Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
55. Pembunuh!


__ADS_3

Dua jam lamanya sejak perkelahiannya dengan Elisa, sejak saat itu pula Nadin memilih tak mengikuti pelajaran selanjutnya di kelas. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, ia dan kedua temannya masih berdiam diri di gudang belakang sekolah.


"Terus rencana lo selanjutnya apa?" Tanya Linda tanpa mengalihkan pandangan dari layar benda pipih miliknya.


Seorang gadis yang tengah mengisap rokok itu beralih melipat kaki, menyenderkan punggungnya di kepala kursi. Selanjutnya ia menghempaskan kepulan asap di udara, sembari berpikir akan pertanyaan dari Linda.


"Gak tau." Jawabnya singkat, padat, dan jelas, seolah dengan jawaban itu bisa menjelaskan bahwa isi kepalanya saat ini benar-benar tak mampu untuk diajak berpikir.


Nina yang sejak tadi termenung sembari menikmati nikotin mulai mengangkat kepala.


"Lo gak takut kalo tiba-tiba si bisu ngasih bukti kelakuan kita?" ucapnya seraya menatap Nadin penuh arti.


Ya, ketiganya bukan tanpa alasan mengganggu Atlanta, bahkan sampai membully laki-laki itu. Pasalnya Atlanta memiliki sebuah bukti video akan kelakuan tak beretika seorang siswi seperti mereka, apalagi jika bukan merokok dan minum alkohol di area sekolah. Tentu saja hal itu akan merusak reputasi Nadin sebagai anak dari keluarga beradab.


"Iya Nad. Apalagi sekarang ada si cewe bar-bar itu, ya kita makin susah lah bikin si bisu kapok," kata Linda memberengut.


Bukan hanya Linda maupun Nina yang memikirkan si super heronya Atlanta, melainkan gadis itupun sama tengah memikirkan bagaimana caranya supaya Elisa enyah dan tidak lagi mengganggu kesenangan ketiganya.


"Gue punya ide! Gimana kalo kita culik aja si bisu, terus kita ancam biar dia mau hapus semua bukti kita," sahut Linda semangat ketika ide briliannya terlintas dalam kepala.


"Gue setuju! Lagian gue udah cape berurusan sama si Elisa. Gue kapok kena imbas tendangan maut cewe bar-bar itu." Timpal Nina yang tengah mengusap perut yang beberapa saat lalu menjadi samsak seorang model cantik namun galak, siapa lagi jika bukan Elisa Hauratama.


"Gue gak setuju," ucap Nadin seketika.


"Kenapa? Itu jalan satu-satunya biar si bisu nurut sama kita."


Nadin mendengus, ia membuang puntung rokok dan sekali lagi kepulan asap menguar di udara ketika gadis itu meloloskannya perlahan. Pandangannya sontak menoleh ke sudut atas ruangan, pun jari telunjuknya yang mengarah ke sebuah CCTV.


"Kabar baiknya, ternyata gak cuma si bisu yang punya bukti itu."


"Maksud lo?"


Linda maupun Nina beralih mengikuti arah tunjuk tangan Nadin. Praktis keduanya membulatkan bola mata terkejut.


"CCTV!"


"Sejak kapan di sini ada CCTV, anjir!" sahut Nina yang otomatis menegakkan badannya berdiri, masih dengan tatapan terkejut terpatri di wajahnya yang terkenal dingin.


Berbeda halnya dengan Linda dan Nina yang masih tak percaya ada sebuah CCTV di gudang, Nadin malah menampilkan tatapan datar, seolah ia tak ambil pusing dengan sebuah benda yang mampu merekam semua kegiatannya selama ini, toh memang semuanya sudah terlanjur.


"Siapa yang pasang CCTV Nad?!"


"Theo Wijaya."


"Theo?"


Nadin kembali memberikan tatapan tajam ke arah CCTV yang tak begitu jauh dari pandangannya, seperti tengah menatap seseorang dengan penuh kekesalan. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket.


"Ya, dia punya semua bukti itu. Dan itu artinya, bukan cuma si bisu yang jadi lawan kita, tapi Theo Wijaya yang mulai detik ini jadi lawan terberat kita."


Nina mengusap wajahnya kasar. "Kurang ajar! Sejak kapan dia pasang CCTV, sialan!"


"Sejak kita jadiin gudang ini markas."


"WHAT! Kalo gitu, si Theo lebih dulu nyiduk kita semua sebelum Atlanta?!"


Nadin mengangguk dengan ucapan Linda yang tidak salah sama sekali. "Lo bener. Dan cowo sialan itu yang ternyata diem-diem ngambil foto gue waktu di club malem," ujarnya seraya mengepalkan kedua tangan yang tengah bersarang di saku jaket.


