
Nadin tercekat tatkala Elisa tiba-tiba menumpahkan makan siang Atlanta yang sudah dicampuri cola hasil kerjaannya di atas kepala. Ia merasakan cairan kehitaman itu menetes melewati rambut sampai wajahnya, pun nasi yang sengaja ditumpahkan itu berjatuhan bersama cairan cola.
Semua orang yang kala itu menyaksikan tindakan Elisa hanya mampu membelalakan mata tak percaya sekaligus terkejut.
"Heh! Lo apa-apaan sih!" Seru Linda yang tidak lain sahabat dekat Nadin. Gadis itu hendak mendekati Elisa, namun pergerakannya terhenti ketika Elisa mengacungkan jari telunjuk ke arahnya.
"Diem lo!" Sahutnya dengan nada cukup tinggi, praktis Linda membeku di tempat.
Pandangan gadis itu kini menoleh ke arah Nadin yang sudah menatapnya tajam, tengah membersihkan butiran nasi di atas kepalanya dibantu oleh Nina dengan gerakan jijik.
"Belum puas nyari masalah sama gue, hah!"
Nadin menggertakkan gigi. "Gue gak nyari masalah sama lo, sialan!"
"Lo nyari masalah sama Atlanta itu artinya lo berani nyari masalah sama gue!"
Nadin mendengus, merotasikan bola mata, ia turun dari meja, berjalan mendekati Elisa. Tangannya bergerak menoyor kepala Elisa yang masih menatapnya penuh amarah.
"Lo siapanya si bisu, hah?" ucapnya masih dengan menoyor kepala gadis di depan.
Elisa masih terdiam dengan Nadin yang berulang kali menoyor kepalanya, kedua tangannya yang menggantung di samping badan ikut mengerat, mengepal, dan mungkin bisa melayang kapan saja.
"Dari dulu dia mainan gue. Dan gue berhak ngelakuin apa aja sama si bisu," ujar Nadin sedikit berbisik disertai seringaian.
Elisa menggeram dengan sorot mata tajam, laki-laki yang masih terdiam tak tahu harus berbuat apa, akhirnya beralih meraih tangan mengepal Elisa yang sudah bergetar. Namun, gadis itu tak mengindahkan sentuhan lembut di tangannya, ia memilih menghempaskannya kasar, dan tanpa aba-aba ia menjambak rambut Nadin yang cukup berantakan itu.
"ANJING!"
Ia semakin mengeratkan jambakan di rambut Nadin, sampai gadis itu meringis dan berteriak karena tarikan paksa Elisa yang berhasil membuat helaian rambutnya tercabut.
"LO SETAN, SIALAN! BERANINYA LO BILANG KALO ATLANTA MAINAN LO!"
"AKH! LEPASIN GUE ANJING!" Nadin terus memberontak, tapi Elisa hanya menulikan telinganya dengan rintihan Nadin.
"Elisa, sialan! Lepasin Nadin gak lo!" Nina sudah mewanti-wanti dengan jari telunjuknya yang mengacung.
Bugh!
Tak tinggal diam, Elisa segera menendang perut Nina sebelum gadis itu mendekat ke arahnya, alhasil ia terjungkal ke belakang, untung saja Linda dengan sigap menarik tangan sahabatnya sebelum Nina terbentur ke meja.
Merasa keadaan semakin memanas, Nadin berusaha keras untuk membalas Elisa yang masih menjambaknya kasar.
"Lo harus dikasih pelajaran!"
"AKH!" Kali ini Elisa yang meringis akibat tarikan tangan Nadin di rambut panjangnya yang tergerai. Sungguh, itu sangat menyakitkan.
Akhirnya dua siswi yang tengah bergelut saling tarik menarik rambut itu tak terelakkan. Semua pasang mata masih berdiri mematung, bingung harus berbuat apa untuk memisahkan keduanya yang semakin membrutal. Kalimat umpatan pun terngiang memenuhi isi kantin.
Di sisi lain, Atlanta semakin gelisah dengan perkelahian antara Elisa dan Nadin, bagaimanapun semua yang terjadi kala itu tak lain dan tidak bukan adalah karena Elisa yang membelanya dari tindakan bully Nadin yang rutin dilakukan padanya.
Atlanta memilih melepaskan cengkeraman tangan Nadin di rambut Elisa, meski dengan sekuat tenaga ia mencoba tapi laki-laki itu tak mampu melepaskan tangan Nadin, malah semakin ia berusaha melepaskan, akibatnya kepala Elisa yang ikut tertarik semakin keras, ia tak mau gadisnya terluka.
"AKH! LO MAUNYA APA SIH, SETAN! LAWAN GUE, JANGAN ATLANTA!"
"GAK USAH IKUT CAMPUR URUSAN GUE!"
"URUSAN ATLANTA, URUSAN GUE JUGA!"
Entah sudah berapa lama kedua siswi itu saling memperebutkan posisi pemenang, dan mengerahkan segenggam tenaga berupaya untuk mengalahkan sang lawan. Nadin maupun Elisa sama-sama tak mau kalah, jika dilihat penampilan keduanya sudah sangat berantakan, namun hal itu tak meluluhkan amarah yang membuncah di antara keduanya.
