Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
46. Is covering something


__ADS_3

"El? Kok sarapannya gak di makan?" ucap Vina tatkala melihat anaknya hanya mengaduk sayur sup bersama nasi tanpa berniat memakannya.


"Kamu sakit, hm?"


Elisa mengangkat kepala, kedua bola matanya menatap sang Mama dengan perasaan bersalah. Setelah memikirkan tentang diagnosa Dokter kemarin, meski memutar otak ribuan kali, namun gadis itu tetap tak menemukan jalan keluar perihal apakah ia harus memberi tahu semua kepada keluarganya atau tidak.


"Mah, Bang, kalo Elisa meninggal gimana?"


"Hus! Jangan ngomong gitu, gak baik," sahut Joni seketika.


"Iya, El. Lo jangan ngomong soal mati. Kaya mau pergi aja lo." Yunaka kembali menimpali, sama-sama menatap Elisa seperti Vina dan Joni.


Gadis itu menghela napas, kembali menundukkan kepalanya.


"Tapi semua manusia pasti bakal mati. Elisa cuma nanya aja kok."


"Mama pasti sangat sedih." Vina menjeda ucapannya, wanita itu meraih tangan Elisa, menggenggam tangan mungil anaknya yang masih tertunduk, entah apa yang sedang gadis itu pikirkan. "Bukan cuma Mama. Papa, Bang Joni, Bang Yunaka, temen-temen kamu, semuanya bakal sedih."


Elisa bungkam, ia memilih menatap tangan Vina yang masih setia mengelus punggung tangannya.


"Dari hasil pemeriksaan, kamu mengidap sakit, gagal ginjal stadium 4."


Ucapan Dokter kemarin selalu saja berputar dalam otaknya tanpa diperintah. Penyakitnya yang sudah memasuki stadium 4 tak pernah terbayangkan akan menerjang batin dan pikirannya begitu keras. Bagaimana jika nanti ia harus menjalani cuci darah, atau bagaimana nanti ia harus menjalani transplantasi ginjal jika organ dalamnya itu berhenti berfungsi, atau lebih mengerikkannya lagi bagaimana jika ia akan mati akibat penyakitnya itu.


"Kenapa? Ada masalah di sekolah?"


Gadis itu kembali mengangkat kepala, melihat satu per satu orang-orang yang tengah memandangnya. Suasana sarapan pagi itu tiba-tiba saja menjadi sangat hening, tak seorangpun luput dari pikiran carut-marut menebak maksud dari ucapan Elisa yang kelewat tak biasa.


Ia memilih untuk tersenyum, lalu menggelengkan kepala. Gadis itu tidak mau ucapannya tadi membuat Mama dan Kakak-kakaknya menjadi khawatir. Cukup dia saja yang menanggung semuanya sendiri.


"Gapapa. Tadi malem Elisa mimpi buruk, Elisa mimpi meninggal. Makanya sampe kepikiran, gimana kalo nanti Elisa meninggal," ucapnya seraya mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya sampai penuh.


"Konon katanya, kalo kita mimpi mati, itu artinya bakal panjang umur." Yunaka kembali menimpali. "Iya gak, Bang?"


Joni yang merasa terpanggil menolehkan pandangan. "Iyain aja." Laki-lakil itu lantas kembali dengan kegiatannya, menghabiskan sarapan yang nampak beberapa sendok lagi.


"Tapi, El. Dari pada lo duluan yang meninggal, mending gue dulu aja deh."


Elisa menautkan alis. "Kenapa?"


"Soalnya gue gak bisa idup tanpa lo. Jiaakh!" Serunya tertawa keras. Alhasil Elisa kembali dengan jurus andalannya, kepalan tangan di udara sembari melempar buah anggur yang tersedia di atas meja.


"Sialan lo, Bang."


Vina maupun Joni hanya mampu geleng-geleng kepala dan ikut tertawa ringan. Sudah menjadi kebiasaan rutin Elisa dan Yunaka saling melempar canda maupun umpatan.


"Oh ya, El. Piano pesenan kamu kayanya nanti sore dateng deh," ujar Joni tatkala melihat notifikasi dari ponselnya.


"Kok cepet banget nyampenya, Bang?"


"Iya dong. Abang pesen langsung ke pabriknya." Joni tersenyum bangga, lalu meneguk air dalam gelas bening tingginya.


"Gila! Lo beli piano? Buat apaan?" kata Yunaka, bahkan bola mata laki-laki itu membulat sempurna.


"Buat di jilat, di putar, terus di celupin." Elisa menatap datar Yunaka. "Ya buat latihan piano lah, Bang. Sekarang gue masuk ekskul musik, gue pengen belajar piano."


