
Hari kian bergulir silih berganti, hingga saatnya acara kompetisi musik itu tiba tanpa terduga. Waktu memang secepat itu. Seorang anak laki-laki sudah siap dengan seragam putih abu yang akan membawanya menghadiri acara kompetisi sebagai peserta.
Atlanta terduduk di kursi meja belajarnya, sembari membaca pesan dari Elisa yang sudah berjalan sejak subuh, apalagi jika bukan saling mencurahkan suasana hati yang gugup ketika keduanya akan mengikuti kompetisi atas nama sekolah.
...ELISA 🌈...
Aku tremor banget, Ta
06.11
^^^Sama, hehe...^^^
^^^Tapi kita harus sama-sama tenang^^^
^^^06.11^^^
Iya, kalo kita gak menang gimana?
06.12
^^^Kamu harus optimis😊^^^
^^^Kamu kan sudah bekerja keras^^^
^^^06.12^^^
Hmm...iya
Aku cuma takut. Soalnya aku udah
janji sama Papa. Kalo aku kalah,
aku bakal dipindahin sekolah ke
London😭
06.13
^^^Aku bakal ada di samping kamu^^^
^^^Aku kan sudah janji^^^
^^^Kamu harus yakin kalo kita bakal^^^
^^^menang.^^^
^^^06.14^^^
Oke! Semangat💪
06.14
^^^Kamu sudah sarapan?^^^
^^^06.15^^^
Aku baru aja mau mandi, hehe
06.15
^^^😅^^^
^^^Ya sudah, sampai bertemu di sana^^^
^^^06.15^^^
Tepat setelah Atlanta mengirim pesan itu, suara ketukan pintu terdengar.
Tok ... tok
Cklek
"Ata...." Bi Mirna mencondongkan kepala ke dalam cerah pintu yang dibuatnya. Wanita itu tersenyum lembut ketika melihat Atlanta yang masih duduk di kursi meja belajar.
Ia beralih melangkah masuk ke dalam kamar Atlanta sembari membawa sepiring nasi dan segelas air minum untuk sarapan laki-laki itu.
__ADS_1
"Sarapan dulu sebelum berangkat," ucap Bi Mirna menyimpan sarapan Atlanta di atas meja belajar.
"Maaf, Bi, Ata merepotkan Bibi."
Bi Mirna mengibaskan tangan di udara. "Ah, gapapa. Bibi gak merasa direpotkan kok. Sekarang Ata sarapan dulu, biar kompetisinya lancar, Bibi berdoa semoga Ata sama temen Ata itu berhasil menang."
Atlanta mengangguk mantap, tersenyum menampilkan deretan gigi rapinya pada Bi Mirna. Wanita itu beralih menepuk pundak Atlanta.
"Habiskan ya. Bibi mau lanjut beres-beres lagi." Bi Mirna segera meninggalkan Atlanta di kamarnya.
Laki-laki itu masih memandangi sarapan paginya, di mana hanya ada telur mata sapi yang dibumbui kecap di atasnya. Bi Mirna memang sangat perhatian padanya, sudah menjadi kebiasaan laki-laki itu untuk sarapan dengan telur mata sapi ketika akan ujian sekolah, dan sepertinya Bi Mirna sangat paham dengan rasa gugup Atlanta akan menghadapi kompetisi yang tak jauh mendebarkan dengan ujian sekolah.
Atlanta segera memakan dan menghabiskan sarapannya yang sengaja dibuat oleh Bi Mirna. Tak membutuhkan banyak waktu, Atlanta sudah menyelesaikan sarapan paginya. Ia beranjak, mengaitkan tas ransel dan ke luar dari kamar sembari membawa piring serta gelas yang sempat dipakainya.
Laki-laki itu kini tengah mencuci piring dan gelas sebelum berangkat ke tempat acara kompetisi. Setelah selesai, ia segera pergi ke garasi, mengambil sepeda dan mencari Bi Mirna. Terlihat wanita itu sedang menyapu halaman depan. Atlanta menuntun sepeda menghampiri Bi Mirna.
