
Masih dengan perasaan yang sama, di hari yang berbeda, Elisa yang baru saja menapakkan kaki di depan gedung sekolah sudah mendapatkan sesuatu yang mengejutkan mata. Bagaimana tidak, tepat di antara pilar menjulang kini terpasang spanduk dengan sebuah foto besar dirinya bersama Jay, tak lupa tersemat kalimat singkat ucapan selamat akan keberhasilan keduanya memenangkan kompetisi musik 2 hari yang lalu.
Ya, mereka berhasil memenangkan juara pertama di kompetisi musik hari Sabtu kemarin. Tak urung banyak siswa yang kembali memberikan ucapan selamat secara langsung ketika bertemu dengan gadis itu.
Elisa masih berdiri mematung di depan pintu utama, menengadah memandangi spanduk itu dengan pikiran semrawut. Entah, apakah dia harus bahagia atau malah sebaliknya. Tak perlu banyak waktu untuk menebak perasaan gundah yang tengah dialami Elisa, apalagi jika bukan karena Atlanta yang tidak menghadiri acara kompetisi dan hilangnya kabar laki-laki itu seolah ditelan bumi. Berulang kali Elisa mencoba menghubungi, Atlanta sama sekali tak merespon, hal itu tentu semakin membuat isi hatinya geram sekaligus gelisah.
Terdengar ******* napas pendek ke luar dari mulut gadis itu, ia memilih melangkahkan kaki memasuki gedung sekolah. Dengan pandangan yang tertunduk Elisa sama sekali tak mempedulikan tatapan orang-orang di sana. Bahkan telinganya seolah dibuat tuli dengan ocehan kaum Hawa yang tengah bergosip akan pasangan serasi Jay dan Elisa. Rupanya eksistensi hubungan 'pacar pura-pura' keduanya masih berlangsung sampai detik itu, malah sekarang mereka dinobatkan sebagai the most couple SMA Buana.
Tepat di depan pintu kelas, Elisa kembali mengangkat kepala, melihat kondisi kelas yang cukup ramai, tapi ketika atensi mereka melihat kedatangan Elisa, suasana mendadak hening seketika. Namun, bukan hal itu yang menjadi fokus utama Elisa, melainkan di sana, ia sudah melihat Atlanta yang sudah duduk di bangkunya, lengkap dengan senyuman ramah tercipta di bibir laki-laki itu.
Sejenak, pandangan mereka saling bertemu, seolah ada sebuah ungkapan yang sama-sama ingin keduanya luapkan. Elisa menarik napas, kaki jenjang gadis itu kembali bergerak, berjalan memasuki kelas dengan tatapan datar.
Mengejutkan! Ternyata Elisa tidak langsung duduk di bangku yang selama ini ia duduki, melainkan gadis itu semakin berjalan ke belakang kelas, merotasikan bola mata ketika melewati bangku Atlanta.
"Mark, gue mau duduk di sini," ucap gadis itu seketika.
Orang yang diajak bicara langsung mengerutkan kening. "What?! Lo kan punya bangku sendiri di sana," kata Mark.
"Lo pindah dulu ke depan. Gue duduk di sini, gue lagi badmood."
Mark menghempaskan napas, melirik sekilas teman sebangkunya—Lucas—yang sudah memberi anggukan pelan seolah berkata 'turutin aja maunya'. Ia beralih membawa tas ransel miliknya dan pindah bangku ke urutan paling depan, dengan Atlanta.
Elisa mulai mendaratkan bokongnya di kursi milik Mark. Penghuni kelas tentu tidak pura-pura bodoh dengan sikap Elisa. Mereka yakin gadis itu sedang menyimpan rasa marah pada Atlanta.
"Lo kenapa sih?" tanya Lucas pelan.
Gadis itu hanya mengedikkan bahu.
Lucas menghela napas, menyangga dagu dengan lengannya sembari menatap Elisa lamat.
"Seharusnya lo dengerin dulu alasan dia kenapa gak dateng ke kompetisi itu. Emang lo gak liat mukanya ada memar dikit? Gue yakin sih, itu pasti bekas tinjuan," ucap Lucas yang kini beralih menyenderkan punggungnya di kepala kursi dan melipat tangan.
Mendengar itu, Elisa langsung menarik kedua alis. "Maksud lo?"
"Ck, gue pikir lo pinter, Elisa. Noh, liat aja sendiri mukanya si bis—maksud gue Atlanta."