"Jangankan piano, main pianika aja lo masih belepotan, El. Gak inget lo waktu masih bocah?" Yunaka kembali terkekeh, sembari mengingat memori masa kecilnya itu.


"Enak aja lo, Bang. Gue bakal buktiin kalo gue bisa main piano," ucap gadis itu penuh keyakinan.


Mendengarnya, Vina hanya mampu menghempaskan napas pelan. Ia menatap lembut anak gadisnya, lalu berkata, "Mama dukung kamu, El. Yang penting kamu serius sama pilihan kamu. Jangan berhenti di tengah-tengah. Buat Mama, Papa, sama Abang-abang kamu bangga, ya."


Elisa mengangguk mantap, ia kembali memakan makanannya dengan lahap.


"Mah, hari ini 'kan libur, Elisa juga gak ada jadwal buat pemotretan, boleh gak Elisa main ke rumah temen? Rumahnya di komplek rumah kita yang dulu itu loh."


"Temen kamu yang mana? Jay?"


"Bukan, temen sekelas Elisa. Namanya Atlanta."


.......


.......


.......


Gadis itu masih berjalan menelusuri jalanan aspal komplek perumahannya dulu. Di bawah terik matahari, tak sedikitpun ia menyerah untuk mencari alamat rumah Atlanta yang dia sendiri tidak tahu di mana.


Sudah tak terhitung berapa banyak orang yang dia temui untuk menanyakan perihal di mana rumah Atlanta, dan anehnya tak satu pun dari orang-orang yang ia temui kenal atau bahkan tahu siapa itu Atlanta. Jangan-jangan laki-laki itu selalu mengurung diri sampai penghuni komplek tidak mengenalinya.


Sebelah tangan yang tadinya bertengger di pinggang, kini beralih merapat di atas dahi guna menutupi sinar matahari yang semakin menyengat.

__ADS_1


"Udah mau nyampe rumah Jay tapi kenapa belum nemu rumah Atlanta ya? Astaga, di mana sih rumahnya Atlanta," ujarnya seraya menghentakkan kakinya sebal. Bisa-bisanya ia mencari rumah orang tanpa tahu lebih jelasnya di mana, sendirian pula.


Elisa menghentikan langkahnya tatkala ia berdiri di depan pagar rumah Jay. "Kira-kira Jay udah pulang belum ya? Kalo udah pulang 'kan aku bisa minta tolong buat nyari rumah Atlanta."


Sejenak, ia memperhatikan rumah berlantai dua yang cukup besar di depannya. Masih tampak sama, tak berubah sedikitpun sejak ia memutuskan untuk pindah dulu.


"Bi Mirna?" Cicitnya ketika iris matanya menangkap sosok wanita berumur setengah abad tengah menenteng dua kantong kresek hitam besar yang sepertinya sampah untuk dibuang.


Senyumnya melebar, jelas ia tak pernah lupa dengan wanita itu. "BI MIRNA!"


Bi Mirna menoleh, pada seorang gadis yang tengah melambaikan tangan di depan pagar. Ia menyipitkan bola matanya guna melihat lebih jelas siapa gadis itu.


"Siapa?" Bi Mirna kembali melangkahkan kaki mendekati Elisa yang masih menyunggingkan senyum padanya.


"Bi, ini aku, Elisa!" sahut gadis di depan bermaksud menjawab kerutan kening Bi Mirna yang tiba-tiba saja tercetak.


"Astaga! Neng Elisa?!" Cepat-cepat Bi Mirna segera membuka pintu pagar. Wanita itu menatap tak percaya sosok anak gadis yang kini berdiri di depannya.


"Bibi apa kabar?" Tanya Elisa sembari tersenyum lembut.


Bi Mirna hanya mengangguk, masih memandang paras cantik Elisa sangat lamat, dan senyuman tipis kini terpatri di wajah wanita itu. Ia beralih menangkup pipi Elisa, bahkan raut wajah haru tergambar di sana.


"Ini beneran kamu, Neng Elisa?" Kedua bola mata Bi Mirna berubah berkaca-kaca. Praktis membuat Elisa bertanya-tanya, ada apa dengan wanita itu?


"Iya Bi, ini Elisa."


Bi Mirna terisak, rupanya wanita itu tak mampu membendung lagi air mata yang ingin segera dilepaskan dari tempat persembunyiannya.


"Bi? Bibi kenapa? Kok Bibi nangis? Elisa punya salah ya sama Bibi?" ujar Elisa panik.


Ia menggelengkan kepala, menyangkal ucapan Elisa kala itu. Ia kembali melebarkan senyumnya, meyakinkan gadis di depan bahwa ia baik-baik saja.


"Kamu udah besar, cantik. Dan ternyata kamu semakin mirip sama kenalan Bibi?"