"Eh, Ata. Mau berangkat sekarang?" ucapnya ketika menyadari kehadiran Atlanta.
Atlanta mengangguk, meraih tangan Bi Mirna dan mencium punggung tangan wanita itu dengan hormat.
"Ata berangkat dulu, Bi. Doakan Ata supaya dilancarkan."
"Aamiin, Bibi selalu doain Ata."
Atlanta kembali tersenyum, ia beralih menaiki sepedanya, dan mengayuh pedal meninggalkan pekarangan rumahnya.
Di jalanan yang masih sangat jarang dilalui kendaraan, Atlanta menarik napas dalam, merasakan udara sejuk tanpa polusi mengisi paru-parunya. Seulas senyum tercipta begitu saja di bibir manis Atlanta.
Tepat di pertigaan jalan, sayangnya Atlanta tidak hati-hati. Ia tidak sadar dengan sebuah mobil tengah melaju ke arahnya, dan....
Bruk!
Laki-laki itu terhempas, berguling-guling di atas aspal jalan ketika mobil berwarna merah menabraknya. Kejadian itu berlalu begitu cepat, Atlanta hanya bisa meringis sakit ketika lengannya yang lecet setelah bergesekan dengan aspal hitam jalan raya.
Dua orang yang ada di dalam mobil segera ke luar, menghampiri Atlanta yang meringkuk di jalanan lenggang. Atlanta menengadah pada dua pria dewasa bersetelan serba hitam berdiri menjulang di depannya. Bukannya membantu Atlanta, justru kedua pria itu beralih menarik kerah seragam Atlanta, membuat laki-laki itu cukup kesusahan berdiri karena kakinya juga terasa sangat sakit, alhasil lehernya seperti dicekik akibat tarikan paksa salah satu pria itu.
Keduanya menyunggingkan sebelah bibir. Rupanya mereka memang sengaja menabrak Atlanta.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Kembali dengan pukulan keras pria itu layangkan di tulang pipi Atlanta, alhasil anak laki-laki bersetelan seragam SMA itu kembali jatuh tersungkur.
Suara tawa kini menghiasi pendengaran Atlanta. Ia sudah sangat lemas, yang ia lakukan hanyalah memegangi area perut nyerinya. Sampai ia melihat tungkai pria itu hendak melayang, Atlanta memilih menutup mata, seperti sudah bersiap dengan rasa sakit yang mungkin akan diterimanya lagi.
"TOLONG! TOLONG! ADA PENGEROYOKAN! TOLONG!"
Niatnya untuk menghabisi Atlanta harus pupus seketika. Keduanya segera berlari panik memasuki mobil untuk melarikan diri, lalu tancap gas sebelum beberapa orang berlalu lalang di sana mengejar mereka.
Seorang anak berusia 15 tahunan berusaha berjalan cepat menggunakan tongkat kruk menghampiri Atlanta yang sudah terkulai lemas, pun ada warga sekitar yang mendengar teriakan anak itu lantas sama-sama menghampiri tempat kejadian.
"KAK ATA!" pekiknya tatkala melihat sosok laki-laki yang dikenalnya.
"Pak, tolong bantu kakak ini, saya mohon, antarkan ke rumah singgah di ujung jembatan itu, ya. Ini kakak saya," ucap anak itu kelewat panik.
Pria dewasa yang kala itu ada di tempat, segera memapah Atlanta untuk dilarikan ke rumah singgah yang untungnya tak jauh dari sana, sesuai permintaan Adin.
.......
.......
.......
Kesekian kalinya Elisa melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya dengan pandangan cemas. Bagaimana tidak, acara 10 menit lagi akan dimulai, dan Atlanta sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya di lokasi kompetisi yang seharusnya mereka berdua hadiri.
"Elisa, ini bagaimana? Atlanta belum datang juga," ucap Pak Haris-pembina ekskul musik- yang kala itu sama-sama panik karena anak didiknya tak kunjung datang.
"Sebentar, Pak. Saya coba hubungi lagi." Gadis itu kembali mengetikkan pesan untuk Atlanta. Namun sayangnya, laki-laki itu tak kunjung membalas atau menunjukkan pertanda online.