Memar? Bekas tinjuan? Demi Tuhan gadis itu tidak tahu menahu dengan keadaan Atlanta. Apa memang benar laki-laki itu mendapat serangan? Persetan! Lalu kenapa Atlanta seolah menghilang tanpa kabar sejak saat itu, bahkan sampai sekarang. Apakah dia sengaja membuatnya gila dan mati penasaran?
Elisa beralih memandang Atlanta dari arah belakang, di mana laki-laki itu tengah menundukkan kepalanya.
Sebenarnya kamu kenapa, Atlanta? Kamu sengaja bikin aku khawatir, huh?
Ia memijat pelipisnya yang terasa berkedut memikirkan laki-laki itu. Jujur saja, perasaan kecewa lebih mendominasi isi hatinya sekarang.
"Pagi anak-anak. Duduk ... duduk, pelajaran akan segera dimulai."
Semua murid di kelas itu memilih kembali ke bangku masing-masing tatkala seorang guru Matematika memasuki ruangan yang awalnya tak kondusif, pun Elisa yang sudah menegakkan badan tengah bersiap untuk memulai pembelajaran.
"Oh ya, Elisa." Guru wanita itu mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Elisa, lantas gadis itu segera mengangkat tangan.
"Iya, Bu?"
"O—oh sekarang kamu duduk di belakang. Selamat ya, atas keberhasilan kamu di kompetisi musik kemarin. Ibu sangat bangga. Berkat kamu dan Jay nama sekolah kita semakin bersinar dan banyak perhatian dari Wali Kota," ucapnya kagum.
Elisa hanya tersenyum tipis menanggapinya, pun suara tepuk tangan kini memenuhi seisi ruang kelas, ditambah tatapan murid-murid yang tertuju padanya.
"Baik. Sekarang Ibu kasih waktu 15 menit untuk menghapal materi minggu lalu, hari ini kita ulangan harian."
"Yaaaaahhh, Ibu ... Kenapa dadakan." Keluh para murid.
.......
.......
.......
Suara bel istirahat berbunyi tepat pukul 10.00, semua murid bersorak gembira tatkala mendengarnya, akhirnya mereka bisa terlepas dari belenggu mata pelajaran Matematika yang berhasil membuat jantung di hari itu berpacu sangat cepat, tak seperti biasanya.
"Jangan lupa, kertas ulangan hari ini kalian kasih sama orang tua masing-masing, habis itu beri tanda tangan orang tua kalian di samping nilai, besok dikumpulkan kembali," ucap guru mata pelajaran Matematika seraya membereskan buku tebal itu.
Hampir 90% anak-anak murid di kelas kembali mengeluh, apalagi bagi mereka yang memiliki nilai kurang dari KKM, tentu saja mereka tidak ingin mendapat ceramah dari orang tua.
"Selamat siang."
__ADS_1
"Siang, Bu...."
Satu per satu siswa beralih meninggalkan kelas untuk segera mengisi amunisi. Selanjutnya Elisa merogoh ponsel di dalam rok abunya yang terasa bergetar, melihat pesan dari Jay.
...JAY...
El, ke kantin bareng yu. Aku ke
kelas kamu sekarang.
10.01
^^^Iya, Jay. Aku tunggu^^^
^^^10.01^^^
Gadis itu memilih mengemas buku dan alat tulis ke dalam tas ransel. Ia melirik sebentar ke arah Atlanta yang masih duduk di bangkunya, sendirian, tanpa Mark, karena laki-laki bule itu sudah pergi lebih dulu dengan sahabatnya—Lucas.
Ia mengerucutkan bibir, menatap kesal punggung Atlanta.
Dasar penghianat. Kamu janji bakal selalu ada buat aku. Tapi sekarang mana?
Tepat detik itu, 3 orang siswa masuk ke dalam kelas. Mereka menghampiri Atlanta dan tanpa sepatah kata ketiganya langsung menyeretnya yang terlihat kebingungan. Elisa membulatkan bola mata melihatnya, menatap laki-laki itu yang sedikit tergopoh akibat tarikan di area leher yang dilakukan oleh murid tak dikenalnya.
Ingin rasanya gadis itu menyusul Atlanta dan melihat apa yang akan dilakukan ketiga siswa itu. Namun, kakinya terasa berat untuk segera menyusul Atlanta. Elisa mengepalkan tangan sangat kuat, dia takut terjadi sesuatu pada laki-laki itu.
Lalu ia kembali menghempaskan napas, mengangguk mantap kemudian beranjak dari duduk, sedikit berlari meninggalkan kelas.
"Elisa? Mau ke mana? Kok buru-buru? Aku baru dateng loh." Sosok laki-laki tinggi yang kala itu sudah menjulang di ambang pintu sebelum Elisa ke luar berhasil membuat langkahnya terhenti.