"Jadi percuma aja dong kita ancam si bisu biar mau hapus bukti-bukti?"


"Ya jelas! Makanya sekarang kita harus mikir gimana caranya biar si Theo takluk lebih dulu."


Ketiganya kembali terdiam dengan pemikiran masing-masing. Bukan hal yang mudah melawan laki-laki pemilik rahang tegas itu. Jelas mereka tak mau berakhir konyol.


"Ini bakal rumit, Nad." Keluh Linda yang masih menatap CCTV dengan pandangan putus asa. Ia belum siap jika sebuah kebenaran akan terungkap, sebuah fakta yang akan membuat kedua orang tuanya murka, mengingat anak perempuannya terjebak dalam pergaulan bebas. Atau lebih parah mungkin Ayahnya akan segera mencoret namanya dari daftar keluarga.

__ADS_1


"Lo ada ide?" Tanya Nina setelahnya.


Nadin menghela napas. "Gue gak yakin. Tapi gue mikir gimana kalo kita jadiin cewe itu umpan."


"Maksud lo?"


"Gue tau, si Theo itu suka sama Elisa. Dan gue yakin dia gak mungkin mau liat cewenya menderita. Tapi sebelum itu, kita harus cari cara biar si Elisa sama si bisu jauhan," ucapnya tersenyum miring.


Nina mengangguk setuju, seketika ia menjentikkan jari seperti memiliki sebuah ide.


"Gue punya ide."


Nina menggerakkan tangannya, mengisyaratkan Nadin dan Linda agar mendekat ke arahnya.


"...."


Sebuah seringaian tercipta di bibir tipis Nadin tatkala mendengar sebuah ide yang cukup bagus dari sahabatnya. Ia tersenyum miring.


"Lo pinter kalo soal beginian. Gue gak salah milih temen licik kaya lo," ujar Nadin menepuk pundak Nina bangga.


.......


.......


.......


Waktu yang hampir tengah malam, Atlanta baru pulang dari kerja paruh waktunya. Ia membuka pintu garasi dengan sangat hati-hati, takut jika pintu besi itu mengeluarkan decitan dan mengganggu orang yang tengah tertidur.


Atlanta berjalan ke dalam sembari menyalakan lampu senter dari ponsel, dan tak sengaja ia membuka percakapan Whatsapp dengan Elisa sore tadi. Keningnya langsung berkerut tatkala melihat gadis itu tengah online di jam yang seharusnya ia sudah beristirahat.


...ELISA 🌈...


^^^Kenapa belum tidur?^^^


^^^23.17^^^


23.18


^^^Sudah minum obat? Aku baru pulang bekerja, hehe^^^


^^^23.19^^^


^^^Sekarang kamu tidur, besok kamu lihat tugas punyaku saja. Kamu gak boleh begadang.^^^


^^^23.19^^^


Udah kok


23.19


Kamu pasti cape, ya?


23.19


^^^Engga... sudah biasa. Sekarang kamu istirahat.^^^


^^^23.20^^^


Atlanta kembali mendongak, melihat sekeliling dapur yang masih menyala terang. Ia memasukkan kembali ponselnya, dan detik itu iris matanya menangkap sosok Bi Mirna tengah membuat kopi hitam.


Bi Mirna yang menyadari kehadiran Atlanta menoleh, dan tersenyum ke arah laki-laki itu.


"Ata? Baru pulang?"


Atlanta mengangguk dan menghampiri Bi Mirna, mencium bau kopi yang menguar bersama uap panas dari cangkir.

__ADS_1


"Kopi buat siapa, Bi?"


"Oh ini, buat Bapak. Beliau minta dibuatkan kopi, katanya masih banyak kerjaan," ucap wanita itu sembari mengaduk cairan hitam pekat buatannya.


"Biar Ata aja yang antarkan ke Ayah."


Bi Mirna seketika menggelengkan kepala. "Biar Bibi aja. Kamu masuk ke kamar gih, istirahat, sudah malam."


Laki-laki itu mencegah langkah Bi Mirna, dengan tatapan memohon wanita setengah abad itu menghempaskan napas berat. Ia menyerah, Atlanta memang seperti itu. Atlanta tersenyum senang ketika Bi Mirna memberikan cangkir yang dipegangnya.


"Kalo sudah kasih kopi ini ke Ayah, kamu langsung tidur ya, ngerti?" Atlanta mengangguk mantap dengan ucapan Bi Mirna.


Atlanta berbalik badan, melangkahkan kaki menuju ruang kerja sang Ayah dengan secangkir kopi panas yang ia bawa.


