
"Pake jaket gue. Nanti masuk angin."
Elisa geming. Gadis itu hanya diam memandangi Theo yang dengan telaten memakaikannya jaket miliknya yang sudah jelas kebesaran, tubuh mungil Elisa tenggelam di dalam jaket yang dengan ajaibnya membawa sebuah kehangatan.
Satu hal yang jelas baru saja ia dapatkan dari sosok menyebalkan seorang Theo Wijaya, laki-laki pemilik rahang tegas yang ia tahu adalah siswa sok berkuasa dan lebih mengandalkan jabatan Ayahnya, ternyata masih memiliki hati yang lembut.
Ah, sebenarnya yang mana Theo yang asli? Apakah kala itu ia sedang dirasuki jin baik?
"Gue tau kalo gue ganteng. Gak usah diliatin kaya gitu. Nanti lo naksir gue."
Elisa tersentak, ia mengerjapkan matanya berulang kali ketika mendengar kalimat menjengkelkan dari laki-laki di depan.
"Siapa juga yang liatin lo. Pede amat jadi orang," ujarnya ketus.
Theo hanya terkekeh, ia menarik sebelah sudut bibirnya, memperhatikan Elisa yang terlihat mulai sebal dengan dirinya. Ia semakin tak yakin bahwa laki-laki yang kala itu bersamanya adalah Theo, manusia yang berhasil masuk ke dalam black list Elisa. Apalagi dengan pertemuan pertama antara keduanya yang sangat tidak menyenangkan, ia masih ingat itu.
"Udah, ayo."
"Ke mana?"
"Ya pulang."
Sekian detik, yang dilakukan Elisa hanya mengulum bibir. Tak lama dagu lancipnya bergerak menunjuk laki-laki itu yang hanya memakai baju kaos agak kebesaran.
"Gue gapapa. Yang penting lo gak kedinginan," ucapnya seraya tersenyum.
Astaga, bahkan gadis itu tidak tahu bahwa Theo memiliki senyum yang cukup manis. Sosoknya yang terkenal kasar, seketika meluluh lantahkan pandangan itu. Theo segera menaiki motor sport miliknya, memakai helm. Namun ia segera menoleh kembali tatkala melihat Elisa yang masih diam di tempat.
"Cepetan."
Lamunannya hancur tak tersisa, gadis itu tersadar. Entahlah, seharusnya ia bisa menolak ajakan Theo saat itu, namun tiba-tiba saja seluruh tubuhnya bergerak mengajaknya menaiki pijakan besi motor Theo, mendudukkan bokongnya di jok penumpang yang menganggur.
"Sorry, gue gak bawa helm buat lo," ujar laki-laki itu. Melirik Elisa lewat kaca spion, dan mendapatinya mengangguk.
"Gapapa. Gak bakal kena tilang juga 'kan?"
Lagi-lagi, Theo hanya terkekeh mendengar ucapan Elisa. Baik nada ketus, lontaran kata kasar, atau apapun itu, Theo sangat suka. Sehari saja ia tak mendengar celotehan Elisa, baginya terasa seperti mati rasa.
"Pegangan dong."
"Dih, ogah! Nyari kesempatan dalam kesem—AAAA!" Pekiknya. Praktis membuat gadis itu memeluk Theo ketika laki-laki di depan dengan sengaja tancap gas, dan mengeremnya mendadak.
"Udah dibilangin pegangan," katanya sembari tertawa puas.
Elisa segera melepaskan pelukan tak diinginkannya, memukul bahu lebar Theo dengan sangat keras.
"Theo, sialan!" Ia menoyor kepala Theo yang dilapisi helm. Namun, laki-laki itu semakin mengencangkan tawanya, seolah melihat sesuatu yang amat lucu.
"Gue turun nih!" Ancam gadis itu yang sudah memberi ancang-ancang hendak turun dari motor Theo.
"Iya, iya, gue cuma bercanda doang, elah."
"Ya udah cepetan jalan!"
Seperti tak ada kapok-kapoknya laki-laki itu mencoba menarik urat leher Elisa, disepanjang jalan ia tak pernah berhenti membuat gadis di belakangnya menggeram karena ulahnya yang menyebalkan. Dan entah sudah berapa kali juga Elisa menoyor, mencubit, bahkan memukul punggung Theo.