"I—itu...."
Jay mengikuti arah jari telunjuk Elisa, dan melihat Atlanta tengah diseret-seret oleh teman-teman suruhannya. Tentu laki-laki itu menarik sebelah bibir, karena memang itulah rencananya.
"Udah biarin aja. Paling mereka mau ajak dia ke kantin. Mending sekarang kamu anter aku ke perpustakaan dulu, aku mau ngasih buku ini," ucap Jay mengangkat beberapa buku yang ada di genggamannya.
"Tapi Atlanta—"
Mau tak mau Elisa hanya nurut dengan Jay yang membawanya ke arah perpustakaan. Meski dalam hati ia sangat khawatir dengan keadaan Atlanta. Apalagi ketiga orang itu sudah jelas bukan teman Atlanta, memangnya sejak kapan Atlanta punya teman selain dirinya? Pasti mereka berencana melakukan sesuatu pada laki-laki itu.
"El, kamu mau ikut masuk atau nunggu di sini?" tanya Jay saat keduanya sudah ada di depan perpustakaan.
"Hmm ... Aku tunggu di sini aja, ya? Kamu gak akan lama kan? Cuma kembaliin buku doang?"
Laki-laki pemilik lesung pipit itu mengusak rambut panjang Elisa dan tersenyum manis. "Iya gak akan lama kok. Tunggu ya."
Elisa mengangguk pelan, lalu menyenderkan punggungnya di besi pembatas sembari melipat tangan, menunggu Jay yang tengah mengembalikan buku-buku. Gadis itu menunduk, jauh dalam otaknya, Elisa masih memikirkan nasib Atlanta, mengingat kejadian di mana Atlanta pernah di bully, semakin membuatnya cemas.
"El? Elisa?"
Laki-laki itu menghempaskan napas berat, tangannya terangkat menepuk pundak gadis yang masih diam melamun.
"Elisa...."
"E—eh, Jay. Udah?" ujarnya kikuk.
Jay mengangguk, ia beralih merangkul Elisa. "Jangan dipikirin. Kamu gak inget dia udah ingkar janji sama kamu?" ucap Jay.
Benar juga, pikir gadis itu. Elisa kembali melangkahkan kaki mengikuti Jay yang membawanya ke kantin, pun rangkulan tangan Jay tak pernah terlepas di bahunya. Praktis membuat siswi yang melihatnya sangat iri dengan Elisa.
Sesampainya di kantin, keduanya mengedarkan pandangan, mencari bangku yang kosong.
"Woy! Jay!"
Suara yang tak asing bagi keduanya berhasil mengalihkan atensi mereka. Di sana, Theo, sudah mengangkat sebelah tangan memberi isyarat bagi Jay untuk menghampirinya. Jay kembali menggandeng Elisa ke ujung kantin, ke singgahsana laki-laki itu dengan teman-temannya.
"Awas ... awas, tuan putri mau duduk di sini." Jay sedikit mendorong bahu temannya agar segera beranjak dari tempat duduk yang dia siapkan untuk Elisa.
"Santai dulu elah...." Laki-laki berambut ikal itu beralih duduk di sebelah bangku yang sempat dia duduki, memberi ruang lebih pada gadis yang katanya 'pacar Jay' itu.
Elisa mendaratkan bokongnya, di samping Jay, lantas di depan gadis itu sudah ada Theo, dan....
Murid yang sempat ia lihat menyeret Atlanta?
__ADS_1
Setelah menyadarinya, Elisa langsung celingukan mencari keberadaan Atlanta. Raut wajah khawatir kian menghiasi paras cantik gadis itu.
"Woy, bisu! Lama banget. Buruan!" sahut anak laki-laki yang duduk di seberang meja yang ditempati Elisa.
Tak berselang lama, iris mata gadis itu kini menangkap sosok Atlanta tengah membawa nampan berisi 4 mangkuk bakso. Dengan langkah yang kaku, Atlanta menghampiri meja yang ditempati laki-laki itu. Pun Elisa hanya menatap Atlanta tanpa ekspresi yang semakin mendekat.
Bruk!
Prang!
Elisa membulatkan bola mata terkejut, ia sontak berdiri dari duduk. Gadis itu melihat dengan jelas di mana Atlanta yang terjatuh di depannya, bersama dengan makanan yang dibawanya tumpah ruah tanpa sisa.
"Heh! Dasar bego! Bisa hati-hati gak, hah?!" Lantang anak laki-laki yang kini sudah berdiri menjulang di depan Atlanta, menoyor kepala Atlanta berulang kali.
