
Di depan cermin, Elisa masih terduduk memandangi pantulan wajahnya di sana. Perlahan, ia memberi sedikit polesan bedak tabur di seluruh area wajah polos tanpa sentuhan makeup. Tentunya dengan banyak pikiran yang menumpuk di dalam kepalanya. Ya, apalagi jika bukan ucapan Pratama kemarin, dan ternyata Papanya itu pulang lebih cepat subuh tadi.
Tok ... tok
Cklek
"El ... Papa boleh masuk?"
Gadis di sana menghempaskan napas berat, ia beralih mengaplikasikan liptint di bibirnya. Tak sedikitpun ia menoleh ke arah Pratama yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Masuk aja, Pa."
Setelah mendapat persetujuan dari sang putri, Pratama masuk ke dalam kamar Elisa, pria itu sedikit menampilkan senyum tipis sebelum terduduk di atas pinggiran ranjang anaknya.
"Hari ini Papa mau langsung berangkat ke Perancis." Kata Pratama bersuara.
Namun Elisa hanya membalasnya dengan suara deheman. Gadis itu memilih mengambil sisir, merapikan rambut panjangnya, lalu mengikatnya. Melihat anaknya yang nampak tak berselera sekedar menjawab ucapannya, pria itu hanya mampu menghela napas.
"Kamu masih mikirin ucapan Papa kemarin di telpon, ya?"
Hening, lagi-lagi Elisa tak angkat suara, entahlah ia merasa mulutnya seperti terkunci rapat. Jika boleh jujur, ucapan Pratama memang benar adanya. Tentu saja gadis itu selalu memikirkan keputusan Pratama yang ia yakin tak dapat di ganggu gugat. Pria itu selalu mengambil keputusan sepihak, tanpa persetujuan dari Elisa ataupun mendengar sebuah alasan dari anaknya.
"Papa cuma mau yang terbaik buat kamu, Elisa. Kamu anak perempuan Papa satu-satunya. Papa gak mau kamu terbawa pergaulan yang kurang baik." Pria itu menjeda perkataannya, ia beralih lebih menatap Elisa di depannya.
"Ini permintaan Papa untuk terakhir kalinya. Setelah kamu lulus dari sekolah model di London itu, kamu bebas pilih Universitas di mana aja. Mau di Indonesia, atau di luar negeri, Papa gak akan halangi kamu lagi. Papa juga udah liat lingkungan di sana baik untuk karir kamu. Papa bakal bangga kalau kamu sukses di dunia model, Elisa."
Gadis itu mengepalkan tangannya. Ia selalu berpikir, apakah Pratama pernah memikirkan perasaannya atau tidak? Apakah ia pernah mengerti kata tidak yang keluar dari mulutnya? Ia rasa tidak. Apapun keinginan pria itu, akan selalu terlaksana apapun yang terjadi.
"Kenapa Elisa harus nurut sama kemauan Papa?"
Mendengar sebuah pertanyaan dari Elisa, pria itu tersenyum. "Karena apapun keputusan Papa, itu adalah yang terbaik untuk kamu. Papa gak mungkin ngambil keputusan tanpa memikirkan hal positif, Elisa."
Elisa mendengus, apakah ia tak salah dengar? Yang terbaik katanya? Ia berbalik badan, membalas tatapan Pratama.
"Emang Papa pernah rasain hal baik apa dari Elisa? Apa Papa pernah liat Elisa suka sama keputusan Papa? Apa Papa pernah liat Elisa selalu baik-baik aja? Elisa cape, Pa. Udah cukup Elisa nurut sama Papa sejak kecil. Elisa juga punya keinginan sendiri, Elisa punya jalan hidup sendiri."
Sekali lagi Pratama hanya melebarkan senyum pada Elisa. Seperti tak peduli dengan sebuah kalimat panjang lebar yang di mana terdengar jerit hati anaknya tergambar di sana. Pria itu beralih beranjak, mengusap puncak kepala Elisa beraturan.
"Elisa sayang, selagi kamu masih anak Papa, kamu harus tetap nurut sama Papa. Suatu hari, kamu pasti akan ngerti kenapa Papa begini sama kamu." Pratama mengecup kepala anaknya beberapa saat.