Hingga tak terasa mereka telah sampai di depan gerbang rumah Elisa yang sedikit terbuka, tawa laki-laki itu memudar perlahan tatkala gadis yang dibawanya memilih turun dengan cepat.
"Nyesel gue pulang bareng lo," sahutnya, Elisa memberengut seketika.
__ADS_1
Theo membuka helm yang sejak tadi menutupi wajahnya. "Tapi gue nganter lo dengan selamat 'kan?" ucapnya dengan nada jenaka.
"Ya tapi kalo tadi di jalan gue kenapa-napa gimana? Lo mau tanggung jawab?! Lagian bawa motor so keren banget, banyak gaya! Kaya Abang gue aja lo," katanya sembari mengingat kembali ketika Theo selalu menyalip mobil di depan, ataupun menancap gas di tikungan jalan sampai motor milik laki-laki itu miring 30°. Alhasil gadis itu berusaha mati-matian menahan rasa takut sekaligus ngeri.
"Emangnya Abang lo kenapa?"
"Ah, udah, gue mau masuk. Cape ngomong sama lo. Makasih udah nganterin gue."
"Bentar dulu." Laki-laki itu beranjak, menghampiri Elisa yang sudah berjarak beberapa meter di depannya.
"Mau apa lagi?"
"Gue ikut."
Praktis Elisa menautkan kedua alis, menatap bingung laki-laki tinggi yang sudah mendahuluinya memasuki halaman rumah. Baik, Theo selalu berhasil membuatnya naik darah.
"Ngapain, astaga. Woy!"
Elisa pergi menyusul Theo, mengekori laki-laki yang berjalan dengan langkah lebar di depannya. Tak lama, terlihat sosok jangkung yang baru saja keluar dari balik pintu rumah. Theo semakin mempercepat langkahnya menghampiri laki-laki itu, tak lupa senyuman terbaik ia patrikan.
"Malem, Pak." Sapa Theo menjabat tangan laki-laki yang berstatus Kakak dari Elisa.
"Kamu Theo 'kan? Anaknya Pak Narto Wijaya?" tanya Joni memastikan.
"Iya, Pak." Theo tersenyum kikuk.
"Elisa, kok kamu bisa pulang sama Theo? Kamu dari mana aja. Abang telpon gak aktif?" ucapnya menolehkan pandangan pada Elisa yang baru saja menghempaskan napas rendah.
"Pulang sekolah Elisa makan dulu. Hp El abis batre, terus pas mau pulang El ketemu dia, ya udah jadinya bareng." Jelasnya.
Joni mengganggukkan kepala paham, ia sedikit lega adiknya itu pulang dengan selamat.
"Oohh itu, gapapa Pak kita udah baikan kok, mungkin dulu anggap aja sebagai awal perkenalan. Iya 'kan?" ucapnya sembari menyenggol lengan Elisa. Gadis itu merotasikan bola mata, mendengus.
"Pak, Pak, lo kira Abang gue Bapak Bapak."
"El ... kok ngomongnya ngegas sih?"
"Elisa kalo di sekolah lebih galak loh Pak."
Joni tergelak mendapati Elisa yang sudah mengepalkan tangan di udara, namun seketika kepalan itu terurungkan begitu saja.
"Hmm ... Makasih ya, Theo, udah anter Elisa sampe di rumah. Ayo, mampir dulu." Ajar Joni.
"Lain kali aja, saya harus pulang sekarang."
Laki-laki dewasa itu mengangguk lagi. "Ya udah, saya ke dalem lagi, masih banyak kerjaan."
Selepas Joni menghilang di balik pintu, hanya keheningan menyelimuti dua orang yang berdiri di bawah sinar lampu neon pekarangan rumah bertingkat dua itu.
"Sana pulang, gue mau istirahat," ujar Elisa seolah ingin menghilangkan sosok Theo di hadapannya sesegera mungkin.
"Dih, ngusir?"
"Iya, ngusir! Sana, sana." Elisa sedikit mendorong punggung Theo.
"Bentar dulu, Elisa."
Ia menyerah, menghentakkan kaki lalu berbalik badan, hendak meninggalkan Theo. Tapi laki-laki itu menarik tali ranselnya, otomatis Elisa hampir terjungkal ke belakang.
__ADS_1
"Apalagi?!"
"Jaket gue."
Intuisinya bergerak cepat, ia tersadar, membulatkan bola mata. Bisa-bisanya ia tidak sadar kalau jaket milik Theo masih melekat rapat di badannya.