"Oh ya? Emangnya siapa, Bi?"


Atlanta pasti senang kalau ketemu sama Elisa.


Ya Tuhan, bahkan tak ada yang berbeda antara Elisa dan Hani. Ia yakin, Atlanta akan sangat bahagia bertemu orang yang sangat mirip dengan Bundanya.


"Bi? Bibi kok bengong?"


Elisa mengangguk antusias, gadis itu sama-sama mengayunkan kaki bersama dengan Bi Mirna yang menuntunnya masuk ke dalam rumah.


"Pak! Ada yang mau ketemu sama Bapak!" sahut Bi Mirna memanggil Rudi yang belum terlihat batang hidungnya.


Tak lama, Rudi keluar dari dalam kamarnya dengan setelan baju santai. Ia memijat pelipisnya karena rasa pusing dengan pandangan tertunduk.


"Siapa, Bi?"


"Neng Elisa. Temen Jay waktu kecil, Pak."


Pria itu lantas mengangkat kepala, melihat sendiri orang yang disebutkan Bi Mirna. Tak disangka, mimik wajah terkejut tercetak di wajah lelah pria itu. Ia memilih berjalan cepat mendekati Elisa yang memberi senyuman ramah padanya.


"Elisa?"


"Iya, Yah. Ini Elisa. Ayah lupa sama Elisa?"


Rudi segera memeluk Elisa erat. Seketika, bola matanya memanas, ia berusaha mati-matian menahan agar air mata itu tak keluar.


Hani, akhirnya kamu pulang.


"Elisa kangen sama Ayah." Kata gadis itu seraya membalas pelukan hangat pria yang sudah ia anggap seperti Ayah sendiri.


Rudi mengangguk. "Ayah juga kangen sama kamu, Nak." Pria itu melepaskan pelukannya, lalu berkata lagi, "Gimana kabar kamu? Sehat?"


"Elisa sehat kok, Yah. Ini, coba Ayah liat." Gadis itu merentangkan kedua tangannya, memberi tahu Rudi bahwa dia amat baik.


Pria di sana terkekeh, mengusak rambut hitam Elisa gemas. Baginya, Elisa tetap seperti anak gadis kecil.


"Oh ya, Bi. Tolong buatkan Elisa jus mangga, ya. Jangan terlalu manis. Terus jangan lupa, sekalian cemilannya," ujar Rudi yang diberi anggukan Bi Mirna. Wanita itu beralih meninggalkan ruang tengah menuju dapur.


"Ayah masih inget aja Elisa suka jus mangga."


"Iya dong, Ayah gak bakal lupa. Kamu 'kan anak perempuan kesayangan Ayah."


Keduanya sama-sama tertawa ringan. "Sini El, duduk dulu. Katanya Jay sebentar lagi pulang."


Gadis itu nurut, ia mendaratkan bokongnya di sofa empuk, duduk di samping Rudi. Elisa segera mengedarkan pandangan ke setiap penjuru ruangan seperti mencari sesuatu.


"Ibu ke mana, Yah? Kok gak keliatan?"

__ADS_1


Pria itu menghela napas sebelum menjawab. "Hana lagi pergi ke Bogor. Biasalah hangout sama temen-temen arisannya."


Elisa mengangguk, mengulum bibir. Tapi ia sedikit lega, pasalnya wanita yang berstatus istri dari Rudi itu nampak selalu memberikan tatapan datar padanya sejak dulu, ia masih ingat itu, dan entah apa penyebab wanita itu seolah tak menyukainya.


"El ... Terus gimana kabar Papa kamu, Mama sama Abang-Abang kamu?"


"Semuanya baik kok, Yah. Kebetulan Papa lagi ada urusan bisnis di Kalimantan. Kapan-kapan Ayah main ke rumah baru Elisa, gak jauh kok, rumah Elisa di perumahan Asri nomor 127."


"Iya, pasti, pasti nanti Ayah sama Jay main ke rumah kamu, ya."


"AYAH! IBU! JAY PULANG!"


Keduanya kompak menoleh ke sumber suara. Laki-laki tampan itu memasuki rumah dengan langkah cepat. Elisa segera menegakkan badannya, berdiri.


"ELISA?!" Sontak Jay berlari menghampiri Elisa ketika penglihatannya menangkap sosok gadis yang tengah menarik kedua sudut bibir.


"Jay! Kamu berhasil menang?" sahut Elisa ketika melihat medali menggantung di leher Jay, serta piala besar yang laki-laki itu genggam.


"Iya El, aku berhasil jadi juara!"


"Kamu hebat Jay! Aku bangga sama kamu!" Elisa memeluk Jay penuh rasa bahagia.