"Jangan lupa, obat yang Papa kasih di minum lagi, ya."
Selepas itu, Pratama lekas pergi dari kamar Elisa. Meninggalkan anaknya dengan banyak luka di dalam relung raga. Gadis itu semakin mengepalkan tangan, rahangnya mengatup, pun dadanya yang naik turun seiring napas yang menggebu.
Kenapa lagi-lagi dia yang selalu menjadi objek Pratama untuk melampiaskan segala keinginan pria itu. Kenapa dia tidak bisa hidup sesuai dengan jati dirinya. Kapan Pratama mengerti dengan semua beban berat yang selalu dipikulkan di pundak gadis itu. Atau mungkinkah segalanya akan berubah jika Elisa mengatakan bahwa ia tengah sakit pada Pratama?
Tidak, itu tidak mungkin. Jika ia berkata jujur akan kesehatannya, Mama dan Kakak-kakaknya pasti sangat khawatir dan sedih. Ia tidak bisa melihat Vina menangis karena memikirkan keadaannya yang memburuk.
Elisa beranjak dari duduknya, membuka laci nakas dan mengambil beberapa obat di dalam. Menelan lima butir sekaligus bersamaan dengan air bening mengalir melewati kerongkongannya. Ia mengatur napas, menahan air mata yang mungkin akan segera mengalir dari pelupuk.
Cepat-cepat Elisa mengambil tas ransel, segera keluar dari kamar dengan langkah lebar.
"El, sini sarapan dulu," ucap Vina tatkala melihat anaknya yang sudah menuruni anak tangga.
"Elisa buru-buru, ada piket pagi." Alibinya.
Tanpa mengalihkan pandangan ke arah keluarganya yang sudah siap untuk sarapan pagi, Elisa tetap melangkahkan kaki ke luar dari rumah. Ia tak peduli sekalipun ia harus berjalan kaki ke depan komplek untuk mencari angkutan umum.
Tid ... tid
Baru setengah jalan, tiba-tiba sebuah motor sport dengan seenaknya menghalangi jalannya, praktis membuat gadis itu mendengus. Ya, dia Yunaka.
"El!"
Laki-laki itu melepas helm full face, menghampiri Elisa yang sudah melipat tangan.
"Apaan?!"
"Berangkat bareng gue yok!" ucapnya seraya tersenyum lebar.
"Ogah! Gue bisa naek angkot di depan."
Yunaka segera mencekal lengan Elisa ketika gadis itu hendak pergi.
"Ini amanah dari Mama. Gue di suruh buat nganterin lo ke sekolah. Soalnya Bang Joni mau anter Papa ke Bandara."
__ADS_1
Elisa berdecak, ia menatap malas laki-laki di depannya, lalu berkata, "Bang, plis, gue masih sayang nyawa. Gue gak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan lagi kaya waktu itu kalo gue boncengan sama lo."
"Sumpah El! Sekarang gue bakal lemah lembut jalanin motornya, gak bakal ngebut-ngebut. Suer!" ujarnya sembari mengacungkan jari berbentuk huruf V.
Beberapa saat Elisa nampak kembali berpikir.
"Awas ya kalo gue kecelakaan gara-gara lo, gue bakalan gentayangin lo seumur hidup lo, Bang!" Ancamnya.
Yunaka hanya ngangguk-ngangguk, ia beralih menaiki motornya lagi. Laki-laki itu segera menjalankan motor dengan kecepatan sedang, tak ingin memulai debat dengan sang adik, karena ia tahu suasana hati Elisa memang sedang tidak baik-baik saja.
Ia tak sengaja mendengar percakapan Elisa dan Pratama tadi. Dan alasannya mengatakan bahwa ia diberi amanah oleh Vina adalah sebuah kebohongan saja.
"El, mampir dulu ke toko roti, ya. Gue belom sarapan," ucapnya ketika beralih memarkirkan motor di depan toko roti langganan Vina di depan komplek.
Elisa hanya mengangguk, turun dari motor dan menunggu Yunaka membeli roti. Ia beralih menghela napas, menghempaskannya pelan sampai membuat kepulan uap hangat di udara. Elisa merogoh ponselnya ketika merasakan getaran di sakunya, membuka pesan chat dari Atlanta, praktis membuat senyumnya kembali mengembang tatkala membaca pesan singkat dari laki-laki itu.