"Kalo mau lo pake juga gapapa. Jadi gue bisa ngelindungin lo dari udara dingin."
Sekali lagi Elisa berdecak, lama-lama ia bisa saja muntah dengan semua ucapan manis Theo. Gadis itu segera membuka jaket milik orang di depannya, melemparkannya tepat di dada bidang Theo, untung saja laki-laki itu cepat tanggap mendekap jaketnya.
"Udah 'kan, gak ada lagi?"
Theo mengangguk pelan, menatap lurus gadis itu. Setelah mendapat anggukan dari Theo, Elisa kembali membalikkan badan, pergi dari tempat di mana ia berdiri. Laki-laki itu pun masih memperhatikan punggung Elisa sampai menghilang dari pandangannya.
"Cantik." Theo menyunggingkan sebelah bibir, sebelum akhirnya ia memilih untuk pergi meninggalkan pekarangan rumah Elisa.
.......
.......
.......
Laki-laki tampan bak pangeran di negeri dongeng itu masih bergelut dengan banyak tumpukan buku tebal di depannya, meski waktu hampir menunjukkan tengah malam, ia tetap bersemangat mengerjakan soal-soal Matematika yang mampu membuat isi kepala sakit hanya dengan melihatnya saja.
Sebelum ia menyelesaikan catatan rumus-rumus dan soal, pulpen yang dipakainya berhenti mengeluarkan tinta.
"Elah, mana gue gak punya yang lain." Ia menggeledah seluruh laci kecil yang ada di atas mejanya. Hasilnya nihil, ia sama sekali tak memiliki stock pulpen lagi.
Jay beranjak dari duduk, meregangkan ototnya yang kaku. Tungkainya bergerak, berjalan ke luar kamar, kaki jenjangnya masuk ke kamar yang tepat berada di samping kamarnya sendiri.
Ia yakin Atlanta belum pulang dari tempatnya bekerja.
Sejenak, ia hanya memperhatikan setiap sudut kamar milik Atlanta. Sangat, sangat jauh berbeda dengan kamar miliknya. Sebuah perbedaan yang mencolok di antara keduanya semakin kentara. Ia hanya melihat lemari pakaian, meja belajar, dan ranjang yang semuanya terbuat dari kayu, belum lagi cat dinding berwarna putih polos semakin menampakkan sebuah ruangan yang sangat sederhana.
Namun, coba lihat kamar laki-laki pemilik lesung pipit itu, hampir semua benda yang terpajang di kamarnya memiliki standar kualitas sangat baik, tentu dengan desain modern nan elegan mencerminkan bahwa laki-laki itu memiliki selera yang tinggi.
Tapi Jay sangat tidak peduli, tujuannya ke kamar Atlanta bukan untuk memberi belas kasihan untuk Atlanta, melainkan hanya untuk sekedar meminjam pulpen milik laki-laki itu.
Ia berjalan ke arah meja belajar, mencari benda yang di carinya.
"Ata, gue pinjem pulpen lo ya?"
"Iya, ambil aja." Jay terkikik tatkala menjawab pertanyaannya sendiri.
Setelah mendapatkan apa yang dicarinya di dalam tempat pulpen Atlanta, tiba-tiba iris mata laki-laki itu tertuju ke bingkai foto yang sengaja ditelungkupkan. Meski tak ingin lebih peduli dengan benda yang mencoba menarik perhatiannya, tapi nyatanya Jay kalah, rasa penasaran lebih menguasainya.
Ia membuka bingkai itu, melihat foto siapa yang ada di sana.
"Elisa?" Ia mengerutkan kening. "Bentar, kok gue kaya pernah liat foto ini."
Jay mencoba mengingat kembali sosok perempuan yang sangat mirip dengan Elisa. Tak perlu banyak waktu untuk laki-laki itu menggali kembali memori pikirannya.
"Ini 'kan foto yang gue liat di laci kamar Ayah."
Percaya tidak percaya, Jay tersentak dengan apa yang baru saja menjadi teka-teki baginya. Seorang perempuan bersetelan jaman 90an terlihat sangat mirip dengan Elisa. Bahkan tak ada perbedaan di antara keduanya.
Ia menyipitkan penglihatan, melihat tulisan kecil di pojok foto.
"Hani 04 Mei 1976 - 01 Januari 1996"
__ADS_1
Kerutan di kening Jay semakin kentara. "Hani siapa?"