Sejenak, ia melihat Rudi dari balik kaca ruang kerja pria itu, nampak Ayahnya memang sedang sibuk dengan banyak tumpukan berkas di atas meja. Atlanta menghela napas, ada perasaan khawatir bersarang dalam hatinya. Ia takut Rudi sakit jika terus begadang semalaman, bahkan Atlanta sempat memergoki Rudi masih bekerja sampai waktu pagi.


Tok ... tok


"Masuk!"


Atlanta membuka knop pintu, masuk ke dalam ruang kerja sang Ayah, sebuah senyuman terpatri di bibirnya.


Rudi mengangkat kepala, namun ketika penglihatannya melihat Atlanta, sebuah ******* napas terdengar dari mulutnya, ia kembali berfokus dengan deretan berkas tanpa mempedulikan Atlanta yang menghampirinya.


"Simpen di situ," ucapnya seraya menggerakkan dagu ke arah meja kecil di samping kursinya.


Atlanta nurut, laki-laki itu menyimpan cangkir di tempat yang ditunjukkan Rudi.


Atlanta masih terdiam di tempat sembari memainkan jari-jarinya. Tidak enak jika mengganggu Rudi yang sedang fokus dengan kerjaannya. Lantas pria di sana kembali menolehkan pandangan ke arah Atlanta tatkala anaknya itu tak kunjung keluar dari ruangan tempatnya bekerja.


"Apa lagi? Sana ke luar. Saya lagi sibuk," ujarnya ketus.


Atlanta mengulum bibir, tangannya kembali merogoh ponsel di dalam saku celana, dan mengetikkan sesuatu di sana.


"Buang waktu aja bicara sama kamu." Rudi nampak ogah-ogahan ketika Atlanta menyodorkan ponselnya guna membaca kalimat yang di tulis Atlanta.


"Ayah, jangan kecapean, nanti Ayah sakit."


Sontak Rudi mendengus, masih dengan tatapan tak bersahabatnya ia berkata. "Kamu peduli apa sama saya? Kalo saya sakit kamu mau rawat saya? Kalaupun saya sakit, itu bukan urusan kamu."


Atlanta menggigit bibir bawahnya, Rudi tetaplah Rudi, sosok Ayah yang tak akan menganggapnya anak sampai kapanpun. Laki-laki itu kembali mengetikkan ungkapan hatinya di layar ponsel, pun Rudi yang memilih membaca apa yang diketik Atlanta.


"Ayah, besok hari jum'at, Ayah mau gak ziarah ke makam Bunda sama Ata?"


Kali ini Rudi memandang Atlanta dengan sangat tajam, rahang pria itu tiba-tiba mengeras dengan sendirinya.


"Kamu gak tau diri ya. Masih saja datang ke makam Hani setelah kamu membunuh dia!"


Bola mata Atlanta detik itu terasa memanas. Ia mengepalkan tangan yang masih memegang ponsel. Laki-laki itu menundukkan kepalanya dalam.


"Dasar pembunuh! Kenapa kamu harus lahir! Kenapa gak kamu saja yang mati! Bukan Hani!"


Rudi beranjak dari duduknya, masih menatap Atlanta yang sudah tertunduk menahan air matanya.


"Asal kamu tau. Kalau saja bukan karena Bi Mirna, saya gak sudi kamu tinggal di rumah saya, paham!" Sahutnya lantang. Bahu Atlanta semakin bergetar mendengar ucapan Rudi yang mampu mengoyak isi hatinya. Apakah dia sehina itu di mata Ayah kandungnya sendiri?


"Pergi! Dasar anak cacat! Jangan harap saya mau ziarah sama kamu! Kamu itu terlalu kotor bahkan untuk menginjak tanah merah di makam Hani!"


Satu tetes air mata lolos dari pertahanan. Atlanta menangis dalam diam. Sangat, sungguh sangat sakit rasanya, seperti ribuan panah menusuk dadanya tanpa ampun.


"Keluar!"


Mendengar ucapan sang Ayah yang semakin bernada tinggi, Atlanta perlahan membalikkan badan, dengan berat hati ia ke luar dari ruang kerja Rudi, pun hatinya semakin sakit mengingat kalimat kasar yang terlontar dari mulut Ayahnya.


Atlanta menutup pintu itu, dan tubuhnya seketika merosot, Atlanta membenamkan wajahnya di lipatan tangan, menahan isakan tangis yang tak ingin orang lain mendengarnya.

__ADS_1


Bunda, apa benar Ata yang udah bikin Bunda meninggal? Kenapa Ayah bilang Ata pembunuh.


__ADS_2