Keringat dingin kian menjalar di area tubuh gemetarnya. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada laki-laki itu? Elisa sangat khawatir, ia menggigiti kuku jarinya gelisah.
Atlanta, jangan bikin aku panik gini dong. Kamu di mana?
__ADS_1
"Pak Haris! Elisa!"
Keduanya kompak menoleh ke sumber suara, di mana dua orang laki-laki tengah berlari menghampiri mereka.
"Theo? Jay?" ucap Pak Haris. "Kalian kenapa datang ke sini?" tanyanya.
"Saya kan ketua ekskul musik, Pak. Masa saya gak datang ke acara penting seperti ini. Lagipula kelas kami sedang ada jam kosong, makanya kita berdua mau ke sini," jawab Theo seraya mengedarkan pandangan.
"Acaranya kapan dimulai, Pak?" tanya Jay seketika.
Pak Haris melirik arlojinya. "Kira-kira 7 menit lagi acara pembukaan."
"Si bi- Atlanta ke mana? Kok gak keliatan?" ujar laki-laki pemilik rahang tegas itu.
"Justru itu. Atlanta belum datang, Bapak khawatir kalau terjadi sesuatu sama dia."
Theo mengusap wajahnya kasar, menghempaskan napas pelan. Rupanya laki-laki itu memiliki perasaan yang sama-sama tengah dirasakan Pak Haris dan juga Elisa. Bagaimana kalau Atlanta tidak datang? Lantas siapa yang akan menggantikan posisi laki-laki itu. Tidak mungkin Elisa yang akan maju seorang diri, dia tahu betul kemampuan Atlanta dan ingin laki-laki itu mengerahkan potensi lalu membanggakan nama sekolah, tentunya nama baik ekskul musik.
"Elisa, lo udah coba hubungi dia?" tanya Theo.
Elisa mengangguk. "Udah, tapi gak aktif."
"Tes ... tes ... mohon perhatian. Kepada seluruh peserta kompetisi, acara akan dimulai 5 menit lagi. Dimohon para peserta yang masih ada di luar lapangan untuk segera mempersiapkan diri memasuki tempat yang sudah panitia siapkan. Terima kasih."
Terdengar pengumuman singkat dari pengeras suara di atas panggung, tentu hal itu semakin membuat siswa dari SMA Buana cemas bukan main, menunggu kedatangan Atlanta yang mereka harap akan segera muncul.
"Pak, biar saya aja yang gantikan Atlanta," ucap Jay yang secara otomatis membuat netra ketiganya membelalak terkejut.
"Jay! Lo jangan gila, ini bukan saatnya buat main-main," sahut Theo.
"Emang lo pikir gue lagi bercanda, huh? Gue serius. Lo gak denger acaranya 5 menit lagi? Lagian panitia di sana udah tutup gerbang depan, gak mungkin ada orang lain yang masuk lagi."
Theo mengacak rambutnya frustasi, sedangkan Elisa masih diam membeku memikirkan hal apa yang akan terjadi jika Atlanta tidak mengikuti kompetisi itu.
"Pak Haris, Bapak percaya kan sama saya. Dulu saya juga anggota ekskul musik. Saya akan berusaha semampu saya untuk kompetisi ini," ujar Jay meyakinkan.
Pria itu kian hanyut dalam pikiran, memang benar, dulu sewaktu Jay duduk di bangku kelas 1 SMA laki-laki itu sempat bergabung dengan ekskul musik, sebelum akhirnya Jay memutuskan ke luar dan memilih ikut ke ekskul basket. Tentu pria itu tidak meragukan kemampuan Jay, tapi apakah anak itu bisa melakukannya tanpa latihan terlebih dahulu? Yang benar saja, bahkan seorang musikus profesional pun perlu setidaknya latihan dan mempersiapkan diri sebelum menunjukkan bakat mereka.
"Jay, saya percaya sama kamu. Tapi apa kamu yakin?" kata Pak Haris, terdengar ada nada keraguan di sana.