Elisa hanya diam membeku, mengeraskan rahang menahan sesuatu yang bergejolak dalam dadanya.
"Lo mau ganti rugi?!" sahutnya lagi. "Udah bisu! Bego! Tolol! Gak tau diri! Mati aja lo sekalian!"
Mendengar kegaduhan yang terjadi di ujung kantin, semua murid yang kala itu ada di sana memilih memfokuskan diri ke arah keributan. Tak ada satupun yang berani membela Atlanta, semuanya diam, seolah menonton pertunjukan yang sangat mengasyikan.
"Makan tuh! Bersihin pake mulut lo!" Laki-laki itu menendang mangkuk di bawahnya, mengisyaratkan Atlanta untuk segera membersihkan bekas tumpahan bakso, dengan mulutnya sndiri. Yang benar saja, itu sangat menjijikan.
Elisa masih memandangi pemandangan mengiris hati di depannya. Ia melihat Atlanta yang masih tertunduk, bahu laki-laki itu terlihat bergetar, seolah ia tengah menahan tangisan.
Di sisi lain, Jay hanya melihat dengan penuh kepuasan, tangannya kini meraih tangan terkepal Elisa, bermaksud membawa gadis itu untuk kembali duduk di sampingnya. Namun Elisa memilih menghempaskan tangan Jay, menatap Atlanta dengan napas yang berderu.
"Lo tuli, hah?! Gue bilang makan, sialan!" Laki-laki itu beralih berjongkok, kembali menoyor kepala Atlanta, lalu memaksanya untuk menunduk menggapai air bakso berwarna kemerahan dengan mulutnya.
Elisa semakin mengepalkan tangannya kuat-kuat, dadanya kian berdebar cepat.
"WOY!"
Dari arah gerbang kantin, dua orang laki-laki berlari ke arah kerumunan, netra orang-orang di sana tertuju pada keduanya.
Bugh!
Salah seorang laki-laki tinggi itu—Lucas—menerjang orang yang tengah memaksa Atlanta untuk menyentuh air kotor di lantai sampai terhunyung menabrak meja kantin.
"LO GILA, ANJING!" Teriak Lucas menggebu, menarik kerah seragam laki-laki itu lalu menghempaskannya kasar.
Mark segera membantu Atlanta untuk berdiri.
Elisa masih bertanya-tanya dengan kejadian yang baru saja dilihatnya. Mark dan Lucas? Bagaimana bisa kedua laki-laki itu membantu Atlanta? Bukannya dulu mereka adalah salah satu komplotan yang sering membully Atlanta?
"Elisa! Kenapa lo diem aja temen lo sendiri diperlakuin kaya gini?!" sahut Lucas yang kini sudah berdiri di depannya.
Gadis itu bungkam. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia sangat berat untuk membantu Atlanta. Apakah rasa kecewa masih membelenggu hatinya?
"Lo gak usah ikut campur, sialan." Itu Theo.
Lucas beralih menatap tajam Theo yang sudah berdiri dari duduk.
"Anjing, lo! Gue bisa maklum kalo lo yang diem aja liat yang kaya gini. Tapi sekarang ini bukan urusan lo, ini urusan Elisa!"
"Lo ngaca dulu, anjing! Bukannya lo juga yang sering bully si bisu?! Kenapa sekarang lo belain dia, hah?!"
Lucas tercekat, laki-laki itu mengatupkan rahang, terlihat urat-urat lehernya semakin kentara dan menegang.
"SIALAN!"
"STOP!" sahut Elisa, membuat kedua laki-laki yang hampir berperang itu terpaku.
"Lucas, Mark, gue gak ngerti kenapa kalian berdua tiba-tiba belain Atlanta. Tapi satu hal yang perlu kalian berdua tau." Elisa menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya, membuat atensi orang-orang di sana dipenuhi rasa penasaran. "Gue gak peduli sama Atlanta."
Lucas terperangah mendengarnya. Mark, laki-laki itu mendengus ketika kalimat omong kosong dari Elisa meluncur.
"Elisa!"
"APA! GUE BILANG GUE GAK PEDULI, MARK. GUE GAK PEDULI APAPUN YANG MENYANGKUT ATLANTA, PUAS LO!"
Atlanta memandang Elisa nanar, semburat kekecewaan terpancar di bola mata Elisa tatkala berkontak mata dengannya.
Elisa, maafkan aku. Aku sudah mengingkari janjiku. Tak apa kalau kamu marah, aku bisa memakluminya. Maafkan aku.
__ADS_1