"ELISA, SIALAN! KENAPA LO GAK MATI AJA KEMAREN!"
"AKH! LO PENGEN GUE MATI, HAH?! GUE YANG BAKAL BIKIN LO BERPULANG LEBIH DULU, SETAN!"
"AKH! LEPASIN GUE!"
__ADS_1
"STOP!"
Suara yang nyaris sangat lantang dan mampu membuat semua orang di sana terpekik menutup telinga, terkecuali Nadin dan Elisa yang masih saling menjambak rambut. Penghuni kantin sontak memundurkan langkah, memberi ruang luas pada dua laki-laki yang baru saja mendatangi kerumunan.
"SIALAN! MATI LO ELISA!"
"NADIN! ELISA! STOP!"
Laki-laki berpenampilan urakan itu melangkah lebar mendekati keduanya. Dengan sekali gerakan ia mampu melepaskan cengkeraman tangan Elisa dan Nadin.
"THEO! LO GAK USAH IKUT CAMPUR! INI URUSAN GUE SAMA CEWE MURAHAN INI!" sahut Nadin yang menunjuk Elisa tajam.
Plak!
Elisa menampar Nadin cukup keras, sampai gadis itu menoleh ke samping dan memegangi pipinya yang terasa panas.
"Lo bilang apa, huh?! Cewe murahan?! Sialan!"
Baru saja ia hendak menerjang Nadin, sebuah tangan tiba-tiba menarik pundaknya, membawa gadis itu ke dalam pelukan laki-laki yang tengah mengatupkan rahang.
"Jay, lepasin gue! Lo gak denger tadi dia bilang gue apa, huh!" Elisa memberontak, mencoba meloloskan diri dari dekapan Jay.
"NADIN! UDAH GUE BILANG JANGAN PERNAH NYARI MASALAH LAGI SAMA ELISA!" Sentak Theo.
Hening, tak ada satu orangpun yang berani angkat bicara tatkala laki-laki yang paling disegani satu sekolah meninggikan nada suaranya.
"Asal lo tau, gue gak nyari masalah sama dia! Gue cuma mau main-main sama si bisu itu!"
"Anjing! Jangan sebut Atlanta mainan! Dia bukan mainan!" Sahut Elisa yang kembali tersulut amarah.
"Elisa ... Elisa, udah kamu tenang dulu," ucap Jay sembari merapikan helaian rambut Elisa yang berantakan menutupi sebagian wajah gadis itu.
"Aku gak bisa tenang, Jay! Dia udah keterlaluan!"
"NADIN! TUTUP MULUT LO!"
Gadis itu mendengus karena Theo lagi-lagi membentaknya. Tangannya beralih merapikan dan menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.
"Oh! Jadi sekarang lo lebih belain si bisu itu, iya!"
"Gue gak belain si bisu, sialan!"
"Terus apa! Dulu lo sendiri yang suka bully dia! Kenapa gue gak boleh, hah!"
Theo mengatupkan rahang, tangannya mengepal seketika.
"Nadin!"
"Kamu juga Jay!" Gadis itu beralih menoleh pada Jay, masih sama dengan tatapan tajamnya seperti yang ia tampilkan pada Theo. "Aku tau kamu benci sama si bisu! Tapi kenapa kamu ikut belain dia?!"
"Gue gak belain dia! Tapi karena lo nyeret Elisa ke dalam permainan lo, gue gak bakal tinggal diem!"
Sekali lagi Nadin mendengus, ia menghela napas. "Cih. Asal lo berdua tau, cewe ini yang bakal terus-terusan belain si bisu, itu artinya dia sendiri yang nyerahin diri buat bermasalah sama gue! Kalo lo berdua belain Elisa, secara gak langsung kalian juga belain si bisu, SIALAN!"
Theo dan Jay hanya mampu terdiam. Ucapan Nadin ada benarnya, selama Elisa masih ada di samping Atlanta, laki-laki itu akan selalu mendapat pembelaan. Tidak seperti dulu, Atlanta sama sekali tak punya uluran tangan dari siapapun, ia tak mampu melawan tindakan bully dari orang-orang yang ingin bermain-main dengannya. Tapi sekarang? Ada Elisa yang akan menghalangi jalan kesenangan para pembully itu.
Elisa memilih tak peduli dengan ocehan Nadin, dan gadis itu berhasil melepaskan diri dari Jay. Selanjutnya ia menyeret tangan Atlanta untuk segera pergi dari kantin.
"Elisa! Tunggu!"
Gadis itu tidak mengindahkan sahutan Jay yang terus meneriaki namanya. Ia berjalan lebar membawa Atlanta ke taman sekolah, karena ia pikir itu adalah tempat yang tepat untuk menenangkan deru napas miliknya yang menggebu akibat pertengkaran hebat dengan Nadin.
