


Laki-laki yang memimpin ekskul musik dengan santainya duduk di kursi kayu sembari melipat tangan, masih menatap sinis dua orang di depan.


"Sekarang, tunjukkin bakat kalian,"


Elisa segera menatap Atlanta, mengisyaratkan laki-laki itu untuk memulai sesuatu yang bisa memuaskan keinginan Theo padanya.


Atlanta menarik napas, menetralkan rasa gugup yang saat itu menyelimuti batinnya. Dia takut, sangat takut, ia tidak pernah menunjukkan suatu hal pada orang lain, termasuk bakatnya sendiri. Tapi kaki jenjangnya tetap membawa laki-laki itu ke arah piano berwarna putih gading di sana.


Gadis itu tersenyum lebar setelah melihat Atlanta duduk di kursi, hendak melakukan sesuatu yang mungkin akan membuat dirinya bangga pada laki-laki itu.


Aku bisa, aku harus bisa. Batinnya yakin.


Tangannya mulai terangkat, menekan hitam dan putih tuts sangat pelan dan lembut, sampai menghasilkan melodi yang sangat indah. Jemarinya menari dengan lihai di sana, berhasil membuat orang-orang yang melihat terpaku kagum. Atlanta tersenyum tipis, meluapkan emosi jiwa yang hanya mampu ia bagikan lewat sebuah dentingan merdu.


Entah kenapa gadis itu merasakan denyut jantung yang berdetak hebat, bahkan matanya terasa memanas ketika melihat laki-laki itu memainkan sebuah lagu dengan sangat baik.


Sampai lagu itu selesai dimainkan, Elisa bertepuk tangan bangga, dia tidak sadar dengan air matanya yang hampir tumpah dan menyekanya kasar dengan punggung tangan.


"Atlanta, kamu hebat!" sahutnya memberi dua jempol pada laki-laki itu.


Theo masih tidak percaya dengan semua yang dia lihat dan dengar beberapa saat lalu, berkali-kali ia berharap semua itu hanya sebuah ilusi, namun nyatanya bukan. Dia menggaruk batang hidungnya, beranjak dari duduk menghampiri Atlanta.


"Gue akui, lo emang berbakat di sini. Menurut gue, lagu yang lo mainin tadi cukup bagus." Dia menjeda ucapannya, memilih memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Gue terima lo di ekskul musik."


"Theo! Lo serius terima dia?!" sahut Jay yang nampak tak terima.


Theo hanya mengedikkan bahu, bagaimanapun dia bukan tipe orang yang egois, dia sangat profesional dalam hal apapun. Lagipula, bakat Atlanta akan berdampak baik untuk ekskul musik 'kan?


"Sekarang giliran lo, Elisa."


Elisa nyengir. "Gue gak bisa apa-apa. T—tapi, gue bisa belajar kok."


Theo menautkan alisnya, dan dia berkata, "Lo pikir belajar musik bisa sampe satu atau dua hari? Di sini gak ada yang belajar dari nol. Kalo lo gak bisa apa-apa, terus maksud lo pengen masuk ekskul gue itu buat apa, huh?!"


"Ya buat jagain Atlanta lah, apa lagi."

__ADS_1


__ADS_2