Jay mengangguk. "Saya yakin, Pak."
"Elisa, apa kamu tidak masalah kalau Jay yang menggantikan posisi Atlanta sekarang?"
Gadis itu menatap satu per satu laki-laki yang ada di depannya, lalu mengangguk pelan. "Tidak masalah, Pak."
Mendengar itu, Jay langsung tersenyum miring. Ada perasaan bangga di dalam dirinya.
"Ya sudah, kalian duduk di sana. Bapak mau ke depan." Pak Haris menepuk bahu anak-anak muridnya, memberikan sedikit kekuatan untuk mereka, khususnya Elisa dan Jay.
Dalam duduknya, Elisa semakin gelisah, menundukkan kepala, melihat jemarinya yang saling bertautan gemetar. Seolah sudah tak peduli dengan acara yang tengah berlangsung.
Atlanta, kamu bohong. Kamu bilang bakal ada di samping aku.
Sebuah tangan tiba-tiba membuyarkan lamunan Elisa, ia menoleh, menampakkan Jay tengah tersenyum lembut padanya. Sentuhan tangan Jay di punggung tangannya kian membuat isi dadanya berpacu cepat, dia takut.
"Jangan khawatir. Aku bakal temenin kamu di sana."
"Selanjutnya, kita panggil ... Elisa Hauratama dan Jay Valendra, perwakilan dari SMA Buana."
Jay segera meraih tangan Elisa, membawa gadis itu ke atas panggung. Suara tepuk tangan kian menyeruak, semua peserta di sana tak mampu membungkam mulutnya, melihat bagaimana visualisasi dari murid SMA Buana yang mampu menghipnotis pandangan. Banyak di antara mereka yang segera mengarahkan kamera guna merekam pertunjukan yang akan keduanya lakukan.
"Elisa, kamu siap? Santai aja, aku ada di sini, buat kamu." Elisa semakin menatap lamat laki-laki di sampingnya, sebelum akhirnya ia mengangguk yakin dan mulai duduk di depan sebuah piano.
Hening. Semua orang di sana kian memfokuskan diri ke arah depan. Sampai dentingan piano terdengar yang dihasilkan oleh jemari Elisa, pun Jay yang tengah melihat deretan kunci not di depan semakin melebarkan senyum.
Gak sia-sia gue hapalin kunci not ini. Haha ... Atlanta, sekarang gue ada satu langkah di depan lo.
Elisa semakin hanyut dalam permainan, namun isi hatinya entah kenapa terasa sakit. Memikirkan momen bersama Atlanta ketika mereka berlatih piano berdua. Namun kali ini, ada seseorang yang menggantikan posisi Atlanta, Elisa menoleh ke arah Jay yang ada tepat di depannya, dengan piano yang berbeda, Jay terlihat sangat fokus dengan kunci not itu dan memainkannya dengan begitu sempurna.
Kamu bohong. Kamu jahat, Atlanta.
Satu tetes air mata terjatuh dari pelupuk. Permainan penuh rasa dari Elisa tak ayal membuat para penonton terharu. Tak pernah mereka mendengar melodi seindah itu, tak sedikit juga dari mereka yang menyeka bulir bening ketika alunan musik klasik itu terdengar menghiasi indera pendengaran.
Sampai dentingan berhenti, menandakan berakhirnya permaianan, Elisa dan Jay beranjak dari duduk, keduanya berdiri berdampingan lalu menundukkan kepala. Suara tepuk tangan meriah kian memenuhi arena outdoor itu, semua orang di sana berdiri dari duduk, memberi applause pada Elisa dan Jay yang sudah berhasil membuat mereka tersentuh.
__ADS_1
Namun, gadis itu merasa seolah tepuk tangan dari orang-orang bukanlah hal paling penting. Buktinya, atensi Elisa masih setia menelanjangi jajaran orang-orang yang ia harap Atlanta ada di sana, meski nyatanya laki-laki itu tidak ada.
Kamu bohong, kenapa kamu gak ada di samping aku. Aku benci sama kamu, Atlanta. Kamu jahat.