"Atlanta, kamu gapapa 'kan? Kamu diapain sama cewe uler itu, hm?" ucapnya tatkala menginjakkan kaki di rumput hijau taman. Gadis itu meraba permukaan kulit wajah Atlanta, bahu, sampai kedua tangan dengan pandangan khawatir, takut jika Atlanta mendapat serangan fisik dari Nadin.
"Aku gapapa. Harusnya aku yang nanya, kamu gapapa? Aku takut sekali waktu kamu bertengkar."
__ADS_1
Elisa menghempaskan napas pelan, mendongak menatap obsidian bening milik Atlanta. "Kepala aku sakit, Ta." Adunya.
Tangan kanan laki-laki itu bergerak, mengusap puncak kepala Elisa, merapikan rambut Elisa yang masih terlihat sedikit tak beraturan.
"Kamu jangan galak-galak. Aku takut. Lain kali kamu gak perlu belain aku, ya."
"Atlanta, aku gak bisa liat kamu diperlakukan seenaknya. Kamu juga manusia, Ta. Mereka itu udah keterlaluan. Pokoknya aku gak bakal biarin siapapun ganggu kamu lagi."
"Tapi—"
"ELISA!" segera gadis itu menoleh ke arah belakang, di mana Jay dan Theo tengah berlari menghampirinya.
Bugh!
"ATLANTA!"
Tiba-tiba Jay memberi bogeman mentah di pipi Atlanta, dan berhasil membuat laki-laki itu jatuh tersungkur. Langsung saja Elisa membulatkan bola mata, dan memilih membantu Atlanta yang meringis akibat terkejut akan pukulan keras dari Jay.
Elisa mendongak. "Jay! Kamu apa-apaan sih?! Kenapa kamu pukul Atlanta!"
"Karena dia yang udah bikin kamu berantem sama Nadin! Kamu tau, aku khawatir sama kamu."
"Harusnya kamu belain Atlanta, bukan aku! Di sini Atlanta yang jadi korban! Harusnya kamu lebih peduli sama Atlanta."
"Huh! Ngapain aku peduli, dia gak perlu dikasihani! Dia itu anak ha—"
"Jay! Stop! Kalo kamu gak bisa bantu Atlanta, setidaknya kamu jangan hina dia, sialan!"
Setelah mengatakan sebuah kalimat yang mampu membuat Jay membeku, Elisa beralih membantu Atlanta untuk berdiri. Dia benar-benar sangat marah dengan orang-orang.
Theo yang sejak tadi hanya menjadi penonton, kini merangsek kerah seragam Jay ketika melihat bibir pucat milik Elisa. Pikirannya tentang bayangan seorang gadis yang terkapar lemah kemarin berhasil menyita kesabarannya.
"Ini semua juga salah lo, anjing!" Serunya yang dibalas kerutan kening dari Jay.
"Lo apaan sih, hah! Lepas!"
"Elisa masuk rumah sakit itu semua gara-gara lo!"
Laki-laki pemilik lesung pipit di sana semakin menatap Theo jengah. Apa yang dimaksud sahabatnya itu?
"Kenapa gue yang disalahin, sialan!"
"Itu karena lo pacaran sama Elisa! Dan mantan lo, si Nadin, pengen rebut lo buat balik sama dia lagi, makanya dia celakain Elisa. ITU SEMUA GARA-GARA LO, ANJING! LO HARUSNYA SADAR!"
Theo menghempaskan cengkeramannya, sebenarnya ia ingin sekali memberi sebuah pukulan di wajah tampan milik Jay, namun entah kenapa tangannya mendadak sangat sulit melakukan itu. Theo kembali menetralkan napasnya yang menggebu.
Elisa yang ketika namanya disebut dalam kalimat panjang Theo hanya mampu menghela napas. Apakah benar alasan Nadin ingin menghabisinya seperti kemarin adalah semata-mata gadis itu cemburu dengan berita kencannya dengan Jay.
Astaga. Ia benar-benar harus meluruskan sebuah kebenaran kali ini.
"Theo. Kayanya gue harus lurusin masalah ini." Elisa menjeda ucapannya, ia menatap Theo dan Jay bergantian. "Sebenernya, gue sama Jay, kita gak ada hubungan apa-apa. Kita cuma pacaran pura-pura. Karena awalnya gue kira masalahnya gak bakal serumit ini, gue kira dengan gue jadi pacar pura-pura Jay, Nadin bakal jauhin Jay, tapi ternyata banyak kesalahpahaman karena hal ini, dan gue jadi korbannya," ucapnya tersenyum getir.
"Elisa...."
"Jay, kita gak bisa terus-terusan bohong."
Selanjutnya, Elisa memilih pergi dari taman, meninggalkan seribu ungkapan yang ingin Jay ucapkan, pun Atlanta yang menyesuaikan langkah kaki ketika Elisa membawanya untuk sama-sama pergi.
Jay hanya menatap punggung Elisa bersama Atlanta yang kian menjauh. Dengan tangan yang masih terkepal, ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa.
"Lo tau artinya apa?" ucap Theo tiba-tiba.
"Elisa lebih milih si bisu dari pada lo." Bisiknya.
Ini kesempatan gue buat dapetin Elisa.
__ADS_1