"Jay, selamat ya, kamu anak Ayah yang paling hebat," ucap Rudi seraya menepuk pundak kokoh Jay begitu bangga. "Kalo gitu Ayah lanjut kerja lagi. Besok Ayah ada meeting."


Jay maupun Elisa membalas ucapan Rudi dengan anggukan. Mereka sangat paham dengan kesibukan Ayahnya sebagai Manager perusahaan. Selepas Rudi menghilang dari pandangan mereka, pun Bi Mirna yang menyajikan jus mangga bersama cemilan di atas meja.


"El, aku bersih-bersih dulu, ya. Abis ini kita makan siang bareng, oke?"


Elisa mengangguk, lalu menjawab, "Iya Jay. Aku ke sini juga sekalian mau minta bantuan kamu."


"Bantuan apa, hm?"


"Kamu mandi dulu sana. Nanti aku kasih tau."


Laki-laki itu tersenyum lembut, mengusap puncak kepala Elisa sebelum dirinya berbalik badan pergi ke kamarnya di lantai dua. Elisa kembali mendudukkan diri di sofa, meminum jus mangga buatan Bi Mirna yang menjadi favoritnya sejak masih kecil.


Cklek ... cklek


Elisa menengadahkan kepala ketika mendengar suara pintu yang baru saja dibuka lalu ditutup kembali. Apa itu Jay? Apa laki-laki itu sudah selesai dengan acara mandinya? Padahal baru beberapa menit yang lalu. Ia masih terdiam, siapa tau itu benar Jay.


Cklek


Suara itu terdengar lagi. Elisa segera beranjak dari duduk. Tungkainya mengajak gadis itu untuk menghampiri asal suara. Perlahan, Elisa mulai menaiki anak tangga menuju lantai dua. Namun, yang ia lihat adalah pintu kamar Jay yang tertutup rapat, ia menghempaskan napas berat.


Klek


Sontak ia menoleh dengan cepat tatkala mendengar pintu yang baru saja tertutup. Tepat di ruangan yang bersebelahan dengan kamar Jay. Rasa penasaran kian menyelimuti batinnya. Ia kembali melangkahkan kaki, lebih mendekat dengan pintu yang berhasil menarik perhatiannya.


Jika di dalam ada orang, lantas siapa orang itu? Mengingat di rumah hanya ada Jay, Rudi dan Bi Mirna yang ia tahu sedang ada di dapur.


Sejenak, ia hanya terdiam di depan pintu itu. Apa yang harus ia lakukan? Gadis itu beralih merapatkan telinganya di daun pintu. Hening. Lalu tangan rampingnya mencoba meraih knop pintu.


"Elisa?"


Ia terlonjak, mengalihkan pandangan ke belakang yang menampakkan seorang laki-laki tinggi berdiri dengan rambut yang terlihat masih basah.


"Kamu ngapain di sini?"


"Tadi aku liat pintu ini buka tutup sendiri. Emang ada orang ya di dalem?"


Jay memandang Elisa cukup datar. Laki-laki itu bungkam, mengatupkan rahang.


"Siapa Jay?"


"Bukan siapa-siapa. Itu sodara Bi Mirna yang lagi nginep di sini."


Elisa hanya mengulum bibir. Mencerna ucapan Jay yang mungkin ada benarnya.


"Oh ya, Jay. Aku tadi 'kan bilang, aku lagi butuh bantuan kamu?" Jay mengangguk, Elisa berkata lagi, "Aku butuh bantuan kamu buat nyari rumah Atlanta. Katanya rumahnya di komplek ini, tapi sampe sekarang aku belum nemu rumahnya. Kamu mau bantu aku nyari 'kan? Soalnya aku khawatir, dia lagi sakit, aku pengen jenguk."


"Aku gak tau." Jawab Jay seketika, praktis membuat Elisa menautkan alis.


"Ya kita sama-sama cari, Jay, siapa tau—"


"Aku bilang aku gak tau, Elisa! Dan aku gak mau!" Sentaknya. Laki-laki itu memilih berbalik badan, menuruni anak tangga ke bawah dengan terburu-buru.


Mau tidak mau Elisa ikut menyusul Jay, meski ia masih terkejut dengan ucapan Jay tadi. Gadis itu segera mencekal lengan Jay sampai keduanya sama-sama saling berhadapan.


"Jay, tapi Atlanta temen aku. Masa kamu gak mau bantu aku buat sekedar nyari rumah dia sih."


"Aku gak peduli Elisa. Jangan buang-buang waktu kamu buat nyari dia sedangkan kamu sendiri gak tau dia di mana. Gak usah lebay, besok juga pasti masuk sekolah."

__ADS_1


__ADS_2