"Heh! Ngapain senyum-senyum sendiri kaya orang gila!"
Gadis itu terkesiap, ia segera memasukkan lagi ponselnya. Menatap tajam Yunaka yang tiba-tiba saja sudah berdiri menjulang di depannya.
"Dasar manusia kepo!"
"Kepo is care." Laki-laki itu mengulurkan satu bungkus roti pada Elisa. "Nih, roti keju."
"Gak mau."
Yunaka segera membalikkan badan Elisa, ia membuka retsleting tas ransel adiknya, dan memasukkan roti itu ke dalam.
"Gue tau lo sebenernya laper 'kan. Gue juga liat kemaren lo makan dikit, dan gue gak mau lo sakit gara-gara telat makan."
Elisa bungkam, Yunaka memang selalu memperhatikan hal kecil akan dirinya.
"Malah bengong. Ayo! Berangkat. Gue ada kelas pagi."
.......
.......
.......
"Woy cewe murahan!"
Gadis itu tetap berjalan ke depan, tanpa mempedulikan sahutan seorang perempuan dari arah belakang. Hingga sebuah tangan mencekal lengannya sampai gadis itu berbalik badan dan roti yang sejak tadi di genggamannya terhempas begitu saja.
"EH! LO APAAN SIH! TUH LIAT ROTI GUE JATOH!"
Gadis berambut sebahu itu—Nadin—hanya menyunggingkan bibir mendengarnya. Gadis itu semakin mencengkeram erat pergelangan tangan Elisa.
"Lo budeg tadi gue manggil lo?!"
"Emang lo manggil gue?" ujar Elisa dengan raut wajah polos.
"Iyalah, sialan!"
"Kok gue gak denger lo manggil nama gue ya?"
Nadin merotasikan bola mata. "Karena gue manggil lo cewe murahan."
Elisa menaikkan kedua alis. "Oh, pantes aja. Karena gue gak ngerasa kaya cewe murahan, hehe."
"Gak usah banyak bacot lo! Ikut gue sekarang!" Nadin menyeret tangan Elisa, cengkeraman tangannya memang cukup kuat kala itu.
Elisa mencoba melepaskan cengkeraman tangan Nadin, namun seberapa keras ia mencoba, nampaknya gadis itu tak cukup bertenaga. Entah, ia merasa badannya akhir-akhir ini sangat lemas.
"Lepasin gue, sialan!"
"Diem! Gue mau kasih lo pelajaran!"
Nadin semakin leluasa ketika menyadari bahwa Elisa tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi kala itu sekolah masih cukup sepi, dan hanya ada segelintir orang yang baru datang ke sekolah.
Gadis yang pernah menjadi pacar seorang laki-laki bernama Jay itu membawa Elisa ke gudang belakang sekolah. Ya, markas kebesarannya. Terlihat di sana sudah ada Linda dan Nina menunggu kedatangannya.
Bruk!
Nadin mendorong Elisa sampai gadis itu jatuh tersungkur di ubin kotor gudang.
__ADS_1
"Akh!" Elisa meringis memegangi sikutnya yang terbentur, menengadahkan kepala ke atas menatap Nadin yang sudah tersenyum evil padanya.
"Maksud lo apa, huh?!"
Nadin berjongkok di depan Elisa. Gadis itu segera menjambak rambut panjang Elisa yang terikat.
"Lo udah rebut Jay dari gue! Dan gue gak bakal biarin lo bertahan lebih lama lagi di sekolah ini!"
"Akh! Lepas!" Elisa berusaha melepaskan jambakkan tangan Nadin.
Dengan sekali dorongan, Nadin menghempaskan jambakkan dengan sangat keras, sampai Elisa lagi-lagi harus merasakan sakit di tubuhnya.
Tak tinggal diam, Linda dan Nina segera bekerja setelah melihat kode dari Nadin. Kedua gadis itu menyeret tubuh lemah Elisa secara paksa untuk duduk di kursi. Merasa tidak ada perlawanan dari Elisa, Nina mengambil tali tambang yang sudah mereka siapkan, melilit kedua tangan Elisa di belakang agar gadis itu tak bisa berbuat apa-apa.
Di sisi lain, Elisa benar-benar sudah sangat lemas, beberapa kali ia meringis menahan sakit, bukan karena benturan keras yang sempat ia dapat, melainkan badan bagian belakangnya yang tiba-tiba nyeri, pun kepalanya yang pening.
"Gue suka lo kaya gini," ucap Nadin sembari tertawa melihat wajah pucat Elisa yang menahan kesakitan.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Elisa, sampai bekas kemerahan itu terpampang jelas di sana.
"Denger! Jangan harap gue bakal diem aja, gue gak bakal biarin siapapun rebut Jay dari gue. Paham lo!"
Gadis yang sudah disulut api amarah itu beralih mengambil satu botol cairan. Ia berusaha membuat Elisa untuk meminum cairan itu dengan paksa, berkali-kali Elisa memberontak tapi hasilnya nihil, ketiga perempuan itu berhasil membuat Elisa meminum cairan di dalam botol sampai habis.
"Gimana? Enak 'kan?" Nadin dan kedua temannya hanya tertawa senang melihat Elisa yang terbatuk-batuk.
"Woy!"
Nampaknya tawa mereka harus pupus seketika, tatkala teriakan laki-laki menggema dan berdengung di telinga mereka. Raut wajah panik kini menghiasi paras ketiganya.
Laki-laki itu berlari cepat menghampiri Elisa yang hampir tak sadarkan diri. Ia bertumpu lutut dan menangkup pipi Elisa.
"Elisa ... sadar, ini gue."
Elisa sedikit membuka matanya, melihat samar seorang laki-laki di depannya dengan tatapan sayu.
"T–theo ... tolong gue, s—sakit." Lirihnya.
Laki-laki itu mengangguk, ia semakin panik ketika Elisa terus menerus meringis. Namun, detik selanjutnya, ia mengendus bau aneh dari Elisa. Jangan-jangan cairan yang ia lihat tadi adalah...
Ia beranjak, rahangnya semakin menutup, Theo segera mencengkeram kerah seragam Nadin.
"LO CEKOKKIN ELISA PAKE ALKOHOL, HUH?! ANJING LO!"
"L—lepas!" Nadin meraih lengan kekar Theo yang semakin memberi cekikkan di lehernya. Bahkan wajah gadis itu kian berubah memerah akibat pasokan oksigen di paru-parunya terhambat.
Theo menghempaskan cengkeramannya, napas laki-laki itu semakin menggebu, jari telunjuknya mengacung di depan wajah Nadin yang tengah meraup oksigen.
"Pergi lo! Kalo sampe terjadi sesuatu sama Elisa, gue gak bakal bikin lo hidup tenang. Ngerti lo!"
Nadin mengepalkan tangannya, menoleh dengan tatapan tajam Elisa yang sudah tertunduk. Ia menghentakkan kaki sebelum pergi melenggang dari sana, diikuti Linda dan Nina di belakang.
"Oh satu lagi." Nadin menghentikan langkah ketika Theo kembali bersuara. "Gue punya bukti video semua perbuatan lo sama Elisa. Jangan harap lo bisa macem-macem lagi."
Elisa sialan. Gue belum kalah.
Theo kembali menghampiri Elisa, cepat-cepat laki-laki itu membuka tali yang melilit tangan Elisa di belakang kursi.
"S—sakit...."
Ia mendekap tubuh gadis itu yang ia rasa sangat lemas. Jika saja Theo tak siap siaga, mungkin Elisa akan terjatuh ketika ikatan itu terlepas.
"Kita ke rumah sakit sekarang, ya?"
Elisa menggelengkan kepala. "Engga, gue gak mau."
"Tapi lo harus ke rumah sakit, Elisa."
Tak lama Elisa menjatuhkan kepalanya di pundak Theo, praktis membuat laki-laki itu kebingungan.
"El ... Elisa?"
Sialan! Gue gak bakal biarin siapapun sakitin lo, Elisa! Gue bakal kasih pelajaran orang yang udah bikin lo kaya gini!
__ADS_1